Skip to main content

JAWABAN CONTOH KASUS 4


Banyak pembaca buku saya yang bertanya, apakah jawaban contoh kasus 4 yang ada di buku "Hartamu bukan Hartamu", halaman 93. Baiklah saya akan coba jawab.

Contoh kasus ini jamak terjadi di masyarakat kita. Kira-kira kasusnya seperti ini :

Asset yang dimiliki Almarhum Bapak A dan Ibu C adalah sebuah rumah yang mereka tinggali sejak tahun 1990, deposito atas nama Bapak A sebesar Rp 250 juta, Reksadana dan Obligasi pemerintah sejumlah Rp 300 juta dan tiga buah kendaraan senilai Rp 450 juta. Apa hubungan Bapak A harus memiliki Asuransi Jiwa dengan Kasus di atas?

Dan detil struktur keluarganya ada dalam illustrasi.

Biasanya apa yang dilakukan di masyarakat kita (bahkan di keluarga yang sangat "relijiyes" sekalipun)?

Pertama, menunda pelaksanaan pembagian waris, menunggu asset cair atau terjual. Padahal Pembagian Waris harus dilakukan segera akan harta bisa secara akurat dibagi dan tidak ada saling memakan harta yang bukan haknya

Kedua, Ah sudahlah bagi rata aja, nggak usah pusing.

Ketiga, sudahlah dibagi nanti kalau ibu C meninggal aja, nggak enak kan beliau masih hidup. Pamali, katanya ...

Keempat, saling diam-diam berebut, adu kekuatan dalam perang dingin sambil saling membicarakan di belakang pungggung masing-masing; hingga akhirnya terjadi perang terbuka, saling gugat di pengadilan.

Kejadian kesatu hingga keempat jamak terjadi, karena minimnya PENGETAHUAN soal Hukum Waris dan TIDAK SIAP-nya DANA PEMBEBASAN HARTA saat membagi waris.

Kembali ke pertanyaan, bagaimana cara membagi Harta pak A, siapa saja yang dapat bagian dan berapa bagiannya? Ini jawabannya :

* Ibu = 1/6 bagian (karena almarhum punya anak)

* Istri = 1/8 bagian (karena bersama almarhum punya anak)

* F (anak perempuan) = 1/2 bagian (karena sepeninggal E, dia menjadi anak perempuan satu-satunya)

* E (anak lelaki, tapi meninggal duluan dari Bapaknya) maka bagiannya akan turun ke keturunannya L dan M). Karena L dan M keduanya perempuan, maka bagiannya hanya menghabiskan PORSI maksimal Anak Perempuan (yaitu 2/3 bagian).

Namun, karena 1/2 bagiannya sudah dikeluarkan untuk F, maka bagian L dan M (gabungan) adalah 2/3-1/2 bagian = 1/6 bagian.

Lalu apakah G,H dan I sebagai saudara laki-laki A akan mendapat bagian? Bagaimana detil bagian masing-masing atas asset senilai Rp 2 miliar itu?

Kemudian mengapa perlu (bahkan vital) asuransi jiwa sebagai solusi bagi ibu C selaku istri?
* Ibu = 1/6 bagian (karena almarhum punya anak)

Nah ini terusannya ...

Sehingga porsinya menjadi :

Ibu = 4/24

Istri = 3/24

F (anak perempuan) = 12/24

L dan M (cucu perempuan) = 4/24

Total keempat pihak itu = 23/24 bagian, sehingga masih ada sisa 1/24 bagian yang akan diberikan kepada G,H dan I (adik laki-laki almarhum)

Masalahnya, uang di deposito, obligasi dan reksadana belum bisa diambil tanpa ada Surat Penetapan waris dari Pengadilan, perlu waktu (dan biaya) untuk itu. Hanya tersisa rumah yang berada dalam "genggaman" ibu C (istri), sedangkan Prinsip Kewarisan Islam mengharuskan SEGERA dan AKURAT.

Porsi "Hak" istri hanyalah Rp 125 juta (1/8 dari nilai rumah) sisanya harus dibagi pada ahli waris lain. Rumah harus dijual? Kalau dijual si ibu C akan tinggal di mana? Belum lagi kalau rumah bisa cepat laku serta harga sesuai harapan.

Maka, disitulah peran Uang dari Pencairan Klaim Pertanggungan Asuransi Jiwa. Dengan Uang Pertanggungan (UP) sebesar 1,85 Milyar ibu C membayarkan hak ahli waris lain, tanpa harus buru-buru menjual rumah.

Ah, itu kan memang mau jualan asuransi saja. Gimana kalau nggak ada duit dari asuransi Jiwa? Pilihannya cuma dua :

Pertama, Ibu C harus menjual rumah dan mempercepat proses pencairan asset lainnya serta segera membagi harta itu pada ahli waris lain yang berhak. Dia mungkin harus ngontrak atau ikut "nebeng" anak di hari tuanya.

Kedua, membiarkan saja pembagian waris ditunda sehingga pada detik-detik penundaan itu, dia sedangkan "menikmati/memakan" hak orang lain, terutama hak anak yatim...yaitu hak anaknya sendiri.

Kembali ke pertanyaan, bagaimana cara membagi Harta pak A, siapa saja yang dapat bagian dan berapa bagiannya? Ini jawabannya :


* Istri = 1/8 bagian (karena bersama almarhum punya anak)

* F (anak perempuan) = 1/2 bagian (karena sepeninggal E, dia menjadi anak perempuan satu-satunya)

* E (anak lelaki, tapi meninggal duluan dari Bapaknya) maka bagiannya akan turun ke keturunannya L dan M). Karena L dan M keduanya perempuan, maka bagiannya hanya menghabiskan PORSI maksimal Anak Perempuan (yaitu 2/3 bagian).

Namun, karena 1/2 bagiannya sudah dikeluarkan untuk F, maka bagian L dan M (gabungan) adalah 2/3-1/2 bagian = 1/6 bagian.

Karena ada 1/6, 1/8, 1/2, 1/6 untuk memudahkan hitungan, dicari bilangan yang habis dibagi 6,8,2 sebagai penyebut : yaitu 24.

Sekian.

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam. Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal. Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara".  Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa?  Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubun

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut. Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda. Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kredi