Skip to main content

Posts

Showing posts from 2019

HALAH...AKU SUDAH AMAN

Di sebuah arisan ibu-ibu BPJS (Bujet Pas-Pasan Jiwa Sosialita) seorang ibu yang duduk memangku tas - yang dia bilang baru beli di Singapur- berhadapan dengan seorang agen asuransi. Teman-temannya lagi sibuk negosiasi cicilan kerudung.

"Halah, Jeng...nggak usahlah repot nawarin asuransi buat aku, aku sudah aman. Suamiku sudah siapin semua buat aku dan anakku. Malah apartemen sudah dia beli atas namaku. Dia juga bilang mau hibahkan rumah dan kebon buat aku juga. Aku nggak butuh asuransi", Sergahnya galak dengan hidung dan dagu mendongak.

"Itu semua apartemen, rumah dan kebon kapan dibeli bu?", Tanya si agen asuransi.

"Ya pas kami udah nikahlah. Kan rejeki dia dari aku. Walaupun dia yang kerja, tapi kan aku yang mendukung dari rumah, sambil shopping dan arisan", Jawab si ibu BPJS .Ketahuilah ibu, ada tiga jenis harta dalam Perkawinan : Ada Harta Bawaan (dan yang mirip sama dia Harta Perolehan), Harta Bersama dan Polis Asuransi Jiwa sebagai Harta Ketiga.

Menurut …

JAWABAN CONTOH KASUS 4

Banyak pembaca buku saya yang bertanya, apakah jawaban contoh kasus 4 yang ada di buku "Hartamu bukan Hartamu", halaman 93. Baiklah saya akan coba jawab.

Contoh kasus ini jamak terjadi di masyarakat kita. Kira-kira kasusnya seperti ini :

Asset yang dimiliki Almarhum Bapak A dan Ibu C adalah sebuah rumah yang mereka tinggali sejak tahun 1990, deposito atas nama Bapak A sebesar Rp 250 juta, Reksadana dan Obligasi pemerintah sejumlah Rp 300 juta dan tiga buah kendaraan senilai Rp 450 juta. Apa hubungan Bapak A harus memiliki Asuransi Jiwa dengan Kasus di atas?

Dan detil struktur keluarganya ada dalam illustrasi.

Biasanya apa yang dilakukan di masyarakat kita (bahkan di keluarga yang sangat "relijiyes" sekalipun)?

Pertama, menunda pelaksanaan pembagian waris, menunggu asset cair atau terjual. Padahal Pembagian Waris harus dilakukan segera akan harta bisa secara akurat dibagi dan tidak ada saling memakan harta yang bukan haknya

Kedua, Ah sudahlah bagi rata aja, nggak usah pu…

HIDUP BUKAN IKLAN FUJI FILM

Menonton berita di tivi pagi ini, ada supporter ngamuk karena kesebelasan yang didukungnya kalah. Ada juga tawuran di Manggarai yang mengganggu jadwal kereta.

Di lini masa sosial media tak kalah seru. Mulai soal kecewanya pendukung capres yang kini jadi menhan, sampai perseteruan antara golongan pro dan kontra mas menteri mendiknas. Dari sekedar saling mencela, hingga sumpah serapah mengandung nama binatang komplit ada semua.

Maka, bagi yang sedang ramai-ramai banyak temannya : dia akan ngamuk di dunia nyata. Yang sendiri kesepian hanya ditemani gajet akan marah-marah di sosial media.

Kesebelasan kalah, capres tak terpilih atau mas menteri yang suka wefie hanyalah pemicu semata, semacam sumbu yang menunggu disulut.

Bila diibaratkan mercon : Kekecewaan para pengamuk (di dunia nyata dan dunia maya) itu sudah dikumpulkan bagai bubuk mesiu. Dan bubuk mesiunya adalah berbagai macam "kekalahan hidup", terutama kalah secara sosial-ekonomi.

Kenapa kekalahan hidup menjadi semacam mesiu me…

HALAMAN 28-29

Alhamdulillah, cetakan pertama buku "Hartamu bukan Hartamu" sudah ludes terkirim kepada para pemesan. Cetakan kedua sedang dalam proses, sehingga Bapak dan Ibu yang memesan selepas tanggal 10 Oktober mohon bersabar menunggu.

Ini ada sebuah kisah di belakang penerbitan buku ini. Dalam prosesnya, saya tak bisa melepaskan diri dari peran besar Desainer buku ini (Prishan Chaylissa) dan kang Eka Saepudin (pemilik SAE Printing). Dari awal, konsep buku ini akan dibuat berbeda dengan buku tentang Perencanaan Waris sebelumnya, yaitu sebagai "Infographics Book" artinya lebih banyak Info dalam bentuk gambar, ketimbang teks yang melelahkan.

Pembuatan illustrasi, bagan dan gambar inilah yang sebenarnya agak menyita waktu, tenaga dan pikiran. Karena kami ingin, buku tak hanya berguna bagi Agen Asuransi (yang notabene pernah -bahkan sering- belajar soal Perencanaan Waris) namun juga bagi nasabahnya yang awam.

Dalam pertemuan pembahasan desain final dua minggu lalu, kang Eka bilang…

CERITA DI BALIK BUKU

SUDAH JATUH, TERTIMPA EMBER

Dalam setiap kelas "Perencanaan Waris" yang saya isi, saya selalu menyampaikan bahwa setidaknya ada 7 kategori anak, yang berdampak pada tidak setiap kategori anak itu memiliki hak waris.

Salah satu aturan dalam KUHP yang DIUSULKAN diubah melalui R-KUHP adalah soal perzinaan. Mengapa saya perlu menulis ini, karena anak (hasil) dari perbuatan Zina ini memiliki masalah dalam Proses Waris.

Definisi Zina menurut KUHP (yang masih berlaku saat ini) adalah : adalah perbuatan persetubuhan yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang telah kawin dengan perempuan atau laki-laki yang bukan istri atau suaminya (Pasal 284, KUHP). Defini ini juga merujuk pada pasal 27 KUHPerdata, soal Perkawinan.

Jadi, syarat terjadi perzinaan adalah salah satu dari lelaki atau perempuan itu sudah menikah. Hal yang berbeda dengan definisi awam terkait zina. Dan definisi itu sudah berjalan sejak KUHP ini dipakai puluhan tahun lalu.

Saya mencoba mencari definisi zina ini di RKUHP, dan tidak menemukann…

MERTUA BERSASAK TINGGI

Ibu Ali sudah menikah dengan pak Ali nyaris tigapuluh tahun, dan sangat berduka saat pak Ali meninggal seminggu yang lalu.

Dua anak perempuan mereka datang dari rantau, menemani di rumah masa kecil mereka yang ditempati bu Ali (dan pak Ali sampai akhir hayatnya) hanya tiga hari, karena harus kembali ke kotanya, bekerja.

Hanya rumah sederhana, yang mungkin kalau dijual harganya tak lebih dari Rp 1 Miliar, yang ditinggalkan pak Ali. Tidak ada asset lain yang cukup bernilai ditinggalkan.

Empat hari setelah anak-anak pulang ke kotanya masing-masing, datang orangtua pak Ali (tepatnya Ibunya) bersama tiga adik lelaki pak Ali.


Ibu mertua bu Ali adalah tipe mantan istri pejabat masa lalu. Walau usianya sudah 70 tahunan, tapi masih gesit dan selalu tampil dengan rambut sasak tinggi. Sepertinya, saking berat sasak rambutnya, kelihatan kalau berjalan selalu agak mendongak, dagunya mencuat ke atas.

Adik pak Ali juga tipe anak yang bergantung pada (sisa) kekayaan dan kejayaan orang tua. Tak memliki pe…

DRAMA PAGI HARI

Antrian "check in" pesawat yang akan saya tumpangi dari Bali ke Jakarta pagi ini mengular. Hanya dibuka tiga loket pagi ini, padahal banyak penumpang mulai menggerutu menunggu dalam antrian cukup lama.

Tepat di depan saya berdiri tiga pasang suami istri, satu rombongan yang nampaknya baru pulang berwisata di Bali. Mereka berniat pulang entah kemana lengkap dengan bagasi yang banyak.

Alih-alih mempercayakan salah satu "wakil" dari rombongan untuk mengurus "check in" mereka memilih bergerombol di depan konter.

Mereka sibuk "mengganggu" petugas layanan check in dengan permintaan-permintaan khusus, seperti minta Bagasi dikelompokkan sendiri-sendiri dan berdebat untuk memperebutkan tempat di dekat jendela. Padahal jelas mereka datang dalam rombongan.

Selesai? Belum.

Tak berapa lama datang tiga pasang suami istri lain, membawa troli bagasi yang memaksa menerobos antrian. "Kami bagian dari rombongan itu",kata mereka. Maksudnya rombongan yang seda…

NASI SUDAH MENJADI KERAK

"Suami saya sudah membuat SURAT WASIAT yang menyatakan 90% harta akan menjadi milik saya saat dia meninggal dunia. Jadi kenapa musti pusing punya Asuransi segala?",Tanya seorang ibu dalam sesi tanya jawab Customer Gathering di Surabaya akhir bulan lalu. Kita tahu, bahwa hati manusia soal uang tak bisa ditebak. Kita sering melihat dalam berita, banyak orang yang kelihatan selalu tampil bak "calon ahli surga" dicokok KPK karena tertangkap tangan menerima suap. Pertanyaan ibu itu mengingatkan saya pada kisah ibu Bunga yang digugat oleh anak-anaknya, karena menerima Surat Wasiat dari almarhum suaminya atas 90% harta warisan suaminya. Ibu Bunga digugat oleh anaknya, dan Pengadilan memutuskan ibu Bunga untuk "mengembalikan" apa yang telah diterima dari (surat wasiat) atas harta waris suaminya kepada anak-anaknya. Ibu Bunga tidak mengetahui, bahwa ada batasan-batasan dalam pembuatan Surat Wasiat. Surat wasiat tidak boleh menyimpang dari asas penting Hukum waris…

SERENA WILLIAM

"Dengan menyadari bahwa kamu tidak memiliki segalanya, akan menghindarkanmu dari kehilangan segalanya", kata Patrick Mouratoglou, pada anak bimbingnya : Serena William. Juara puluhan kali Grand Slam, dua tahun lalu menjelang Miami Open dan Indian Open.

Artinya, kita harus sadar. Bahwa walaupun kaki kita sudah bisa berpijak di langit, kita pasti punya kelemahan. Punya hal yang tak tahu.

Mengetahui dan menyadari kelemahan bukan berarti membuat kita lemah, tapi justru menghindarkan kita dari kerugian yang tak perlu terjadi.

Minimal menghindarkan diri dari ditertawakan karena pernyataan yang justru menunjukkan kelemahan kita.

MEREDEFINISI MAKNA SUKSES

Barangkali memang benar kredo yang bilang bahwa Rezeki itu sudah diatur. Demikian juga kemarin.

Kemarin saya menghadiri acara MDRT Day di ICE-BSD. Ini adalah acara tahunan para agen asuransi yang sudah atau ingin menjadi anggota MDRT (Million Dollar Round Table), organisasi profesi elit agen asuransi se-dunia. Syaratnya memang tidak mudah, ada target tinggi yang harus dicapai. Alhamdulillah, dua tahun ini saya bisa mencapainya.

















Acara kemarin, selain menjadi ajang reuni dengan teman-teman satu profesi di seluruh Indonesia, juga menjadi ajang belajar dari para "living legend" di Industri Asuransi.  Salah satu pembicara di "Main Platform" acara kemarin itu adalah Dr. Sanjay Tolani. Semua pelaku industri asuransi di seluruh dunia, rasanya, pasti kenal dia.

Pria kelahiran tahun 1984 ini saya bilang "living legend", bukan semata karena prestasinya yang jauh melampaui standar industri, namun karena dia tak pelit berbagi ilmu.

Saya melihat kelebihannya adalah : mampu…

MEMBAYAR IURAN BUKAN MENABUNG

Saya "capture" gambar ini di sebuah forum diskusi, tentang seorang ibu yang merasa dirugikan karena sudah membayar iuran BPJS kesehatan namun tidak di-cover biaya perawatan giginya. Dibandingkanya iuran yang disetor dengan manfaat yang didapat.

Saya dulu pernah menulis bahwa BPJS Kesehatan adalah Jaminan Sosial berbasis iuran, mirip asuransi tapi bukan asuransi. Kok gitu?

Ya, cara kerjanya mirip. Peserta menyetor iuran, lalu iuran yang terkumpul dipakai untuk membantu peserta yang KEBETULAN terkena risiko sakit.

Bedanya, dalam asuransi ada pengelompokan (iuran) anggota berbasis kesamaan tingkat risiko para anggota tersebut berdasar kriteria umur, jenis kelamin, lokasi tinggal dan lain-lain. Itulah proses underwriting.

Sedangkan BPJS kesehatan tidak seketat itu prosesnya, karena sekali lagi, ini jaminan sosial. Maka prinsip "sama rasa, sama rata" yang dikedepankan. Yang mampu membantu yang lemah.  Sehingga, bagi orang yang terlanjur punya "standar tinggi", pel…

VITAL SIGN

Semenjak kejadian mobil mati mendadak di Bandung bulan lalu, saya memasang kelengkapan ini di mobil. Modalnya "dongle" yang dicolok ke port OBD II di mobil dan terhubung melalui bluetooth ke tablet ini.

Data yang terbaca di tablet ini adalah beberapa informasi tentang kondisi komponen mobil. Data itu disuplai oleh aneka rupa sensor ECU di mobil, sehingga saya bisa tahu apakah kondisi mobil sedang bermasalah atau baik-baik saja.








Data yang terbaca itulah "Vital Signs" mobil saya. Vital Sign secara harfiah bisa diartikan : Tanda-tanda penting.

Belum tentu 100% benar dan bisa dipercaya (karena bisa saja sensornya sedang error), tapi paling tidak dengan membaca data-data itu, ada perasaan "peace of mind" dalam hati : mobil "on track" atau ada yang perlu diperbaiki.

Dalam usaha atau bisnis juga sama. Kita perlu peka pada Vital Sign-nya. Biasanya paling gampang ya Omzet, Cashflow, Profit, dan Turn over SDM.

Ketika belajar bisnis dulu, s…

CERITA 19 EKOR SAPI

Dul Kemit, Dede dan Khomsul datang ke rumah pak Lurah sambil bersungut-sungut. Mereka mencari orang yang bisa menyelesaikan masalah mereka.

Pak Lurah menyambut mereka, dan tiga bersaudara ini menyampaikan masalahnya.

Ayah Dul Kemit, Dede dan Khomsul baru saja meninggal seminggu lalu. Ceritanya, almarhum ayah meninggalkan WASIAT bahwa 19 ekor sapi yang ditinggalkan dibagi untuk mereka bertiga dengan porsi : Dul Kemit 1/2 bagian, Dede 1/4 bagian dan Khomsul 1/5 bagian.

Pak Lurah pusing menghitung pembagiannya, karena pesan almarhum adalah saat membagi : sapi tidak boleh disembelih, dijual atau dikurangi. Untuk itu dia minta bantuan pak Bhabin dan Babinsa.
Lalu pak Bhabin bilang", Sapi ada 19. Mau dibagi untuk Anak pertama 1/2, anak kedua 1/4 dan anak ketiga 1/5 tanpa menyembelih, tanpa mengurangi".

Ketiga bersaudara itu menangguk-angguk. "Oke kalau begitu, supaya tidak berantem, saya akan sumbangkan satu ekor sapi milik saya untuk MENGGENAPKAN. …

AKU ORANG SIRKULASI. AKU TAHU, TAPI TEMPE

Karir saya di dunia "perkoranan" dulu dimulai dari Bagian Sirkulasi. Dan Sirkulasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari 14 tahun karir saya kemudian. Semacam mendarah daging.

Apa sih pekerjaan orang bagian Sirkulasi? Dia bertanggungjawab sejak koran keluar dari mesin cetak, memastikan koran terkirim ke semua jaringan penjualan dan pelanggan di seluruh Indonesia dalam waktu sama sebelum jam 6 pagi, dan siap ditagih oleh bagian keuangan. Bagian Sirkulasi berusaha jumlah koran yang dijual selalu besar, karena biaya untuk mencetak koran makin lama makin tinggi. Mereka dituntut harus kreatif menciptakan program penjualan, gimmick untuk pelanggan agar setoran uang tidak turun.

Tapi belakangan saya menyadari (setelah 10 tahun menjalani karier sebagai orang sirkulasi), bahwa di organisasi penerbitan koran : orang sirkulasi paling tahu soal lapangan penjualan koran tapi tak pernah (punya kesempatan untuk) membuat keputusan soal sirkulasi.

Ketika direksi berangkat dari rumahnya menu…

YANG KELIHATAN WAH, BELUM TENTU WAH ...

"Apa kesulitan yang kamu hadapi ketika usahamu sudah mulai jalan, Bas", tanya seorang teman yang baru saja "resign" dari kantornya.

Saya tunjukkan foto ini. Foto tahun 2008, ketika MISTERBLEK berusia dua tahun. Ini adalah foto ketika kami "cari duit" dengan cara ngamen dari satu event ke event lain. Dengan pengalaman di pekerjaan dulu ikut-ikut event, saya tahu triknya bagaimana caranya agar peserta dan penonton event bisa "dibuat" ngantri beli dagangan kita.

Laris manis, tanjung kimpul. Dagangan laris, duit ngumpul. Seneng? Pasti. Duitnya saya nikmati sendiri? Tidak. Ada karyawan yang ikut mengerjakan.

"Itulah tantangannya. Kalau kita punya usaha, semua-muanya kita mau lakukan sendiri -katanya- namanya serakah. Duitnya lari ke kita semua, tapi mungkin ya kurang berkah", Jelas saya.

Cobaan karena pengen "menguasai" sendiri : banyak.

Pertama, Karena takut menggaji orang (karena kalau menggaji orang, kita merasa duit bagian kita ber…

ISTRI HARUS PINTAR DAN BERDAYA

Ini bukan cerita saya, tapi cerita salah satu nasabah tim saya di BHR. Nampaknya cukup pantas untuk bisa kita tarik sebagai bahan pelajaran.

Setahun lalu, nasabah tim saya ini meninggal dunia, sebut saja namanya (Alm.) pak Joko Prabowo. Supaya mudah dan tak terlalu panjang, saya singkat pak Jepe.

Semasa hidupnya, pak Jepe adalah ayah dan suami yang bertanggungjawab, dia pekerja keras sepanjang hidupnya. Istri pak Jepe, sebut saya bu Mawar adalah ibu rumah tangga sejati. Sejak lulus kuliah, kemudian menikah dia memutuskan mendukung suaminya di "garis belakang".

Pak Jepe dan bu Mawar memiliki tiga orang anak. Dua orang anak perempuan yang sudah kuliah semester dua dan SMA kelas 3 serta "bonus" anak lelaki yang masih berusia lima tahun.

Pak Jepe selain pekerja keras juga termasuk suami yang "melek" keuangan. Literasi keuangannya termasuk oke. Walau istrinya sering menghalangi -menurut cerita tim saya- tapi "diam-diam" pak Jepe sudah menyiapkan Program…

TELANJANG

"Bas. Apakah sebagai Perencana Keuangan Keluarga, kamu sudah menjalani apa yang kamu omongkan?".

Itu pertanyaan paling jamak, yang sering diajukan oleh nasabah saya. Pertanyaan yang wajar. Karena makin banyak saja orang yang bisa bicara, bisa memberi saran namun belum tentu bisa menjalankan.

Maka saya ceritakan, kenapa saya sudah "nyaris telanjang" di sosial media.

Kata ketiga dalam "Perencanaan Keuangan Keluarga" adalah keluarga. Para nasabah dan teman yang (mau) berinteraksi dengan saya di sosial media saya pasti sudah tahu apa dan bagaimana, prinsip-prinsip kehidupan dan bahkan aktivitas keluarga saya.

Soal Perencanaan Keuangan, mungkin yang buat rajin baca, juga tahu bahwa saya bukan tipe "penumpuk" real asset seperti rumah, mobil karena situasi keluarga saya. Perencanaan Asset kami mengacu pada Perencanaan Waris sesuai situasi keluarga kami (pernah saya tulis di sini :http://www.basriadhi.com/2019/03/karena-hartaku-bukan-hartaku.html?m=1)

Kami s…

JURAGAN CIRENG

JURAGAN CIRENG "Mbak saya mau tutup asuransinya. Sayang duit buat bayar preminya. Saya mau nabung aja",kata tamu di depan saya, yang datang bersama istrinya menemui Staf Admin di BHR.
Staf saya, seperti biasa menanyakan alasan mengapa asuransi (kesehatannya) mau ditutup. Dan itu jawaban tamu itu.
Lalu saya dengarkan dialog setelahnya. Si Tamu ini rupanya Juragan Cireng, bagi yang belum tahu Cireng itu adalah nama makanan yang kepanjangannya : (tepung) aci digoreng. Dia dulu beli asuransi kesehatan karena "dipaksa" salah satu agen BHR. Istrinya tidak setuju, karena setiap bulan harus menyisihkan uang sejutaan untuk bayar premi.
Rupanya karena (istri) Juragan Cireng ini ngotot agar asuransinya ditutup, Staf Admin melakukan pengecekan di Sistem Admin.
"Bapak kemarin habis klaim ya, operasi apa pak di RS XXXXXXX. Ini klaim yang dibayar Rp 32jutaan",tanya Staf saya selepas mengecek sistem, sebagai bagian dari prosedur penutupan polis. Dengan tersipu Juragan C…

THE WIFE

Malam itu Joe Castleman gelisah dalam tidurnya, hingga Joan -istrinya-menegurnya agak tak banyak makan makanan manis sebelum tidur. Itu membuatnya susah tidur.

Tiba-tiba telepon berdering. Panitia Penghargaan Nobel mengabarkan, bahwa Joe berhak menerima Penghargaan Nobel karena salah satu novel yang ditulisnya dianggap sangat berpengaruh pada dunia sastra. Sebuah kabar yang mengejutkan, sekaligus menguak berbagai konflik sebuah keluarga yang nampaknya baik-baik saja.

Joan Archer adalah mahasiswi sastra berbakat, anak bimbing Joe, yang akhirnya dinikahi Joe setelah menceraikan istri pertama (yang dianggap) tak menghargai profesinya sebagai penulis.

Stockholm sedang dingin-dinginnya ketika pasangan ini bersama anak bungsu mereka tiba. Penghargaan Nobel yang prestisius ini akhirnya menghamburkan semua bara yang terpendam ketika Joan memilih meninggalkan ruangan acara dalam tangis.

Orang melihat Joe Castleman sebagai penulis hebat yang menghasilkan banyak tulisan berbobot, hebat  dan berpeng…

REZEKI SUDAH DITAKAR

Hari ini, Tuhan mengingatkan kembali pada konsep bahwa "Rezeki sudah ada takarannya".

Berangkat dari rumah, kami mau ke servis koper di daerah Cikini, dan lanjut meeting dengan calon nasabah di Pacific Place. Karena, dua janji itu kami berangkat lebih awal, jam 09.00. Supaya bila kena macetpun, kami tak terlambat.

Namun, jalanan hari ini bersahabat. Jagorawi sama sekali tak macet. Saya memutuskan keluar di Cawang, dan berniat lewat Kampung Melayu menuju Cikini.

Saya lupa, kalau plat mobil saya genap dan masuk ke jalur ganjil. Di perempatan BNN saya distop polisi. Pendek cerita saya musti mengeluarkan uang Rp 500.000,- untuk membereskan "keteledoran" yang tak perlu ini. Bayar denda tilang.

Sebelum kejadian ini, pas mau berangkat mudik dua minggu lalu, kami juga mengalami kejadian yang serupa : mengeluarkan uang ekstra di luar rencana.

Saat itu, untuk menghindari macet di Cikarang, saya sengaja keluar di pintu tol Cibatu menuju Jl Raya Kalimalang mengarah ke …

HEMAT PANGKAL KAYA?

Apakah rajin menabung akan membuat kita kaya, seperti kata pepatah jaman dahulu kala? Foto pertama saya ambil dari papan informasi sebuah bank swasta di Bogor, hari ini. Bunga deposito, jangka 12 bulan adalah 4,25%. Dikurangi PPh atas bunga deposito yang 20%, maka bunganya tinggal 3,40% Inflasi tahun 2018, menurut Bank Indonesia adalah 3,13%. Proyeksinya tahun 2019 tak akan jauh berubah. Jadi menabung di bank (tanpa menghitung biaya-biaya) dapat 3,40% tapi nilainya berkurang 3,13% karena inflasi. Bersih diterima nasabah 0,27% per TAHUN. Menabung itu memang hanya untuk aman, bukan berkembang. Seperti jagung. Kalau diletakkan di lumbung, dia akan aman. Kalau mau jagungnya berkembang, bertumbuh harus "diinvestasikan" di ladang. Demikian (sebagian) Prinsip Dasar Perencanaan Keuangan.

KISAH PAK ROBI

Siang itu cuaca seakan ikut berduka. Prosesi pemakaman sudah selesai, beberapa teman dan kerabat yang mengantar jenazah pak Robi (sebut saja namanya begitu) pulang meninggalkan pusara dan gundukan tanah merah kuburan baru itu. Istri dan tiga anak almarhum masih belum mau beranjak dari sana ketika datang seorang perempuang muda, sekitar 30-an tahun menggandeng seorang anak lelaki kecil. "Saya dinikah siri oleh pak Robi, dan ini anak beliau",kata perempuan (sebut saja istri muda) yang menjadi semacam geledek di cuaca mendung bagi istri dan anak-anak almarhum. Lalu hari-hari diisi dengan pertentangan harta waris almarhum, karena si istri muda menuntut hak waris atas anaknya.
Bisakah anak yang lahir dari pernikahan siri menuntut hak waris? Seorang istri yang dinikah secara siri, umumnya tidak memiliki dokumen sah yang diakui oleh negara. Seperti surat nikah, misalnya. Ketika anaknya lahir, anak hanya akan memiliki hubungan perdata dengan ibunya. Artinya, dia tak bisa m…

NAMANYA MURVEN

Bagaimana sosok seorang pemandu wisata yang biasa anda bayangkan atau pernah anda temui? Rata-rata menggambarkannya sebagai sosok yang ramah, kooperatif serta menurut pada kemauan tamu yang dibawanya.

Namanya Murven. Dia adalah pemandu wisata yang menemani kami selama 10 hari berkeliling Turki, tahun lalu. Dan dia adalah pemandu wisata yang mematahkan bayangan anda di atas.

Januari 2018 lalu, kami mendapat rezeki bisa berkeliling negara Turki. Berkeliling dalam arti yang sebenarnya, karena selama sepuluh hari kami setidaknya menyinggahi tujuh Provinsi yang ada di sana.

Mendarat di Istanbul yang berada di sisi Eropa, kami menjelajahi -mungkin separo- wilayah Turki di sisi Asia sejak dari Bursa yang masih bersalju tebal, Izmir yang terletak di tepi laut Aegea, Makam Maulana Jalalludin Rumi di Konya, berniat naik balon terbang tapi gagal di Cappadochia, menyaksikan Pesantren tertua di Turki di kota Amasya, serta pulang ke Istanbul melewati Ankara yang adalah ibu kota pemerintahan Turki.

DANA PEMBEBASAN HARTA

"Kan saya (sebagai istri) masih hidup, ngapain harta waris (dari almarhum suami saya) harus dibagi sekarang?", Demikian kata beberapa wanita dalam sesi Perencanaan Waris yang saya isi.

Terutama Hukum Waris Islam, persoalan Perencanaan Waris diatur sedemikian detil. Hingga ke porsi pembagiannya disebut satu per satu, termasuk kapan dan apa yang bisa dibagi. Dalam Al Quran tidak ada hukum yang diatur sedemukian detil sebagaimana Hukum Waris.

Tujuannya apa? Menyelamatkan Hak Anak Yatim.

Ketika seorang ayah meninggal dunia, maka kewajiban dia untuk menafkahi anak dan istrinya sudah selesai. Dengan harta yang ditinggalkannya, diharapkan perjalanan hidup anak-anak yang ditinggalkan bisa tetap berjalan.

Karena anaklah yang akan meneruskan misi orang tua, terutama terkait agama. Jangan sampai ketika ayahnya meninggal, mereka lantas menjadi fakir (dan atau miskin). Karena kefakiran itu dekat dengan kekufuran.

Itu mengapa bagian anak lebih besar dari bagian ibu atau kakek-nenek…