Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2017

Bukan Kiswinar. Bukan Machicha. Ibu Andi dan Pak Uda

Ini sedikit kisah sederhana saja. Soal yang beberapa kali terjadi, soal waris-mewaris.
Pak Uda, asli Minang menikah dengan bu Andi yang orang Bugis. Pak Uda dan bu Andi (kelihatan) bahagia dengan pernikahan mereka, apalagi setelah hadirnya dua anak buah cinta mereka : Budi dan Ani.

Bisnis pak Uda makin maju. Apartemen dan Rukonya tersebar di mana-mana.
Tapi, mungkin itulah godaan kaum lelaki. Tanpa sepengetahuan bu Andi, pak Uda terpikat, dan belakangan menikah siri dengan si Iteung. Dari pernikahan sirinya dengan si Iteung, lahirlah Asep. Dunia masih damai sejahtera.

Suatu kali, pak Uda mau mengembangkan bisninya, dan mengajukan pinjaman modal ke Bank serta meng-agunkan-kan tiga buah rukonya pada bank. Dan karena pinjamannya tersebut, Bank mensyaratkan pak Uda memiliki Polis Asuransi Jiwa (terkait kredit Itu), dengan Penerima Manfaat (Beneficiary) 50% bu Andi (istri sah), 25% Ani dan 25% Budi.

Namun, namanya umur tak ada yang bisa menyangka panjangnya. Setahun kurang d…

Benar, Tapi Tidak Lengkap

"Bas, aku dikirimi tabel ini sama agen asuransiku. Ini informasinya bener apa enggak. Trus gimana cara bacanya",Kata teman, sekaligus nasabah yang memiliki beberapa polis Asuransi Unit Link pada saya, tadi pagi.

Bagi yang baru dengar istilah Unit Link, baiklah saya ceritakan sedikit. Unit Link adalah Produk yang menggabungkan Fitur Proteksi (dari Asuransi) dan Fitur I...nvestasi (dari produk Reksadana).

Ada yang suka bertanya,"Ngapain beli Reksadana perusahaan asuransi. Kan selain Asuransinya bisa dibeli terpisah, juga ada biaya yang bikin Investasi kita lama berkembangnya".

Pertanyaan itu jawabannya sederhana. Beli "Reksadana" dalam bentuk Unit Link diproteksi oleh Fitur bernama "Waiver of Premium". Dimana kalau terjadi resiko sama yang berinvestasi, maka Perusahaan Asuransi yang akan meneruskan investasinya. Fitur itu tidak dimiliki oleh produk Reksadana Murni.

Kembali ke pertanyaan nasabah saya di atas. Informasi dalam tabel itu BE…

Menertawakan Masa Lalu

Jaman Pak Karno sampai di akhir hayatnya saya baru Balita. Nggak ngerti dan nggak ingat apa-apa.

Jaman Pak Harto bisa kuliah murah, kerja pertama jempol kaki bengkak diinjak sepatu Lars Paspamres gara-gara nganterin koran ke Cendana pake Sandal dan hampir jadi Tapol gara-gara cover majalah tempatku bekerja.

Jaman Megawati dan Gus Dur nyaris tak ada bedanya, masih harus piket, tidur beralas kertas koran di percetakan. Mau nyoba beternak bebek, berakhir bangkrut dengan utang KTA puluhan juta.

Jaman SBY, merintis jadi tukang kopi. Diketawain teman-teman lama. "GM kok jualan di emperan ruko, belanja selada di pasar",katanya. Tapi kopi bahan ketawaan ini sudah berkelana keliling Indonesia.

Jaman Jokowi malah jadi agen asuransi. Makin keras suara yang ketawa. Walau yang ketawa kebanyakan hidupnya juga disitu-situ saja : ngedumel nggak selesai-selesai di social media karena tak terpilihnya calon presiden mereka.

Hidup memang bukan soal Sukarno, Suharto, Jokowi,…