Skip to main content

Posts

OMNIBUS LAW dan PENGALAMAN SAYA

Saya mau menulis soal -sebagian kecil- dari apa yang diatur dalam Omnibus Law kluster Cipta Kerja berdasar pengalaman pribadi.
Tahun 2012-2013 saya dipertemukan dengan teman yang dekat dengan keluarga seorang Konglomerat. "Aku mau minta tolong mas Basri, ini pak Konglomerat mau bikin harian olahraga. Bantu kami set-up dari sisi komersial".
Setelah melalui maju-mundur lama, saya putuskan ikut : dengan syarat saya hanya aktif sebagai konsultan, ngantor paruh waktu tiga hari seminggu dan kompensasi sebuah besaran angka tertentu. Sayang ilmu perkoranan tak dipakai, pikir saya waktu itu. Deal, bungkus.
Singkat cerita, koran terbit. Dan atas pertimbangan koran ini masih bayi, saya diminta bergabung Penuh Waktu. Kompensasi dinaikkan. Namun, di tengah jalan, mulai terbuka satu persatu "masalah" ketika saya mulai ikut rapat manajemen.
Puncaknya, saya baru tahu semua ketika ikut diajak dengan pak Konglomerat (yang berperan sebagai pemasok modal). Saya baru tahu kalau manajemen p…
Recent posts

KOMPLIT BIKIN TAK BERBELIT

Kemarin saya diberi kepercayaan untuk berbagi pada para Kepala Cabang bank BTN se Indonesia Timur mengenai tinjauan harta dari Tiga Sisi.

Apa Tiga Sisi itu? 

Pertama, Pajak. Punya uang tidak bisa asal simpan atau asal beli asset. Kita musti tahu karakteristik dan perbedaan asset, serta konsekuensi pajaknya. 

Kemarin saya berikan simulasi, dengan awal yang sama Rp 1 Miliar, satu skenario diletakkan penuh di deposito dan skenario lain dipecah dalam deposito dan reksadana pasar uang. Hasilnya di akhir tahun ada perbedaan hasil yang cukup lumayan. 

Skenario dua memberikan hasil yang lebih besar di akhir tahun, pada asumsi imbal hasil yang sama hanya karena selisih pajak. 

Kedua, Likuiditas. Tabungan dan Investasi akan likuid saat pemiliknya masih hidup, sedangkan Kontrak Pertanggungan Proteksi tentu belum dapat dicairkan. Tapi kan kita tak mungkin hidup terus.
Namun sebaliknya, saat pemiliknya meninggal : Tabungan dan Investasi akan berubah menjadi asset tidak likuid. Untuk Pencairannya dibutuh…

SELESAI DENGAN DIRI SENDIRI

Hari ini Tuhan memberi saya rezeki : pertemuan dengan mas
Syarif Yunus, tokoh intelektual di belakang gerakan literasi masyarakat Sukaluyu, Tamansari Bogor. 
Beliau adalah pendiri sekaligus penggerak Taman Bacaan Masyarakat Lentera.
Latar belakangnya bukan ecek-ecek. Beliau mantan pejabat tinggi di sebuah perusahaan jasa keuangan yang memilih mengabdikan diri pada masyarakat desa, yang sebelumnya tak dikenalnya. Tiap sabtu dan minggu, mas Syaiful berkendara dari rumahnya di Jakarta ke pinggiran kota Bogor ini, mengabdi pada visi besar bernama "Anak-anak pinggiran kota yang pintar dan bercita-cita"

Kami berdiskusi panjang soal rendahnya 6 Literasi (Baca Tulis, Numerasi, Sains, Finansial, Digital dan Budaya warga) di negeri +62 ini, teknik membaca buku, menulis sebagai pekerjaan untuk keabadian, kemiskinan struktural hingga radikalisme.

Pertanyaannya, kenapa seseorang dengan jalur karir cemerlang, dosen di menara gading bernama kampus mau mengabdikan diri pada anak-anak di kampung…

EUDORIA PADA ENOLA

Sebut saja namanya pak Fulan. Usianya sepantaran saya : Balita. Bawahnya Limapuluh Tahun. Perjalanan karirnya dihabiskannya di sebuah perusahaan jasa pembiayaan.
Empat bulan lalu, karena pandemi, kantornya memutuskan melakukan pengurangan karyawan besar-besaran, terutama karyawan yang sudah "berumur" seperti pak Fulan.
Pada akhir 23 tahun karirnya, dia mengantongi gaji sekitar Rp 12 jutaan per bulan. Setidaknya itu yang dia ceritakan saat kami interview untuk menjadi agen di agensi kami.
Dia melamar melalui iklan yang saya buka di Facebook, tapi dengan harapan menjadi karyawan sebagaimana yang dilakukannya 23 tahun terakhir.
"Saya sudah jenuh di rumah, pak. Uang pesangon sudah mulai habis dan tetangga mulai ngomongin melihat saya ada di rumah terus", Jelasnya.
Lalu saya mulai bercerita bahwa bisnis di agensi adalah partnership, bukan hubungan boss-karyawan, tak ada Gaji. "Di sini anda bukan cari Penghasilan Tetap, tapi usaha agar Tetap Berpenghasilan".
Kami men…

ILLUSTRASI

"Mas, aku minta illustrasinya saja. Suamiku mau baca-baca dulu", Kata seorang calon nasabah.
Maka, siap-siaplah. Itu tanda-tanda seorang nasabah menunda keputusan atau bahasa orang kampung ibu saya di Pemalang : buying time. Mungkin belum ada bujet, mungkin sedang belanja jendela (window shopping) alias membanding-bandingkan dengan penawaran lain.
Tahu dari mana? Dari kata-kata "suami atau istriku mau baca illustrasi".
Sebuah illustrasi yang dibuat seorang agen asuransi saat ini di-generate dari sistem hitungan yang dibangun oleh perusahaan asuransi dalam sebuah sistem/aplikasi dalam gajet si agen.
Gunanya untuk memudahkan agen menerangkan pada calon nasabah, bukan supaya calon nasabah bisa membacanya.
Karena membaca illustrasi juga perlu ILMU, ada pelatihan dan kelasnya. Maka jangankan nasabah yang awam (istilah) asuransi, agen asuransi saja yamg baru bergabung satu dua bulan kalau jarang ikut kelas juga pasti belepotan menceritakan isi illustrasi.
Terutama terkait manf…

SSST...BUAT YANG TAHU SAJA

Hidup punya banyak hutang akan banyak masalah? Terutama saat seseorang yang berhutang meninggal dunia, hutangnya akan langsung jatuh tempo.
Bagaimana halnya bila hutangnya banyak, tapi piutangnya juga banyak? Apalagi kalau jumlah piutangnya piutangnya berkali-kali lipat dari hutangnya.
Nah, ada satu kontrak unilateral, yang memenuhi syarat syah perjanjian sebagaimana diatur dalam Buku 3 KUHPerdata (Soal Perikatan) pasal 1320 dan pasal 246 KUHD yang memungkinkan ketika seseorang meninggal dunia : saat hutang langsung jatuh tempo dan itu harus dibereskan oleh ahli waris... Namun pada saat yang sama Ahli Waris yang ditunjuk oleh almarhum bisa menagih "piutang" dalam bentuk penggantian atas dampak financial karena kematian tersebut.
Dan Kontrak Unilateral itu bernama Kontrak Pertanggungan berbentuk Polis Asuransi Jiwa.
"Piutang" itu bernama Manfaat Uang Pertanggungan yang bisa ditagihkan ke Perusahaan Asuransi selaku Penanggung. Jumlah "piutang" itu bisa jauh leb…

RESESI SEBELUM RESESI

Secara resmi Indonesia masuk kondisi resesi, setelah pertumbuhan ekonomi dan PDB selama dua kuartal terakhir tumbuh negatif.
Dan kemarin saya membantu proses wawancara calon team BHR, seorang lelaki mantan Kepala Cabang sebuah bank Buku 1 yang mulai menutup cabang-cabangnya. Kalau anda rajin membaca berita, anda pasti sudah pasti tahu apa sebabnya.

"Ini adalah bisnis yang membuat kita tak cuma menghasilkan uang untuk hidup. Juga memungkinkan kita untuk syi'ar soal waris dan wakaf", Kata saya, sebagaimana biasa sebagai pembukaan sesi interview.

Lalu saya cerita soal pentingnya perencanaan uang untuk waris dan wakaf, panjang lebar. Maklum yang saya hadapi mantan Kepala Cabang sebuah Bank.

Namun dia nampak tak bergeming. Sampai tiba-tiba dia bertanya ...

"Pak Basri, yang penting buat saya sekarang, bagaimana caranya "jualan" saya banyak dibeli orang. Supaya ada lekas ada"uang masuk". Saya mau saja cerita soal Waris dan Wakaf, tapi itu kan lama bisa "…