Skip to main content

CERITA 19 EKOR SAPI


Dul Kemit, Dede dan Khomsul datang ke rumah pak Lurah sambil bersungut-sungut. Mereka mencari orang yang bisa menyelesaikan masalah mereka.

Pak Lurah menyambut mereka, dan tiga bersaudara ini menyampaikan masalahnya.

Ayah Dul Kemit, Dede dan Khomsul baru saja meninggal seminggu lalu. Ceritanya, almarhum ayah meninggalkan WASIAT bahwa 19 ekor sapi yang ditinggalkan dibagi untuk mereka bertiga dengan porsi : Dul Kemit 1/2 bagian, Dede 1/4 bagian dan Khomsul 1/5 bagian.

Pak Lurah pusing menghitung pembagiannya, karena pesan almarhum adalah saat membagi : sapi tidak boleh disembelih, dijual atau dikurangi. Untuk itu dia minta bantuan pak Bhabin dan Babinsa.
Lalu pak Bhabin bilang", Sapi ada 19. Mau dibagi untuk Anak pertama 1/2, anak kedua 1/4 dan anak ketiga 1/5 tanpa menyembelih, tanpa mengurangi".

Ketiga bersaudara itu menangguk-angguk. "Oke kalau begitu, supaya tidak berantem, saya akan sumbangkan satu ekor sapi milik saya untuk MENGGENAPKAN. Jadi sapi yang mau kalian bagi pas ada 20 ekor", Kata pak Bhabin yang disambut gembira tiga bersaudara itu.

Setelah sapi ada 20 ekor, maka dibagilah. Dul Kemit mendapat 10 ekor. Dede mendapat 5 ekor dan Khomsul -si bungsu- mendapat 4 ekor. Total 19 ekor.

Lho yang seekor sapi lagi? "Ya, balik lagi lah ke saya. Kan itu sapi saya", Kata pak Bhabin. Pembagian selesai, semua gembira.

Saya adalah "follower" channel yutub ini, channel Polisi Motret, dengan tokoh sentral seorang Bhabinkantibmas bernama Herman. Channel ini saya suka, selain karena settingnya di desa yang indah, juga ceritanya sederhana serta mendidik, cerita sehari-hari.

Kisah pak Bhabin membantu bagi-bagi waris ini diunggah tepat pada hari ulang tahun saya, 30 Juni lalu. Saat tulisan ini dibuat, video ini sudah ditonton oleh 1,2 jutaan viewer. Hebat,
Namun, kadang kita memang perlu riset untuk membuat sebuah karya seperti menulis atau menghasilkan video di Yutub.

Terlepas soal pesan-pesan baik dalam channel pak Bhabin, membagi waris sama rasa-sama rata sudah menjadi semacam "kebiasaan" yang dibenarkan. Tidak memahami dengan baik perbedaan Wasiat, Hibah dan Harta Warisan adalah pemicu konflik. Contohnya ya Dul Kemit, Dede dan Khomsul itu, bertikai karena pembagian sapi.

Dalam Hukum waris Islam, berlaku syarat Wasiat adalah tidak lebih dari 1/3 harta dan wasiat tidak boleh diberikan kepada ahli waris. Ahli waris bisa menerima wasiat bila SEMUA ahli waris lain menghendaki.

Dengan asumsi Almarhum tiga bersaudara ini kaya raya, memiliki harta yang jumlahnya minimal 3 x lipat nilai 19 ekor sapi : Bila ahli waris lain tidak menghendaki, maka Dul Kemit, Dede dan Khomsul tetap tidak bisa menerima wasiat itu. Karena di dalam (nilai) 19 ekor sapi itu ada hak ahili waris lain.
Dan ... mereka bertiga tak bisa membagi dalam 1/2, 1/4 dan 1/5 bagian hanya karena anak sulung, tengah dan bungsu. Karena ketiganya anak lelaki, maka sebenarnya bagian mereka sama rata.
Kalau 19 ekor sapi kan ganjil kalau dibagi 3 sama rata (asumsikan, sisa harta yang telah terbagi adalah 19 ekor sapi ini), maka saran saya sebagai Perencana Waris (Estate Planner) adalah : Ayah mereka (dulu) menyiapkan Uang Pertanggungan (UP) senilai dua ekor sapi. Sehingga ketika si ayah meninggal, klaim UP cair bisa dibelikan dua ekor sapi.

Sehingga total sapi menjadi 21 ekor, masing-masing kebagian 7 ekor sapi. Maka itulah salah satu fungsi produk Asuransi dalam perencanaan Waris : Menggenapkan. Karena di dunia nyata, sulit ditemukan pak Bhabin yang mau menyumbangkan sapinya untuk menggenapkan harta waris.
Selamat membagi waris dengan baik dan benar, bukan sekedar dengan kebiasaan, karena Hukum waris sudah diturunkan langsung dari langit.

Alam dan kejadian-kejadiannya selalu menjadi guru.

** Video pak Bhabin, bisa ditonton di sini :

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

APAKAH UNITLINK TERMASUK PAPER ASSET?

Tulisan ini sebenarnya hanya merespon postingan seorang perencana keuangan tentang kisah nasabahnya.

Alkisah, nasabahnya seorang lelaki yang penghasilannya (katakan) Rp 10 Miliar per tahun. Dengan gaya hidup yang konservatif, si nasabah baru sadar bahwa di akhir tahun tabungan dia hanya Rp 3 Miliar. Sisa uangnya kemana, padahal dia dugem enggak, travelling pribadi dalam batas wajar, makan mewah jarang banget ...

Lalu, perencana keuangan tersebut melakukan bedah perkara. Dari hasil bedah perkara, ditemukan beberapa sebab. Seperti dia terlalu mudah percaya pada orang, sehingga dengan mudah meminjamkan uangnya pada saudara atau teman dengan dalih modal usaha (yang akhirnya nggak balik lagi).

Namun, ada satu hal dari nasehat perencana keuangan itu yang menurut saya tidak pas. Yaitu : Menurut perencana keuangan itu, adalah keliru nasabah memiliki banyak unit link karena “investasi” di unit link itu justru menggerus uangnya.

Saya kira pendapat ini tidak pas, terutama soal pendapat “investa…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…