Skip to main content

Posts

CERITA TUKANG JAM

Seorang pembuat jam tangan berbicara dengan komponen-komponen jam tangan yang akan dirakitnya "Hai kalian jam tangan, ketika selesai aku rakit, jarum kalian harus berdetak 31.104.000 kali dalam setahun ya", kata si pembuat jam. "Gila, mana sanggup jarum begini berdetak sebegitu banyak tuanku", kata para komponen jam tangan. "Baik, bagaimana kalau aku kurangi. Berdetaknya hanya 86.400 kali per hari?", tanya si tukang jam. "Masih nggak mungkin lah itu, bisa rontok kami ini", kata para komponen. Si pembuat jam berdiam sejenak. Lalu berkata", Oke, kalau begitu aku diskon habis-habisan. Kalian cukup berdetak satu kali saja setiap detik". "Nah, itu baru masuk akal", kata para komponen jam. Deal. Sepakat. Lalu komponen itu dirakit menjadi ssbuah jam, dan jarumnya mulai berdetik hanya satu kali tiap detik. Akhirnya, setelah ditotal -tanpa sadar- menjadi 31.104.000 detik per tahun. "Aku ingin menulis buku, tapi aku tak sempat"
Recent posts

HIDUP HORIZONTAL

Kemarin Alifa Putri Anarghya berulang tahun. Tidak ada perayaan khusus, karena dia sibuk meeting dengan boss-nya evaluasi produk baru yang baru diluncurkan beberapa bulan lalu. Dia bertanggungjawab atas proyek itu. Tapi, ada kado terbaik yang dia terima dari kampusnya. Sertifikat sebagai Lulusan Tercepat, dengan masa studi tak sampai 4 tahun. Maka piagam itu melemparkan ke masa empat tahun lalu, ketika dia diterima di Kampus itu. Saat pengumuman penerimaan mahasiswa baru melalui jalur tanpa tes, dia gembira. Namun terselip perasaan "gamang" karena beberapa teman gaulnya diterima di Universitas "Paporit". Dan saya selalu bilang", Bapakmu alumni IPB, IPB itu -katanya- universitas favorit, tapi nggak semua teman Bapak juga sukses kok. Kalau kamu tak bisa menjadi yang tertinggi nilainya, kamu bisa menjadi yang tercepat nantinya. Kesuksesan kita, kita definisikan sendiri". Dalam masa perkuliahan, nilainya selalu bagus. Walau bukan yang terbaik di kelasnya. &qu

SEHIDUP, SEMATI

 Ada beberapa pasangan yang beruntung bisa "Sehidup,Semati".  Hidup dan meninggal pada saat yang bersamaan (simultaneous death).  Bagaimana pandangan Hukum Waris Perdata dan Hukum Waris Islam pada kasus Simultaneous Death ini?  Bagaimana cara pembagian Harta Warisnya? Lalu bagaimana halnya dengan Perjanjian Polis Asuransi Jiwanya, bila ternyata Suami Istri tersebut terikat Hubungan Tertanggung-Penerima Manfaat?  Uang UP akan dikemanakan?  Apakag dikuasai oleh Perusahaan Asuransi?  Atau diserahkan pada Negara? Ikuti kelas yang khusus membahas soal dampak Simultaneous Death ini pada Sabtu 17 Juli 2021 pkl 10-12.  Pendaftaran mbak Ade 0819 9643 8676

FATAL

Dalam tempo kurang dari enam jam, datang dua berita duka cita dari teman karena Covid. Satu karena baru saja pulang dari kota Kudus-kemungkinan terpapar di sana. Satu lagi karena selepas mendapat kunjungan saudara dari Jakarta. Kemarin, saya menonton Podcast Deddy Corbuzier bersama dr. Tirta. Menurut sumbernya dr. Tirta, virus Delta varian Delta tidak lebih mematikan, namun lebih cepat "menyebar". Penyebab kefatalan Covid adalah turunnya daya tahan tubuh, salah satunya karena penyakit komorbid (jantung, diabetes, hipertensi). Ada obat yang bisa membantu menghambat kefatalan dengan meningkatkan daya tahan tubuh, namanya Gammaraas. Obat ini masuk golongan IvIG (intravenous Immunoglobulin). Sayangnya obat ini sekarang mahal sekali. Salah satu masabah kami harus membayar nyaris Rp 100 juta per pack. Untungnya (orang Indonesia, selalu ada untung) dia memiliki asuransi kesehatan dari asuransi tempat saya bekerjasama. Kenapa dia untung? Karena obat ini tak dicover oleh BPJS. Tak her

MENIKAH DENGAN NASABAH

Di sebuah forum diskusi asuransi, seorang calon klien mengajukan pertanyaan "Apakah kira-kira asuransi kesehatan yang cocok untuknya". Maka bermunculan agen-agen asuransi dari berbagai perusahaan menawarkan produknya. Sebagian besar menawarkan "keunggulan" premi murah. Bahkan ada yang berani menawarkan Premi hanya (dibawah) Rp 200 ribu per bulan. Menjual Produk Asuransi Kesehatan bukanlah sekedar "Jual Putus", seperti menjual Chitato di warung. Nasabah bayar, Chitato diterima, bungkusnya dibuka, isinya dimakan dan nasabah kenyang (dan pergi dengan senang). Menjual produk asuransi kesehatan itu, ketika nasabah bilang oke dan perusahaan asuransi menyetujui, maka sebenarnya agennya sedang mengucapkan "ikrar menikah" dengan nasabahnya itu. Karena kalau nasabah sakit : kapanpun, dimanapun, agennya harus siap membantu : minimal dengan informasi. Kata Sevel, stand by 24/7, 24 jam sehari-7 hari seminggu. Lalu, bayangkan, dengan premi "hanya" Rp

SINGA MAKAN RUMPUT

Kemarin ngobrol dengan seorang teman lama, pengusaha. Saya mengenalnya sebagai pengusaha yang gigih serta nggak sungkan berbagi ilmu. Kami terakhir bertemu sekitar enam tahun lalu, di airport Changi saat dia mengajak tim intinya yang berprestasi outing ke Singapura dan Malaysia. "Sekarang aku jadi singa makan rumput, Bas", Katanya kemarin. Awalnya dia mendapat "nasehat" dari konsultan di medsos, bahwa ketika merekrut tim tidak terlalu penting mencari yang berkualitas. Karena yang berkualitas akan "mahal" harganya. "Karena pada dasarnya, setiap orang yang bernafas itu bisa belajar", kata sang konsultan di medsosnya. Sejak itu, teman saya tidak terlalu memikirkan standar kualitas rekrutmen. Asal bernafas, dia rekrut. Dia ajari, dia didik. Akibatnya, performa perusahaan makin lama makin mundur. "Jangankan ngajak jalan-jalan ke Singapur, Bas. Sekarang karena team penjualan tak sebagus dulu, untuk jalan-jalan ke Puncak saja kami sewa angkot"

JAS HUJAN GAMMARAAS

Memiliki banyak teman (satu tim di BHR maupun sesama pelaku di Industri Asuransi) membuat saya memiliki banyak sekali cerita. Dan yang akan saya ceritakan, adalah kisah dari salah satu teman satu tim di BHR. Hari kedua lebaran, sebut saja teman saya ini bernama Budi (tentunya ibunya bernama Ibu Budi, adiknya mungkin bernama Wati) sedang ngobrol-ngobrol santai bersama keluarga. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Ada telepon masuk dari salah satu calon nasabah yang pernah ditawarinya asuransi kesehatan. Calon nasabah ini sudah empat lima kali dikunjunginya, tapi hingga kunjungan terakhir : masih menolaknya. "Kamu nawarin "Payung", Bud. Aku sudah punya "Jas Hujan", jadi aku nggak perlu Payung yang kamu jual. Dan InsyaAllah aku sehat-sehat aja lah", Demikian dalih si calon nasabah ketika dulu ditawari program asuransi kesehatan ( ini yang dia maksud : payung). Budi tak memaksa. Melihat nama yang tertera di layar handphone, Budi langsung bergumam",