Skip to main content

Posts

Showing posts from 2020

PANTAT PANCI

Sejak mulai menyukai Kerja Dari Rumah, seperti cerita saya kemarin soal buku, karena banyak waktu tak terbuang : saya suka mencari-cari aneka macam tutorial di Yutub. Dari Tutorial editing (sampai jadi channel Yutub) sampai tutorial membersiahkan pantat panci yang gosong mengerak karena karbonnya lama tak dibersihkan.

Diam-diam tanpa sepengetahuan istri (niatnya mau menyenangkan hati dia) saya beli bahan-bahan untuk membersihkan, mengilatkan pantat panci yang kami miliki agar kinclong seperti baru.

Di tutorial yang diajarkan di Yutub, beberapa teknik yang diajarkan antara lain menggunakan asam sitrat dan cuka, ada pula yang menggunakan soda kue. Saya coba semua setelah saya catat dan hafalkan caranya.

Tiga hari saya berkutat di dapur, sampai istri saya marah-marah karena dapur bau kecut akibat cuka.

Setelah digosok sampai badan berkeringat (barangkali itu juga yang bikin dapur jadi makin bau kecut), percobaan pakai asam sitrat dan cuka berakhir gagal total. Demikian juga pakai soda kue. …

MAU NAMBAH WARUNG

Masih suka melihat ada yang teman yang "kritis" banget mempersoalkan hutang luar negeri, atau hutang kita ke luar negeri?

Baiklah saya mau cerita sedikit. Saya jualan kopi. Ada keinginan saya memperbesar usaha, katakan menambah jumlah outlet. Karena dengan menambah outlet, maka saya berpotensi menambah perputaran uang usaha (otomatis dampak ekonomi nambah) juga nambah karyawan... alias mengurangi pengangguran.

Tapi saya tak memiliki cukup uang atau modal untuk membangun -misalnya- 10 outlet sekaligus. Karena membangun 10 outlet langsung, dibandingkan dengan membangun 1 outlet kerepotannya sama tapi biaya per unitnya bisa lebih murah (karena borongan). Saya harus cari uang dari luar perputaran usaha saya.

Cara cari uangnya bisa dalam bentuk : jual (saham) kepemilikan, jual surat hutang atau pinjam ke pihak lain.

Jual saham, artinya mengurangi "kekuatan" saya mengatur usaha. Apalagi kalau ketemu pemodal besar yang siap ambil porsi besar. Saya belum siap.

Membuat sur…

REZEKI ITU MISTERI

Bagi yang sudah berteman lama dengan kami di fesbuk pasti sudah bisa membaca pola, bahwa setahun sekali (atas biaya sendiri) kami pasti travelling keluar Indonesia.

Dan itu hampir pasti kami lakukan setelah pertengahan Januari. Kenapa? Karena setiap tanggal 10 Januari kami menerima bonus tahunan dari perusahaan Asuransi tempat kami bekerjasama. Bonus yang jumlahnya cukup besar untuk ukuran kami.

Sebagai orang yang memegang prinsip "Lebih baik kelihatan tak punya apa-apa-tapi bisa ngapa-ngapain, ketimbang kelihatan segala punya-namun tak bisa ngapa-ngapain" maka alih-alih bonus dipakai buat beli ini-itu, uang bonus itu kami pakai buat jalan-jalan : membeli pengalaman. (Lihat video di channel Youtube Basri Adhi : Punya Uang, Habiskan!).

Tahun 2020 memang kami merencanakan pergi umroh sekeluarga. Tentu selain atas pertimbangan biaya (yang kami tutup dari bonus yang jatuh di pertengahan Januari), juga atas pertimbangan Diva -anak kedua saya- baru selesai Ujian akhir Sekolah bulan …

PENCARIAN sebelum PENCAIRAN

Inilah yang dalam materi kelas Perencanaan Waris saya sebut "Ada PENCARIAN sebelum PENCAIRAN".

Bapak dan Ibu punya rekening di bank (bahkan rekeningnya Joint Account) tetap tak bisa dicairkan oleh pasangan yang masih hidup tanpa ada Surat Keterangan Waris, Akta Waris hingga Surat Penetapan Waris.


Mau balik nama tanah dan bangunan warisan, juga sama. Mengurus saham, reksadana atau portfolio lain? Idem Dito.

Proses pencarian itu bisa lama atau lama banget tergantung banyak hal (diantaranya birokrasi, seperti surat pembaca ini).

Nah, ada instrumen yang selama ini tidak dilirik, justru tidak melewati proses Pencarian itu. Dia langsung cair, ketika seseorang yang sempat bikin perjanjian semasa hidupnya : meninggal dunia. Tidak perlu Pencarian sebelum Pencairan.

Perjanjian itu bernama Polis Asuransi Jiwa. Itu adalah Solusi Perencanaan Waris. Karena asuransi jiwa tak sekedar bicara sakit dan mati belaka...

Bagi yang sudah meninggal, urusan harta yang dia tak bisa bawa ke akherat :…

LEBAH dan BUNGA

Baru saja di National Geographics. Saya tak pernah belajar soal ilmu ke-serangga-an, terperangah mendengar cerita Mark "doctorbugs" Moffets, bahwa tenyata bukanlah lebah yang memilih bunga yang ingin disinggahinya hingga nanti menjadi madu. Ternyata sebaliknya, bunga-bunga tertentu memilih lebah jenis apa yang boleh singgah mengambil serbuk sarinya. Bunga mengirim sinyal untuk lebah yang dipilihnya.

Saya mulai berfikir, sepertinya rezeki kita juga begitu. Kita merasa sudah bekerja keras, hebat dan patriotik : tapi hidup seperti tak berubah, begitu-begitu saja.

Mungkin rezeki itu seperti bunga, dia hanya mengirim sinyal buat orang tertentu yang memang diberi jalan untuk menemukannya. Hanya saja, manusia tak mau gigih seperti lebah mencari sinyal rezeki - kebanyakan kita tak mau menemukan sinyal itu karena mungkin gengsi, malu, gampang nyaman, atau selalu "berfikir negatif".

Lebah tak menemukan kesia-siaan karena dia belajar. Belajar menemukan sinyal yang dipancarkan b…

CONTROL the CONTROLABLE

Tiga puluh tahun lalu (1990-1993) di sinilah tempat saya "melarikan diri" dari kamar kos yang sempit dan panas saat siang hari. AC nya dingin dan bukunya banyak (sekali). Inilah surga dunia. Sejak itu saya selalu memimpikan punya perpustakaan sendiri.

Hari ini saya datang bersama adik kelas, yang teman satu angkatannya saya opspek di danau LSI dekat perpustakaan ini.

Kami mengantar anak survey lokasi ujian masuk Perguruan Tinggi.

Dulu, uang SPP kami Rp 125ribu per semester. Kini uang kuliah mereka (di PTN) sekitar Rp6-8 juta per semester. Itulah Inflasi.

Dulu, kami tak perlu susah payah berjuang ikut ujian masuk, karena jalur penerimaan tanpa tes hanya berbekal nilai rapor. Sejak tahun ini selain nilai rapor, pemerintah mengutamakan anak dari keluarga tak mampu untuk diterima. Itulah Kompetisi.

Dulu, tak perlu ada jalur-jalur mandiri untuk masuk perguruan tinggi negeri. Sekarang boleh ikut seleksi masuk jalur mandiri, tapi harus siap minimal Rp25 - 80 jutaan untuk uang pangkalny…

EKOSISTEM

Kemarin malam, menjelang tidur saya menonton podcast Deddy Corbuzier dengan Jeffry Jouw (Jejouw) di Yutub. Tidak semua orang tahu Jejouw, kecuali para millenial dan kaum hypebeast.

Dari podcast itu saya makin yakin tentang definisi SUKSES yang saya percayai itu benar adanya.  Saya percaya sukses adalah ketika kita bisa meng-utilisasi segala potensi dalam diri kita, hingga kita bisa meraih "posisi" terbaik dalam hidup. Posisi apapun, sesuai visi kita.

Jejouw hidup dari "berjualan" barang-barang hype. Dari kaos sampai sepatu. Tapi bukan sembarang berjualan, dia "jualan pakai mikir".

Tadinya memulai semuanya dari hobby. Mendapatkan uang dari trading saham saat sejak dia SMA, dia mulai rajin mengeloksi sepatu-sepatu tertentu. Dalam proses mengoleksi itu, dia BELAJAR. Hal yang tak banyak orang mau lakukan.  Dia mempelajari perilaku orang soal barang (koleksi) dan melihat ceruk pasar di sana.

Setelah belajar dia melakukan EDUKASI. Dia mengajarkan, misalnya, bagaim…

AYAHKU BUKAN AYAHKU

Setelah enam angkatan/batch Kelas Terbuka Perencanaan Waris yang secara rutin saya helat setiap bulan, Alhamdulillah, saya bisa berada dalam enam grup watsap alumni kelas tersebut. Total member bila dijumlah sekitar 80-an orang dari berbagai perusahaan asuransi di Indonesia.

Hal yang menyenangkan adalah para alumni saling bertukar kasus di grup tersebut.

Dan ini salah satu kasusnya.

Mawar (sebut saja begitu) adalah anak perempuan dari Bapak Kumbang yang baru saja dimakamkan enam bulan lalu. Mawar merasa semasa hidup, ayahnya ayah yang baik, hidupnya "wajar" dan keluarga mereka bahagia-bahagia saja.

Ibunya, atau istri pak Kumbang, sebut saja bu Melati sosialita di kota mereka. Apa yang ditampilkan di depan publik, adalah selalu yang terbaik. Baju, tas, perhiasan... Semua. Bu Melati merasa itulah wujud cinta dan kompensasi waktu dari suaminya yang selalu sibuk bekerja bahkan hingga sabtu dan minggu.

Mawar bercerita, Silih berganti agen asuransi datang ke bu Melati, selalu ditolakn…

FANATIK BUTA

"Ah, aku baru tahu, ternyata si Fulan itu dari asuransi ABCDEF. Tahu gitu aku nggak follow dia. Perusahaan asuransi kita kan yang terbaik",Kata Mawar kepada Melati, dua-duanya agen asuransi JKLMNOP.

Teman-teman, bulan-bulan ini adalah bulan di perusahaan melaporkan Laporan Keuangannya ke Publik. Salah satunya adalah perusahaan asuransi.

Nah, salah satu cara melihat bagaimana sehat, besar atau amannya sebuah perusahaan asuransi ya bukan dari klaim semata, namun dari laporan keuangannya.

Apa yang harus dilihat pada laporan keuangan Perusahaan Asuranai Konvensional?

PERTAMA, Asset yang dikelola. Karena Asset yang dikelola menggambarkan banyaknya uang nasabah yang "dititipkan" pada perusahaan asuransi. Seperti diketahui, Premi yang dibayarkan oleh nasabah sebagian akan menjadi milik perusahaan asuransi (dalam.bentuk biaya-biaya) dan sisanya diinvestasikan sebagai "cadangan" uang nasabah.

Asset yang dikelola mulai dari ratusan juta sampai puluhan trilyun rupiah. M…

GEMBALA YANG BAHAGIA

Seperti biasa, lepas subuh bila sedang malas membaca buku, saya gunakan waktu untuk nonton tivi. Kali ini saya memilih menonton liputan dokumenter "Wild Shepherdess" oleh reporter Kate Humble (BBC) ke Koridor Wakhan, di sela pegunungan antara Afghanistan dan Tajikistan. Diapit Pegunungan Pamir di Utara dan Pegunungan Karakoram di Selatan.

Kate Humble, bagi yang suka nonton dokumentasi BBC, meliput kehidupan para penggembala di daerah-daerah sangat terpencil di dunia. Dia meliput hingga ke pojok terpencil negeri Peru selain ke Afghanistan.

Kate sendiri memutuskan meliput kehidupan para penggembala, karena dalam film dokumenternya yang pertama, dia sendiri memutuskan memilih menjadi peternak di pinggiran kota Wales, Inggris.

Liputan dibuat dalam 3 episode, dan saya menonton episode pertama dari tiga episode saat Kate mengunjungi masyarakat Wakhi. Para Wakhi sudah hidup ribuan tahun dalam tradisi beternak di pinggang gunung yang ganas karena hanya memiliki dua cuaca : dingin d…

BANYAK MEMBERI, BARU MEMINTA

Mas, setahun lalu aku ikut kelas Meningkatkan Penjualan melalui Media Sosial. Sudah aku ikutin, tapi kok omzet penjualanku nggak naik-naik ya”, Kata Fulan, seorang teman.

Saya buka halaman media sosialnya. Betul, dia banyak beriklan. Bahkan kalau saya lihat linimasa media sosialnya lebih mirip katalog belanja, karena isinya iklan semua. Nyaris tak ada informasi lain, selain pamflet, poster, flyer jualan produk.

“Di dunia ini berlaku Hukum Kekekalan Energi. Itu dulu kita pelajari pas sekolah dalam pelajaran Fisika”, jawab saya.

“Maksudnya, mas? Tanyanya bingung, karena jawaban saya nggak nyambung dengan pertanyaannya. Tanya jualan kok dijawab pelajaran fisika.

“Di dunia ini energi tidak hilang, hanya berubah bentuk. Berapapun energi energi yang kita keluarkan, akan kembali pada kita sebesar itu juga, namun mungkin dalam bentuk yang berbeda”, Jawab saya lagi. Sok bijak seperti biasa.

Dia makin bingung, kelihatannya.

“Ada tiga tipe orang beriklan di media (sosial)”, Sambung saya.

Pertama, dia …

MAU BUKA WARUNG BARU

Masih suka melihat ada yang teman yang "kritis" banget mempersoalkan hutang luar negeri, atau hutang kita ke luar negeri?

Baiklah saya mau cerita sedikit. Saya jualan kopi. Ada keinginan saya memperbesar usaha, katakan menambah jumlah outlet. Karena dengan menambah outlet, maka saya berpotensi menambah perputaran uang usaha (otomatis dampak ekonomi nambah) juga nambah karyawan... alias mengurangi pengangguran.

Tapi saya tak memiliki cukup uang atau modal untuk membangun -misalnya- 10 outlet sekaligus. Karena membangun 10 outlet langsung, dibandingkan dengan membangun 1 outlet kerepotannya sama tapi biaya per unitnya bisa lebih murah (karena borongan). Saya harus cari uang dari luar perputaran usaha saya.

Cara cari uangnya bisa dalam bentuk : jual (saham) kepemilikan, jual surat hutang atau pinjam ke pihak lain.

Jual saham, artinya mengurangi "kekuatan" saya mengatur usaha. Apalagi kalau ketemu pemodal besar yang siap ambil porsi besar. Saya belum siap.

Membuat surat hu…

INTERVIEW MARTABAK

Disarikan dari sebuah sesi interview daring, melalui Zoom.

"Oke, boleh ceritakan mengapa anda melamar ke lowongan yang saya buka di XXXXX.com", Tanya saya.

"Baik pak. Saya baru saja kena PHK karena perusahaan melakukan pengurangan karyawan. Saya tertarik karena saya sudah lihat di website, ini perusahaan besar", Jawabnya.

"Apakah pekerjaan ini akan sangat urgent buat anda?",Tanya saya lagi.

"Sangat pak. Karena suami juga sudah tiga bulan nganggur, perusahaan leasing tempat dia bekerja melakukan PHK besar-besaran", Jawabnya lagi.

"Tahukah anda, perusahaan yang anda maksud ini adalah perusahaan asuransi dan posisi yang anda lamar adalah sebagai agen asuransi", Tanya saya.

Wanita di seberang terdiam sejenak, dan tiba-tiba terdengar suara lelaki di sebelahnya ", Nggak usah diterusin Mih, ngapain jadi agen asuransi. Malu-maluin, malu sama tetangga". Eh, ada yang nguping rupanya...

Sesi interview selesai.

Betul, sebagai penggangguran juga …

INTERVIEW GETHUK

Ini juga dari sebuah sesi interview daring, melalui aplikasi Zoom. Saya rekam apa adanya.

"Seberapa penting tawaran kerjasama usaha sebagai Konsultan Waris dan Wakaf ini nantinya buat anda?", tanya saya, dan ini pertanyaan standar.

"Penting pak, saya sudah lama pengen punya usaha sendiri. Pas kondisi seperti ini (catatan : jobless alias nganggur), saya pengen mencoba tantangan baru. Tapi saya bicara sama istri saya dulu ya pak", katanya.

"Istri lagi ada di dekat anda, saya tak bisa nunggu lama", Jawab saya.

"Ada pak, sebentar saya ngobrol sama Istri saya",katanya. Hening sejenak di seberang sana.

"Pak, saya sudah ngobrol sama Istri. Istri saya keberatan, karena bisnis asuransi nggak ada bentuknya", Jawabnya.

"Oke mas, nggak masalah. Terimakasih", Saya tutup sesi Interview dengan sisa pertanyaan dalam hati ...

Sebenarnya orang mau berbisnis itu cari DUIT apa cari BENTUK sih?

BISNIS PENOLAKAN

T Tadi malam, saya diberikan kepercayaan oleh mantan atasan, sekaligus mentor : Ibu Maria Goretti Limi Xu mengisi sesi IG Live beliau. Kalau bicara Sales dan Marketing di dunia media massa, beliau termasuk salah satu “legend”, masternya master. Kami pernah satu kantor ketika di Seputar Indonesia, sekitar tahun 2005-2006.

Salah satu pertanyaan yang beliau ajukan adalah “,Ngapain nyemplung ke dunia asuransi jiwa (syariah), sebuah dunia bisnis yang penuh penolakan”.

Saya teringat salah satu tulisan di buku “Blink” yang ditulis oleh Malcolm Gladwell. Dia menulis soal Perilaku bernama “Priming”, yaitu perilaku memberikan “label” atau “stereotyping” berdasar suatu hal tertentu, misalnya Ras.

Kalau kita mendengar kata “orang Batak” maka berbeda bayangan kita bila disebut kata “orang Jawa” atau “orang Ambon”. Padahal perilaku asli orang per orangnya bisa jadi jauh dari karakter yang kita bayangkan. Orang Batak bisa lebih njawani dari orang Jawa, demikian sebaliknya misalnya.

Itulah Priming, sesua…

ATAS NAMA ILHAM

Saya tahu, tulisan ini tidak akan disukai semua orang, tapi saya harus berbicara atas nama Ilham.

Ya, namanya Ilham. Usianya 32 tahun (setidaknya itu pengakuannya). Dia menjalani "double job" untuk menghidupi istri dan dua anaknya yang masih balita. Pagi keliling dengan sepeda onthelnya menjual donat kentang, sore hingga menjelang maghrib melayani panggilan sebagai Tukang Pijat khusus untuk Bapak-bapak.

Saya adalah salah satu pelanggan Donat Kentang Ilham, terutama pas Sabtu-Minggu karena pagi hari masih ada di rumah.

Ilham adalah salah satu orang, diantara jutaan orang di negeri saya yang terdampak secara ekonomi oleh pandemi Covid. Dia tak bisa lagi memijit, jelas, karena aturan "social" serta "physical distancing".

Hari minggu lalu, pagi saat saya menyapu daun di halaman, Ilham lewat. "Masih tetep jualan, Ham?" Tanya saya.

"Masih, pak. Kalau nggak jualan saya makan apa. Lagi nggak ada order mijit", Jawabnya.
Saya putuskan membeli donatnya…

RIBA?

Selalu saja ada peserta yang bertanya, apakah Asuransi Jiwa mengandung unsur Riba?

Saya tak tergerak untuk ikut memperdebatkan, karena sebagian ulama masih ada yang berbeda pendapat.

Namun, saya mengambil jalan tengah. Mengikuti rekomendasi sebagian ulama, melalui Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) yang melegitimasi produk Asuransi Jiwa Syariah. Saya ikut rekomendasi DSN MUI karena saya sadar masih fakir ilmu.

Hal itu saya sampaikan saat berbagi "Asuransi sebagai Solusi Perencanaan Waris" di kantor FHI 360 Indonesia, kemarin.

Pointnya, jalankan hukum waris dengan benar, karena itu perintah langsung dari langit. Solusinya mau pakai produk asuransi jiwa, itu pilihan.

Saya tak mau larut dalam perdebatan tanpa ujung yang berakhir tanpa tindakan.

LUCINTA LUNA

Selalu saja ada cerita menarik pada tiap kelas yang saya isi.

Hari ini adalah hari pertama dari rangkaian tiga hari sesi sharing untuk program MDRT Promoter Financial Indonesia. Lusa di Surabaya, Jumat di Makassar.

Tadi salah satu peserta mengajukan pertanyaan yang menarik", Pak, bagaimana halnya dengan Lucinta dan 'suaminya' apakah bisa saling mewariskan dan mewarisi harta akibat hubungan pernikahan?".

Semua peserta tertawa mendengar pertanyaan ini, tapi ini menarik sebenarnya.

Saya balik bertanya ",Dilihat dari sisi Hukum Perdata apakah pernikahan Lucinta Luna dan 'suaminya' sah menurut KUH Perdata?

Pasal 27 KUH Perdata dengan jelas menyebut bahwa seorang LELAKI hanya boleh terikat dengan satu PEREMPUAN saja, demikian juga seorang PEREMPUAN hanya dengan seorang LELAKI.

Artinya, syarat terjadi pernikahan adalah antara LELAKI dan PEREMPUAN. Kendati Lucinta Luna di KTP adalah Perempuan, tapi -kabarnya- di paspor gendernya lelaki.

Maka syarat pernikahan yang sah…

SUAMI MENANG BANYAK

"Teh, tolong pesan ke suaminya, kalau memang mau ngerjain bikin lemari sepatunya besok, segera kerjain. Kalau nggak saya cari tukang lain", Kata saya pada Teh Nenih, asisten rumah tangga di rumah.

Teh Nenih sering curhat pada ibu mertua saya (oh ya, bagi yang belum tahu, ibu mertua sudah empat tahun ini ikut bareng kami). Dia mengeluhkan hidupnya yang "susah" sepulang dia dari Hongkong.

Tiga tahun lalu Teh Nenih memutuskan pulang ke kampung Paku, belakang kavlingan saya, dan tidak lagi mengambil kontrak setelah 12 tahun jadi TKW di Hongkong.

"Gaji yang saya kirim ke suami nggak jadi barang pak. Habis dia pakai untuk nongkrong sama teman-temannya", katanya. Lalu dengan sisa gaji yang dipegangnya, dia mulai membuka warung kelontong di rumahnya. Warung itu berakhir bangkrut, klasik, karena tidak jelas pencatatan modal dan untung. Nyampur-nyampur. Ditambah suaminya suami ambil rokok seenaknya tanpa bayar.

Suami Teh Nenih sebenarnya punya keahlian bertukang kayu.…

JANGAN SAMPAI

Saya adalah salah satu penikmat berita-berita soal selebritis. Menikmati dari sudut pandang bidang yang saya kuasai : perencanaan waris dan perencanaan asset.

Ada selebritis yang cerai kemudian nikah lagi, cerai nikah lagi jual asset lama beli asset baru, cerai lalu bagi-bagi harta tapi hartanya masih di bank hingga yang melakukan perjanjian pra nikah.

Tapi, khusus soal berita kematian satu selebritis ini, Ashraf -suami BCL- saya mencoba melihatnya dari sisi yang berbeda.

Saya membaca, mengikuti tayangan streaming serta melihat BCL dan Noah -anaknya- kelihatan sangat berduka, namun tegar tak menangis saat almarhum masuk dalam liang lahat di pemakaman San Diego Hills. Padahal tak sampai 24 jam sebelumnya, BCL masih bertemu dengan suaminya, menyanyi dan tertawa sebagai juri di Acara Idol.

Tahun 2006, saya 'kehilangan' Bapak saya. Saya ingat saat itu hari minggu, saya sedang mancing di depok bersama teman-teman Seputar Indonesia. Kami tertawa-tawa gembira, sebagaimana umumnya orang …

PETUGAS BERBAJU BIRU

Di toilet dekat Gerbang 14, seorang pegawai kebersihan sedang mengepel lantai yang akan saya lewati menuju wastafel. Di punggung seragam birunya tertera tulisan "Facility Care".

Ketika tahu saya mau lewat, dia menghentikan pekerjaannya. Sungkan saya melewati lantai yang sedang dia pel, saya melipir melewati pinggir menuju wastafel.

"Nggak apa-apa pak, diinjak saja. Nanti saya bersihkan lagi kalau kotor", Katanya ramah.

"Kalau tiap orang menginjak lantai yang masih basah karena lap pel, kapan mas beres kerjaannya", tanya saya sambil menghadap cermin di atas wastafel.

"Pekerjaan saya bukan diukur dari target beres atau nggak beres pak, saya hanya disuruh membersihkan lantai sepanjang shift saya", Jawabnya tetap sambil tersenyum dan berpegangan pada tiang ala t pelnya, memandangi saya yang sedang cuci tangan.

"Oh... Betah mas, kerja begini?", Cecar saya penasaran.

"Alhamdulillah pak, semua saya jalani dengna ikhlas. Kalau nanti ada rezeki …

MAAF, TIDAK JUALAN PRODUK

"Bas, kamu masih jadi "agen asuransi" nggak sih? Kok nggak pernah posting jualan produk (asuransi)?", Tanya seorang kawab yang kepo.

"Masih", jawabku.

Sejak dua tahun lalu, saya memutuskan mengambil jalan yang sepi : tidak menjual produk asuransi jiwa. Lho, katanya agen asuransi?

Ya, saya hanya "menjual" Manfaat Produk Asuransi Jiwa sebagai solusi atas Problem Perencanaan Waris. Saya bilang "Problem" karena memang literasi soal hukum waris di Indonesia masih sangat rendah

"Ah, bagi-bagi rata aja yang penting semua hepi. Nggak akan ada sengketa", Begitu dalihnya.

Mungkin sengketa tidak ada, mungkin. Tapi dosanya pasti ada, lha perintahnya dari langit sangat jelas.

Maka, karena saya tak menjual Produk, saya tak pernah kampanye perihal produk (dan harga). Karena semua produk asuransi jiwa, dari perusahaan asuransi jiwa manapun asalkan ada manfaat bernama "Uang Pertanggungan" bisa menjadi solusi.

Jadi mengapa saya musti sibuk…

CERITA KAPUR TULIS

Ini kejadian sudah lama banget, jaman SMA. Saya dapat cerita ini dari guru BP saat sudah kelas 3, sudah mau lulus-lulusan.

"Kelas II IPX-X (adik kelas, dong) sering banget minta kapur tulis ke kantor guru. Kata ketua kelasnya karena memang habis terpakai", Kata beliau.

Sering anak-anak kelas itu protes, karena guru tak mengeluarkan jatah kapur, saking seringnya mereka minta. Kadang karena suplai kapur dikurangi bahkan di stop, mereka terpaksa harus minta-minta ke kelas sebelah... Dan si ketua kelas tak bergeming, tak bisa melakukan apa-apa.

Tentu guru-guru mulai curiga, karena pemakaian rata-rata kapur tulis di kelas itu dua kali pemakaian normal di kelas lainnya. Hingga rapat sekolah memutuskan : pak guru BP jadi detektif. Dan investigasi mulai digelar.

Kecurigaan mengerucut pada si ketua kelas. Penampilan anak ini kalem, santun, wajahnya juga nggak bisa dibilang jelek. Ganteng dan pinterlah.

Pak Guru BP beberapa kali mengikuti si ketua kelas paska jam pelajaran, menuju ke ruma…

MENGGAULI SOSIAL MEDIA

Saya hanya mencoba memberi saran, sesuai bidang pekerjaan yang dulu saya geluti : menggauli media.

Sejak sering berkeliling, bertemu dengan banyak teman satu profesi di industri asuransi, saya jadi banyak mendapat teman baru... Terutama di fesbuk.

Saya senang memperhatikan dan mengamati postingan teman-teman semua, karena dari sanalah saya banyak belajar. Hasil belajar itu yang kemudian diolah untuk menjadi materi sharing berikutnya.

Dari berbagai macam postingan, saya mengamati ada beberapa teman yang selalu posting tentang produk (bahkan tidak tanggung-tanggung, yamg diposting adalah materi training atau kelas produk) dengan berbagai istilah teknisnya : Premi, Tertanggung, UP, Penyakit Kritis, Rider, Link... Dan sebagainya.

Bayangkan, anda adalah pembaca postingan itu (posisi dibalik). Anda adalah orang awam yang tidak pernah bersentuhan dengan kelas produk asuransi, asing dengan istilah-istilahnya. Sebagai pembaca yang awam apa yang kira-kira ada dalam benak anda ketika membaca istila…

NAMANYA UNTUNG

Namanya Untung, usia 12 tahun namun nasibnya tak sebaik namanya yang untung itu. Ayahnya meninggal saat Untung masih dalam kandungan, overdosis.

Ibunya Untung setali tiga uang dengan almarhum suaminya, kecanduan narkoba dalam taraf yang akut. Hingga kadang untuk memenuhi keinginannya mengkonsumsi obat, si Ibu mencuri (atau mengutil) barang di toko. Tiga empat kali berurusan dengan polisi, dan mertuanya - kakek si Untung- yang terpaksa turun tangan membantu "membereskan" urusan dengan polisi.

Ketika saya bertemu dengan kakeknya Untung, masalahnya belum selesai di sana.

Kakeknya Untung adalah pengusaha yang sukses. Hartanya banyak hasil dari ketekunannya mengelola empat bengkel motor di kota X. Anak si kakek tiga orang, dua perempuan dan bungsu lelaki : ayah si Untung.

"Saya risau dengan apa yang mungkin akan terjadi saat nanti saya meninggal nanti, nak Basri", Kata si kakek. Anda pasti sudah bisa menebak kemana arahnya... Ya, soal warisan.

Hubungan Ibu Untung dengan kak…

CERITA BAPAK DARI GERBANG BIRU

Susah payah tiap hari mengukur jalanan, presentasi, jualan... hanyalah untuk ini.

Menunjukkan pada mereka bahwa para pendahulu mereka memiliki jejak peradaban yang luar biasa.  Masjid ini sudah digunakan sejak tahun 1616, dan memiliki enam minaret yang berdiri karena Mehmet Aga -sang Arsitek- salah dengar. Sultan Ahmet -sang penggagas - minta minaret dengan puncak emas (alten), terdengar oleh sang Arsitek "alte" yang artinya enam.

Sultan Ahmet memilih membangun masjid yang sangat megah, untuk menandingi Hagia Sophia di seberangnya, gereja yang sempat menjadi Pusat Keuskupan Romawi Timur selama 1000 tahun lamanya.

Pelajarannya : membangun yang lebih baik, bukan menghancurkan milik orang lain

Masjid yang usianya sudah empat abad ini tak ada semut, kecoa dan laba-laba hidup di dalamnya. Bersih. "hanya" karena telor burung onta. Bukan bangga bisa minum kencing onta.

Maka anak-anak terkagum mendengarnya. Nenek moyang mereka hebat sekali rupanya. Dan jejak kejayaan itu merek…

KELUARGA ATAU TEAM?

"Dari Bogor jam berapa?",demikian teman-teman selalu bertanya kalau kami ada "meeting" di Jakarta. Kadang-kadang satu setengah jam, kadang bisa tiga jam. Jadi mengukur jarak memakai waktu tempuh.

Kemarin kami blusukan dari Osaka ke Kyoto, setelah sebelumnya kami menjelajah dari Tokyo ke kota Kanazawa, Toyama dan dusun bersejarah Shirakawago.

Jarak dari Kanazawa ke Osaka sekitar 390 kilometer, dengan kereta cepat Shinkasen, cukup ditempuh tiga jam. Osaka ke Kyoto, setara jarak dari rumah saya ke Cawang (54 kilometer), cukup 15 menit saja.

Naik turun kereta, menyeret-nyeret koper tentu lumayan repot. Tapi tunggu, ini di Jepang. Petunjuk jalan sangat jelas, semua serba teratur dan antri, membuat kerepotan banyak tereduksi.

Ketepatan kedatangan kereta tepat sampai hitungan menit. Bermodal JR Pass dan Suica (semacam octopus di Hongkong, atau e-money di kampung saya) kami leluasa blusukan ke stasiun yang kadang saking besarnya sampai ada 5 susun, dengan tiap susun memiliki …