Skip to main content

HALAH...AKU SUDAH AMAN

Di sebuah arisan ibu-ibu BPJS (Bujet Pas-Pasan Jiwa Sosialita) seorang ibu yang duduk memangku tas - yang dia bilang baru beli di Singapur- berhadapan dengan seorang agen asuransi. Teman-temannya lagi sibuk negosiasi cicilan kerudung.

"Halah, Jeng...nggak usahlah repot nawarin asuransi buat aku, aku sudah aman. Suamiku sudah siapin semua buat aku dan anakku. Malah apartemen sudah dia beli atas namaku. Dia juga bilang mau hibahkan rumah dan kebon buat aku juga. Aku nggak butuh asuransi", Sergahnya galak dengan hidung dan dagu mendongak.

"Itu semua apartemen, rumah dan kebon kapan dibeli bu?", Tanya si agen asuransi.

"Ya pas kami udah nikahlah. Kan rejeki dia dari aku. Walaupun dia yang kerja, tapi kan aku yang mendukung dari rumah, sambil shopping dan arisan", Jawab si ibu BPJS .Ketahuilah ibu, ada tiga jenis harta dalam Perkawinan : Ada Harta Bawaan (dan yang mirip sama dia Harta Perolehan), Harta Bersama dan Polis Asuransi Jiwa sebagai Harta Ketiga.

Menurut Hukum Islam, ibu ahli waris sehingga -seharusnya- tidak boleh menerima wasiat. Pun bila ahli waris lain setuju, jumlahnya tak boleh lebih dari 1/3 harta.
Menurut Hukum Perdata, ibu bisa terima wasiat tapi ibu tak punya Hak Memaksa (Legitieme Portie) karena ibu bukan termasuk Legitimaris. Suatu saat para legitimaris minta bagiannya yang terkurangi karena ada wasiat, ibu hanya bisa "terima nasib". Plus, Hibah antara suami istri dalam Hukum Perdata kita kan dilarang (Pasal 1678).

"Jadi ibu bisa bilang aman dari mana?",tanya si agen asuransi.  Seperti umumnya ibu-ibu BPJS yang modal geer, dia bengong ketika diberi tahu soal itu.
"Hanya Harta Ketiga yang bisa ibu terima 100%, untuk memastikan ibu aman", tegas si Agen asuransi.

"Kok Bisa?",tanya si ibu BPJS
Ceritanya begini... (si agen asuransi mengulang materi kelas Perencanaan Waris sambil membuka halaman 28-29 buku "Hartamu bukan Hartamu").

Si Ibu BPJS kelihatan lemes, meletakkan tasnya di meja, mereknya KERMES (bukan Hermes). Pantes.


Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

KAN SAYA MASIH HIDUP ...

“Harta, sebenarnya belum bisa dikatakan pembagian harta karena saya masih hidup. Tetapi saya tetap akan membagikan hak mereka masing-masing sesuai dengan peraturan agama,” ujar ibu Fariani. Ibu Fariani adalah seorang ibu dengan empat orang anak yang baru saja ditinggalkan suaminya Ipda Purnawirawan Matta. Almarhum meninggalkan harta waris berupa tanah, rumah dan mobil senilai Rp 15 Miliar. Pada bulan Maret 2017, ketiga anak ibu Fariani mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama Kota Baubau, Sulawesi Tenggara dengan nomor 163/ptg/ 2013/PA/2017, yang inti gugatannya : Meminta bagian mereka selaku ahli waris yang sah atas harta waris almarhum ayah mereka. Dunia makin aneh? Anak kurang ajar? Tidak. Banyak orang yang memiliki pendapat seperti ibu Fariani, sebagaimana yang saya kutip di paragraf pertama di atas. Pendapat yang KELIRU. Begitu seorang suami meninggal dunia, maka hartanya tidak serta merta menjadi miliki istri atau anak-anaknya. Harta itu berubah menjadi h

APAKAH UNITLINK TERMASUK PAPER ASSET?

Tulisan ini sebenarnya hanya merespon postingan seorang perencana keuangan tentang kisah nasabahnya. Alkisah, nasabahnya seorang lelaki yang penghasilannya (katakan) Rp 10 Miliar per tahun. Dengan gaya hidup yang konservatif, si nasabah baru sadar bahwa di akhir tahun tabungan dia hanya Rp 3 Miliar. Sisa uangnya kemana, padahal dia dugem enggak, travelling pribadi dalam batas wajar, makan mewah jarang banget ... Lalu, perencana keuangan tersebut melakukan bedah perkara. Dari hasil bedah perkara, ditemukan beberapa sebab. Seperti dia terlalu mudah percaya pada orang, sehingga dengan mudah meminjamkan uangnya pada saudara atau teman dengan dalih modal usaha (yang akhirnya nggak balik lagi). Namun, ada satu hal dari nasehat perencana keuangan itu yang menurut saya tidak pas. Yaitu : Menurut perencana keuangan itu, adalah keliru nasabah memiliki banyak unit link karena “investasi” di unit link itu justru menggerus uangnya. Saya kira pendapat ini tidak pas, terutama soal pendapat “i