Skip to main content

Posts

HALAH...AKU SUDAH AMAN

Di sebuah arisan ibu-ibu BPJS (Bujet Pas-Pasan Jiwa Sosialita) seorang ibu yang duduk memangku tas - yang dia bilang baru beli di Singapur- berhadapan dengan seorang agen asuransi. Teman-temannya lagi sibuk negosiasi cicilan kerudung.

"Halah, Jeng...nggak usahlah repot nawarin asuransi buat aku, aku sudah aman. Suamiku sudah siapin semua buat aku dan anakku. Malah apartemen sudah dia beli atas namaku. Dia juga bilang mau hibahkan rumah dan kebon buat aku juga. Aku nggak butuh asuransi", Sergahnya galak dengan hidung dan dagu mendongak.

"Itu semua apartemen, rumah dan kebon kapan dibeli bu?", Tanya si agen asuransi.

"Ya pas kami udah nikahlah. Kan rejeki dia dari aku. Walaupun dia yang kerja, tapi kan aku yang mendukung dari rumah, sambil shopping dan arisan", Jawab si ibu BPJS .Ketahuilah ibu, ada tiga jenis harta dalam Perkawinan : Ada Harta Bawaan (dan yang mirip sama dia Harta Perolehan), Harta Bersama dan Polis Asuransi Jiwa sebagai Harta Ketiga.

Menurut …
Recent posts

JAWABAN CONTOH KASUS 4

Banyak pembaca buku saya yang bertanya, apakah jawaban contoh kasus 4 yang ada di buku "Hartamu bukan Hartamu", halaman 93. Baiklah saya akan coba jawab.

Contoh kasus ini jamak terjadi di masyarakat kita. Kira-kira kasusnya seperti ini :

Asset yang dimiliki Almarhum Bapak A dan Ibu C adalah sebuah rumah yang mereka tinggali sejak tahun 1990, deposito atas nama Bapak A sebesar Rp 250 juta, Reksadana dan Obligasi pemerintah sejumlah Rp 300 juta dan tiga buah kendaraan senilai Rp 450 juta. Apa hubungan Bapak A harus memiliki Asuransi Jiwa dengan Kasus di atas?

Dan detil struktur keluarganya ada dalam illustrasi.

Biasanya apa yang dilakukan di masyarakat kita (bahkan di keluarga yang sangat "relijiyes" sekalipun)?

Pertama, menunda pelaksanaan pembagian waris, menunggu asset cair atau terjual. Padahal Pembagian Waris harus dilakukan segera akan harta bisa secara akurat dibagi dan tidak ada saling memakan harta yang bukan haknya

Kedua, Ah sudahlah bagi rata aja, nggak usah pu…

HIDUP BUKAN IKLAN FUJI FILM

Menonton berita di tivi pagi ini, ada supporter ngamuk karena kesebelasan yang didukungnya kalah. Ada juga tawuran di Manggarai yang mengganggu jadwal kereta.

Di lini masa sosial media tak kalah seru. Mulai soal kecewanya pendukung capres yang kini jadi menhan, sampai perseteruan antara golongan pro dan kontra mas menteri mendiknas. Dari sekedar saling mencela, hingga sumpah serapah mengandung nama binatang komplit ada semua.

Maka, bagi yang sedang ramai-ramai banyak temannya : dia akan ngamuk di dunia nyata. Yang sendiri kesepian hanya ditemani gajet akan marah-marah di sosial media.

Kesebelasan kalah, capres tak terpilih atau mas menteri yang suka wefie hanyalah pemicu semata, semacam sumbu yang menunggu disulut.

Bila diibaratkan mercon : Kekecewaan para pengamuk (di dunia nyata dan dunia maya) itu sudah dikumpulkan bagai bubuk mesiu. Dan bubuk mesiunya adalah berbagai macam "kekalahan hidup", terutama kalah secara sosial-ekonomi.

Kenapa kekalahan hidup menjadi semacam mesiu me…

HALAMAN 28-29

Alhamdulillah, cetakan pertama buku "Hartamu bukan Hartamu" sudah ludes terkirim kepada para pemesan. Cetakan kedua sedang dalam proses, sehingga Bapak dan Ibu yang memesan selepas tanggal 10 Oktober mohon bersabar menunggu.

Ini ada sebuah kisah di belakang penerbitan buku ini. Dalam prosesnya, saya tak bisa melepaskan diri dari peran besar Desainer buku ini (Prishan Chaylissa) dan kang Eka Saepudin (pemilik SAE Printing). Dari awal, konsep buku ini akan dibuat berbeda dengan buku tentang Perencanaan Waris sebelumnya, yaitu sebagai "Infographics Book" artinya lebih banyak Info dalam bentuk gambar, ketimbang teks yang melelahkan.

Pembuatan illustrasi, bagan dan gambar inilah yang sebenarnya agak menyita waktu, tenaga dan pikiran. Karena kami ingin, buku tak hanya berguna bagi Agen Asuransi (yang notabene pernah -bahkan sering- belajar soal Perencanaan Waris) namun juga bagi nasabahnya yang awam.

Dalam pertemuan pembahasan desain final dua minggu lalu, kang Eka bilang…

CERITA DI BALIK BUKU

SUDAH JATUH, TERTIMPA EMBER

Dalam setiap kelas "Perencanaan Waris" yang saya isi, saya selalu menyampaikan bahwa setidaknya ada 7 kategori anak, yang berdampak pada tidak setiap kategori anak itu memiliki hak waris.

Salah satu aturan dalam KUHP yang DIUSULKAN diubah melalui R-KUHP adalah soal perzinaan. Mengapa saya perlu menulis ini, karena anak (hasil) dari perbuatan Zina ini memiliki masalah dalam Proses Waris.

Definisi Zina menurut KUHP (yang masih berlaku saat ini) adalah : adalah perbuatan persetubuhan yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang telah kawin dengan perempuan atau laki-laki yang bukan istri atau suaminya (Pasal 284, KUHP). Defini ini juga merujuk pada pasal 27 KUHPerdata, soal Perkawinan.

Jadi, syarat terjadi perzinaan adalah salah satu dari lelaki atau perempuan itu sudah menikah. Hal yang berbeda dengan definisi awam terkait zina. Dan definisi itu sudah berjalan sejak KUHP ini dipakai puluhan tahun lalu.

Saya mencoba mencari definisi zina ini di RKUHP, dan tidak menemukann…

MERTUA BERSASAK TINGGI

Ibu Ali sudah menikah dengan pak Ali nyaris tigapuluh tahun, dan sangat berduka saat pak Ali meninggal seminggu yang lalu.

Dua anak perempuan mereka datang dari rantau, menemani di rumah masa kecil mereka yang ditempati bu Ali (dan pak Ali sampai akhir hayatnya) hanya tiga hari, karena harus kembali ke kotanya, bekerja.

Hanya rumah sederhana, yang mungkin kalau dijual harganya tak lebih dari Rp 1 Miliar, yang ditinggalkan pak Ali. Tidak ada asset lain yang cukup bernilai ditinggalkan.

Empat hari setelah anak-anak pulang ke kotanya masing-masing, datang orangtua pak Ali (tepatnya Ibunya) bersama tiga adik lelaki pak Ali.


Ibu mertua bu Ali adalah tipe mantan istri pejabat masa lalu. Walau usianya sudah 70 tahunan, tapi masih gesit dan selalu tampil dengan rambut sasak tinggi. Sepertinya, saking berat sasak rambutnya, kelihatan kalau berjalan selalu agak mendongak, dagunya mencuat ke atas.

Adik pak Ali juga tipe anak yang bergantung pada (sisa) kekayaan dan kejayaan orang tua. Tak memliki pe…