Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2017

SHARING KASUS HUKUM WARIS : CUCU YANG TERTINGGAL

Ini kisah saya kutip dari penuturan seorang teman. Terimakasih Uda Dedy Fizantino sudah mau berbagi cerita.

-----...

Seorang Ayah, sebut saja namanya pak A memiliki 2 orang anak, B dan C. Masing-masing anak memberi 2 orang cucu pada pak A.

B tinggal jauh di luar kota, sementara pak A yang sudah tua dan sakit-sakitan dirawat oleh C, istri dan anak-anaknya. Mereka tinggal di rumah pak A.

Umur orang tak ada yang bisa menghitung, karena suatu sebab C meninggal dunia, mendahului ayahnya. Tinggallah istri/janda C dan anak-anak di rumah pak A, dan tetap merawat pak A dengan setulus hati.

Tak lama setelah kematian C, pak A -selain karena memang sudah ajal, juga karena menanggung sedih yang dalam- meninggal dunia pula. Meninggalkan beberapa hektar sawah, rumah besar yang ditinggali istri C beserta anak-anak dan beberapa harta lain.

Segera setelah proses penguburan pak A selesai, berkumpullah keluarga untuk berbagi Harta Waris. Dan Istri serta anak (almarhum) C diminta angkat kaki dari rum…

MENULIS SENDIRI ITU KEREN

"Setiap bulan, minimal dua kali saya ke Singapura untuk keperluan Bisnis. Dan selalu menyempatkan sholat di Mesjid Kampung Glam. Kadang pas sholat jumat ...bla..bla...".

Seolah cerita yang diedarkan di grup whatsapp itu nyata, dialami sendiri oleh si pengirim, karena tak mencantumkan sumber. Ratusan, entah mungkin ribuan cerita yang sama beredar di grup Watsap, halaman fesbuk dan sosial media lainnya. Padahal cerita itu hanya "COPY PASTE" alias salin tempel. Dan saking ...semangatnya menyalin tempel "syi'ar" itu, sampai akhirnya cerita yang sama kembali ke grup whatsapp yang sama setelah seminggu atau dua minggu.

Kita (seolah-olah) bersikap kritis dan anti plagiasi pada anak kecil yang baru lulus SMA (yang sebenarnya hanya karena idenya berseberangan dengan ide kita). Tapi diam-diam kita mengagumi, melestarikan budaya salin tempel yang dilakukan orang-orang tua, teman-teman, bahkan para tokoh panutan yang kurang faham etika.

Tak berhenti sa…

MENGUBAH DUNIA DENGAN KATA-KATA

Ini oleh-oleh dari Penjurian "Program Mahasiwa Wirausaha" di IPB hari Sabtu lalu.
Seperti biasa, sebelum penjurian dimulai, kami -para juri- berkumpul untuk briefing, beberapa kangen-kangenan karena "kopdar" setahun sekali ini. Keresahan kami sama, adakah para peserta tahun sebelumnya, baik yang menang atau tidak, menjalankan benar-benar misi hidupnya sebagai wirausahawan? Jawabannya : Tidak. Kenapa?

Belakangan setelah melakukan penjurian pada peserta tahun 2017 ini saya menemukan salah satu jawabannya.

Kelompok ini kebagian presentasi pukul 11.30-12.00 dan mereka datang komplit, berempat. Ini adalah proposal mereka ke sekian setelah kami -mentornya - melakukan koreksi sana-sini. Mereka membuat usaha dengan merek "Manisan semi basah : Manggarica".

Perjalanan kelompok ini dimulai dari salah satu peserta yang berasal dari Indramayu. Dia melihat potensi buah mangga yang berlimpah, yang saking berlimpahnya hingga harga di petani nggak karu-karuan. Y…

WANITA LIMAPERENAM BAYA dan OJEK ONLINE

"Ngapain lah mas, suami saya harus punya asuransi. Kalau dia "duluan", warisannya kurang buat hidup, tinggal saya cari lagi. Yang tajir",kata ibu di depan saya, sudah tigaperempat baya disambut tawa riuh teman-teman arisannya. Guyonan yang serius.

Menurutnya, kalau warisan dari suaminya tak cukup untuk menghidupinya kelak kalau suaminya "duluan" penyelesaiannya tinggal cari suami lagi, yang lebih tajir dan mapan.
Lalu sodorkan berita dari web liputan 6 ini. Tentang dominasi wanita dalam hal penggunaan ojek online. Mereka bengong, kok arisan tiba-tiba materi pembicaraan dari tas mahal berubah ke ojek Online.

"Di riset yang dilakukan, dan dimuat di berita ini dibilang : Jumlah pengguna ojek online 69% wanita dan sisanya (31%) adalah pria", Jelas saya sok serius. Tiba-tiba suasana arisan senyap, makin bingung nampaknya.

"Mengapa wanita lebih menyukai ojek (dan taksi) online, dibanding moda transportasi lain?" Tanya saya. Masih sen…