Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2013

Saatnya berbagi Ilmu

Ya, apalagi yang lebih nikmat dari terbukanya kesempatan untuk bisa berbagi ilmu ?

InsyaAllah, saya dan Istri saya, Driffaroza Ocha, akan ber DUET berkeliling ke kantor-kantor beberapa teman untuk berbagi ilmu.  Ya, kami sudah mendapatkan beberapa "pesanan" untuk berbicara di Forum Kecil tentang "Plan and Grow your Money". 

Dari "pesanan" yang sudah masuk, bolehlah kami berbagi teknisnya.  Kami akan bertemu dengan anda dan beberapa teman anda, di ruang rapat kantor anda -lebih pas lagi saat bulan puasa, ketika jam makan siang tak lagi termanfaatkan, dan kami akan berbagi ilmu soal Mengelola Keuangan, hingga anda bisa menentukan posisi, saat ini anda sekedar aman atau sudah kaya.

Sharing ini tak kami pungut biaya.  Anda hanya tinggal mengumpulkan teman yang mau mendengar ilmu ini di ruang rapat kantor anda.  Waktu yang kami perlukan juga tak banyak, hanya 1.5 jam saja.  Tapi InsyaAllah, ilmunya akan tetap sama dibandingkan seminar sejenis yang harganya juta…

Mau Aman atau Kaya ...

Membaca koran, adalah membaca hiruk pikuk.  Yang terkini, adalah hiruk pikuk menentang kenaikan harga BBM.  Saya sulit menempatkan diri dalam hal ini.  Sebagai konsumen BBM, saya pengen harga tak naik -malahan turun kalau bisa.  Tapi sebagai pedagang, ini adalah momentum untuk menaikkan harga jual dagangan saya : dengan segala resiko.

Tapi lupakan semua polemik soal BBM ini, sudah terlalu ramai orang membicarakan ini.  Tadi pagi saya membaca KOMPAS, ada data menarik yang kemudian saya kutip dan unggah ke akun Facebook saya.  Saya buat status di FB, berbunyi

"Kompas, 21 Juni 2013. Halaman 19 : Inflasi 2013 = 7,2%. Perkiraan Inflasi 2014 = 3,5-5,5%. Halaman 20 : Bunga/Return Deposito Bank antara 3.5%-5,5%. Yang punya duit aja minus, apalagi yang enggak..."

Maka teman-teman segala berkomentar.  Komentar mereka menarik, dan kritis.  Saya senang, karena ini adalah isu mendasar kita sebagai rakyat jelata.  Kita diminta berhemat, menabung, tapi inilah yang terjadi sebenarnya.…

Quote (2)

Kuliah mentor saya hari ini," Bila mayat kita saat masih segar dipretelin, nilai organ-organ dalam kita di pasar gelap sekitar 6 milyar. Bayangkan berapa ratus milyar nilai raga kita saat masih ada nyawa. Kalau itu bentuk penananaman modal/investasi Tuhan sama kita, sepantasnya kita menjadi makhluk yg bersyukur dengan bekerja dan berfikir se-produktif tinggi, supaya ROI nya juga tinggi. Untungnya Tuhan nggak itung2an sama kita yang selalu bilang pengen dan mau punya usaha tapi bilangnya nggak punya modal". (Facebook, 11 Juni 2013)

Quote (1)

Dari Koran Bungkus Martabak : Duit Rp 50ribu, th 2000 dapat 19 kg beras, th 2005 dapat 13 kg beras, Th 2010 dapat 6 kg beras. Kalau sekarang kuliah sampai sarjana S 1 di univ top negeri ini habiskan 409 juta, maka yg sekolah 15 tahun lagi perlu 6.3 M buat jadi sarjana S-1.... Bungkus Martabak ini mau aku figurain. (Facebook, 13 Juni 2013)

Kabar dari Reuni

Senang sekali hari ini berada di tengah-tengah para senior yang sudah sukses.  Dulu mereka adalah atasan-atasan saya, kini mereka menjadi teman.

Tadi siang, saya nimbrung di silaturahmi kantor lama tempat saya pernah berkarir periode 1994-1998.  Rata-rata, teman yang hadir sudah di puncak pencapaian karir mereka.  Ada yang sudah menjadi Pemimpin Redaksi majalah ternama, blogger kenamaan bahkan ada yang menjadi calon Bupati sebuah kabupaten di Jawa.  Sebuah puncak prestasi yang didambakan semua manusia yang punya karir.

Tapi, kabar tak baik pun kami terima.  Tiga teman -dua diantaranya pernah menjadi atasan saya - sedang terbaring sakit di rumahnya.  Kabarnya, karena ketiadaan biaya, membuat beliau tak bisa dirawat di Rumah sakit sebagaimana mestinya.

Saya jadi menerawang jauh.  Tak perlu mempertanyakan mengapa itu bisa terjadi.  Tapi lihatlah diri kita sekarang. Saat masih memiliki penghasilan yang cukup, kita tak bersiap diri.

Saat anak mulai menyelesaikan sekolah, dan melanjutkan …

Manusia memang Aneh ...

Setelah saya mulai gencar "beraksi" bercerita kanan kiri soal pentingnya merencanakan keuangan keluarga, ada beberapa teman memberikan reaksi yang berbeda.

Beberapa teman merespon sangat positif, dengan bertanya lebih banyak. Mereka yang bertanya, umumnya mengalami kasus yang pernah saya alami dulu : sulit membedakan antara "mengeluarkan uang" dengan "mengumpulkan uang".

Tapi beberapa menjauhi, dengan berbagai alasan.  Paling banyak : takut dijadikan prospek untuk kemudian membayar sejumlah uang.

Saya luruskan sedikit.  Kalau anda jalan-jalan ke Mall, kemudian bertemu dengan seorang -katakan - sales panci, biasanya reaksi anda adalah menghindar.  Karena sales itu memiliki "Mission Possible" membuat uang anda keluar untuk ditukar dengan panci.  Uang anda "hilang" (walaupun ditukar panci).

Mengambil polis asuransi berbeda bumi langit dengan membeli panci.  Anda membayar Premi asuransi bukan untuk memberi keuntungan besar pada Financial P…

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

Ibu Lies Berbagi Cerita

Seperti biasa, sembari menunggu klien datang saat janjian miting, saya sempatkan browsing kanan kiri.  Facebook, twitter, Gmail sudah terbuka di desktop. Pandangan saya tertumbuk cerita dari salah satu mentor saya, ibu Lies Sudianti, - ibu luar biasa, founder komunitas PROFEC-  saat beliau memberikan sharing di hadapan calon pensiunan PNS sebuah instansi.

Saya kutipkan sebagian cerita ibu Lies :

 ".... Berdasarkan pengalaman yang saya alami dalam kelas sejenis, satu satunya cara untuk building trust adalah menceritakan pengalaman saya kala menjelang pensiun, saya juga cerita bahwa kala saya menyatakan siap itu berdasarkan situasi kala masih bekerja masih punya posisi di kantor, dan saya ceritakan kepada mereka bahwa begitu saya benar benar pensiun situasinya berubah total, awal awal masih banyak teman apalagi kala uang pensiun masih cukup banyak namun lama lama susahnya bukan main. Saya yang bekerja sebagai manager di perusahaan global seperti Nissan Motor Indonesia meras…

Pagi yang Sedih

Pagi-pagi, sambil menunggu air untuk kopi dijerang, saya sempatkan browsing baca-baca berita.  Koran pagi belum lagi datang.   Hingga, kursor mouse saya tergoda untuk meng-klik sebuah artikel di Kompasiana ditulis seseorang bernama SP (cukup inisial saja lah ya...), postingan tanggal 9 April 2012, berjudul ;"Aku Tak Percaya Bank dan Asuransi".  Statement-nya cukup menggelitik, ini saya kutipkan sebagian :

" ...Sama tak masuk akalnya adalah asuransi. Bagaimana mungkin kita mengalihkan resiko pada asuransi dengan membayar premi (premi pasti harus dibayar) sedangkan resiko itu tidaklah pasti akan terjadi, tapi pembayaran premi pasti harus dilunasi. Jika resiko tidak terjadi dalam kurun tertentu masa tanggungan, premi dianggap hangus. Owww, tidak adil banget.
Mendingan uang digunakan untuk investasi riil, atau ditabung sendiri (bukan di bank, tapi dalam bentuk emas, sertifikat saham, dll). Saat resiko benar-benar terjadi, uang tadi bisa digunakan untuk mengata…

Berdiri di Antrian

Setting di sebuah Bank Plat Merah, pukul 9.15 pagi.  Saya lupa kalau ini tanggal 3; waktunya para orangtua kita -yang pensiunan PNS- mengambil haknya.  Langit mendung, tapi udara pengap dan panas oleh karbondioksida manusia dalam antrian ini.

Dalam antrian itu saya renungkan kembali soal hidup.  Bapak di depan saya, saya taksir usianya sekitar 70 tahun.  Berbaju batik, dengan tongkat dan kaca mata, digelendotin oleh seorang bocah-yang saya tebak itu cucunya. Tentu masa mudanya telah dihabiskan dengan rutinitas bekerja, sekuat tenaga, pagi hingga petang.  Hingga kini masa tuanya, di tengah antrian mengambil beberapa juta rupiah uang pensiun.

Usia saya kini baru selewat sedikit dari 40 tahun.  Kalau umur saya panjang seperti Bapak di depan saya, maka paling tidak masih ada 30 tahun lagi buat saya mengumpulkan uang pensiun.  Berjualan kopi sekuat tenaga, tetap sehat dan sederhana.  Tapi entah kalau umur saya tak panjang.  Tapi tetap saja, harus ada yang saya tinggalkan buat anak-anak say…

The Girl In The Picture

Namanya Kim Phuc.  Anda barangkali tak pernah mendengar nama itu sebelumnya.  Tapi, melihat foto yang saya muat di bawah, anda pasti sudah mulai bisa menebak siapa dia.  Ya, Kim adalah gadis yang ada di dalam gambar -the girl in the picture- yang berlari telanjang sambil menangis.

Kejadiannya pada tahun 1972, saat John Plummer pilot Amerika menjatuhkan bom ke sebuah perkampungan yang diyakini sudah tak ada penduduk sipil.  Malang nasib Kim Phuc yang masih bersembunyi, dan terbakar hebat disekujur tubuhnya.  Saat ditemukan oleh Nick Ut (Fotografer Associated Press, belakangan memenangkan Pulitzer karena fotonya ini) Kim Phuc berteriak panas...panas sambil berlari telanjang karena pakaiannya habis terbakar. Nick membawanya ke Rumah sakit di Saigon.

Empatbelas bulan perawatan dan menjalani 17 kali operasi, tetap membuatnya tegar dan terus berkata, "Kenapa aku harus menderita?".  Sepuluh tahun kemudian, Kim Phuc diterima di sekolah kedokteran di Saigon.  Kisahnya justru membuatn…