Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2019

VITAL SIGN

Semenjak kejadian mobil mati mendadak di Bandung bulan lalu, saya memasang kelengkapan ini di mobil. Modalnya "dongle" yang dicolok ke port OBD II di mobil dan terhubung melalui bluetooth ke tablet ini.

Data yang terbaca di tablet ini adalah beberapa informasi tentang kondisi komponen mobil. Data itu disuplai oleh aneka rupa sensor ECU di mobil, sehingga saya bisa tahu apakah kondisi mobil sedang bermasalah atau baik-baik saja.








Data yang terbaca itulah "Vital Signs" mobil saya. Vital Sign secara harfiah bisa diartikan : Tanda-tanda penting.

Belum tentu 100% benar dan bisa dipercaya (karena bisa saja sensornya sedang error), tapi paling tidak dengan membaca data-data itu, ada perasaan "peace of mind" dalam hati : mobil "on track" atau ada yang perlu diperbaiki.

Dalam usaha atau bisnis juga sama. Kita perlu peka pada Vital Sign-nya. Biasanya paling gampang ya Omzet, Cashflow, Profit, dan Turn over SDM.

Ketika belajar bisnis dulu, s…

CERITA 19 EKOR SAPI

Dul Kemit, Dede dan Khomsul datang ke rumah pak Lurah sambil bersungut-sungut. Mereka mencari orang yang bisa menyelesaikan masalah mereka.

Pak Lurah menyambut mereka, dan tiga bersaudara ini menyampaikan masalahnya.

Ayah Dul Kemit, Dede dan Khomsul baru saja meninggal seminggu lalu. Ceritanya, almarhum ayah meninggalkan WASIAT bahwa 19 ekor sapi yang ditinggalkan dibagi untuk mereka bertiga dengan porsi : Dul Kemit 1/2 bagian, Dede 1/4 bagian dan Khomsul 1/5 bagian.

Pak Lurah pusing menghitung pembagiannya, karena pesan almarhum adalah saat membagi : sapi tidak boleh disembelih, dijual atau dikurangi. Untuk itu dia minta bantuan pak Bhabin dan Babinsa.
Lalu pak Bhabin bilang", Sapi ada 19. Mau dibagi untuk Anak pertama 1/2, anak kedua 1/4 dan anak ketiga 1/5 tanpa menyembelih, tanpa mengurangi".

Ketiga bersaudara itu menangguk-angguk. "Oke kalau begitu, supaya tidak berantem, saya akan sumbangkan satu ekor sapi milik saya untuk MENGGENAPKAN. …

AKU ORANG SIRKULASI. AKU TAHU, TAPI TEMPE

Karir saya di dunia "perkoranan" dulu dimulai dari Bagian Sirkulasi. Dan Sirkulasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari 14 tahun karir saya kemudian. Semacam mendarah daging.

Apa sih pekerjaan orang bagian Sirkulasi? Dia bertanggungjawab sejak koran keluar dari mesin cetak, memastikan koran terkirim ke semua jaringan penjualan dan pelanggan di seluruh Indonesia dalam waktu sama sebelum jam 6 pagi, dan siap ditagih oleh bagian keuangan. Bagian Sirkulasi berusaha jumlah koran yang dijual selalu besar, karena biaya untuk mencetak koran makin lama makin tinggi. Mereka dituntut harus kreatif menciptakan program penjualan, gimmick untuk pelanggan agar setoran uang tidak turun.


Tapi belakangan saya menyadari (setelah 10 tahun menjalani karier sebagai orang sirkulasi), bahwa di organisasi penerbitan koran : orang sirkulasi paling tahu soal lapangan penjualan koran tapi tak pernah (punya kesempatan untuk) membuat keputusan soal sirkulasi.

Ketika direksi berangkat dari rumahnya menuj…

YANG KELIHATAN WAH, BELUM TENTU WAH ...

"Apa kesulitan yang kamu hadapi ketika usahamu sudah mulai jalan, Bas", tanya seorang teman yang baru saja "resign" dari kantornya.

Saya tunjukkan foto ini. Foto tahun 2008, ketika MISTERBLEK berusia dua tahun. Ini adalah foto ketika kami "cari duit" dengan cara ngamen dari satu event ke event lain. Dengan pengalaman di pekerjaan dulu ikut-ikut event, saya tahu triknya bagaimana caranya agar peserta dan penonton event bisa "dibuat" ngantri beli dagangan kita.

Laris manis, tanjung kimpul. Dagangan laris, duit ngumpul. Seneng? Pasti. Duitnya saya nikmati sendiri? Tidak. Ada karyawan yang ikut mengerjakan.

"Itulah tantangannya. Kalau kita punya usaha, semua-muanya kita mau lakukan sendiri -katanya- namanya serakah. Duitnya lari ke kita semua, tapi mungkin ya kurang berkah", Jelas saya.

Cobaan karena pengen "menguasai" sendiri : banyak.

Pertama, Karena takut menggaji orang (karena kalau menggaji orang, kita merasa duit bagian kita ber…

ISTRI HARUS PINTAR DAN BERDAYA

Ini bukan cerita saya, tapi cerita salah satu nasabah tim saya di BHR. Nampaknya cukup pantas untuk bisa kita tarik sebagai bahan pelajaran.

Setahun lalu, nasabah tim saya ini meninggal dunia, sebut saja namanya (Alm.) pak Joko Prabowo. Supaya mudah dan tak terlalu panjang, saya singkat pak Jepe.

Semasa hidupnya, pak Jepe adalah ayah dan suami yang bertanggungjawab, dia pekerja keras sepanjang hidupnya. Istri pak Jepe, sebut saya bu Mawar adalah ibu rumah tangga sejati. Sejak lulus kuliah, kemudian menikah dia memutuskan mendukung suaminya di "garis belakang".

Pak Jepe dan bu Mawar memiliki tiga orang anak. Dua orang anak perempuan yang sudah kuliah semester dua dan SMA kelas 3 serta "bonus" anak lelaki yang masih berusia lima tahun.

Pak Jepe selain pekerja keras juga termasuk suami yang "melek" keuangan. Literasi keuangannya termasuk oke. Walau istrinya sering menghalangi -menurut cerita tim saya- tapi "diam-diam" pak Jepe sudah menyiapkan Program…

TELANJANG

"Bas. Apakah sebagai Perencana Keuangan Keluarga, kamu sudah menjalani apa yang kamu omongkan?".

Itu pertanyaan paling jamak, yang sering diajukan oleh nasabah saya. Pertanyaan yang wajar. Karena makin banyak saja orang yang bisa bicara, bisa memberi saran namun belum tentu bisa menjalankan.

Maka saya ceritakan, kenapa saya sudah "nyaris telanjang" di sosial media.

Kata ketiga dalam "Perencanaan Keuangan Keluarga" adalah keluarga. Para nasabah dan teman yang (mau) berinteraksi dengan saya di sosial media saya pasti sudah tahu apa dan bagaimana, prinsip-prinsip kehidupan dan bahkan aktivitas keluarga saya.

Soal Perencanaan Keuangan, mungkin yang buat rajin baca, juga tahu bahwa saya bukan tipe "penumpuk" real asset seperti rumah, mobil karena situasi keluarga saya. Perencanaan Asset kami mengacu pada Perencanaan Waris sesuai situasi keluarga kami (pernah saya tulis di sini :http://www.basriadhi.com/2019/03/karena-hartaku-bukan-hartaku.html?m=1)

Kami s…

JURAGAN CIRENG

JURAGAN CIRENG "Mbak saya mau tutup asuransinya. Sayang duit buat bayar preminya. Saya mau nabung aja",kata tamu di depan saya, yang datang bersama istrinya menemui Staf Admin di BHR.
Staf saya, seperti biasa menanyakan alasan mengapa asuransi (kesehatannya) mau ditutup. Dan itu jawaban tamu itu.
Lalu saya dengarkan dialog setelahnya. Si Tamu ini rupanya Juragan Cireng, bagi yang belum tahu Cireng itu adalah nama makanan yang kepanjangannya : (tepung) aci digoreng. Dia dulu beli asuransi kesehatan karena "dipaksa" salah satu agen BHR. Istrinya tidak setuju, karena setiap bulan harus menyisihkan uang sejutaan untuk bayar premi.
Rupanya karena (istri) Juragan Cireng ini ngotot agar asuransinya ditutup, Staf Admin melakukan pengecekan di Sistem Admin.
"Bapak kemarin habis klaim ya, operasi apa pak di RS XXXXXXX. Ini klaim yang dibayar Rp 32jutaan",tanya Staf saya selepas mengecek sistem, sebagai bagian dari prosedur penutupan polis. Dengan tersipu Juragan C…