Skip to main content

Uang Kecil Mengamankan Uang Besar

Kemarin, saya bertemu mitra bisnis saya di sebuah kota Sukabumi.  Seperti biasa, kami bertukar kisah karena sudah lama juga tidak ketemu.  Sambil nyeruput kopi "dagangan" sendiri, kami ngobrol ngalor ngidul.

Mitra bisnis saya ini masih muda, bersemangat tinggi.  Walau masih bekerja di sebuah Bank Swasta, tapi semangatnya untuk mengelola usaha "mini coffee shop" di sebuah pusat perbelanjaan tak pernah pupus.  Sudah empat tahun usaha ini berjalan, dan kelihatan hasilnya. 

Hingga topik pembicaraan kami mengarah ke rencana beliau memberikan "tambahan pengaman" untuk hasil usahanya dan sekaligus menabung berinvestasi untuk putra keduanya.  Tadinya, mitra saya ini masih berfikir kalau membeli "proteksi" lagi berarti harus mengeluarkan dana tambahan ekstra.  Hingga saya berikat illustrasi.

Outlet milik Mitra Bisnis Saya di Sukabumi
Pertama, dengan adanya tambahan pendapatan dari usaha, maka NILAI EKONOMIS beliau otomatis naik.  Ya, karena selain gaji, ada tambahan dari usaha. Tentu "suplai" uang ke keluarga akan bertambah.  Nilai ekonomis yang tadinya -katakan- Rp8 juta kan naik naik karena ada tambahan dari keuntungan usaha.  Artinya, nilai proteksinya harus dinaikkan.  Seperti contoh saya dulu, misal Nilai ekonomis beliau menjadi Rp 10 juta/.bulan atau 120 juta pertahun; maka beliau perlu "jaring pengaman" senilai Rp 3 Milyar (masih ingat cara ngitungnya kan?  3 Milyar, simpen di deposito bunga 4% setahun, akan hasilkan bunga 120 juta/tahun).

Kedua, saat ini beliau baru memiliki "proteksi" senilai Rp 20 juta.  Kecil sekali dibandingkan Nilai Ekonomis beliau.  Tapi tak ada yang salah dalam hal ini, karena beliau memilih program proteksi sekaligus investasi.

Ketiga, keuntungan bisnis beliau sebenarnya cukup besar (antara 20-30% dari omzet, nett).  Artinya bila sebagian keuntungan itu, katakan 25% nya dialokasikan sebagai "uang pengaman" sebenarnya bisa.  Secara ekstrem kemarin saya berikan gambaran : sisihkan Rp 20.000/hari...ya duapuluhribu per hari, maka selain tabungan, beliau akan mendapatkan jaring pengaman tambahan senilai Rp 200 juta.  Kok bisa...ya bisa banget.

Keempat, dengan serius saya sampaikan, kalau mau menaikann "jaring pengamannya" maka saya sarnkan, nilai yang disihkan dinaikkan menjadi Rp 50.000,- (LIMAPULUHRIBU Rupiah) perhari...itu artinya akan menyisihkan total 18 juta setahun.
Pertanyaannya dengan 18 juta setahun apakah bisa dipakai untuk mendapatkan "jaring pengaman" sebesar Rp 2-3 Milyar ?  BISA !
Maka simak rekomendasi saya :
-- Sisihkan Rp 4 juta setahun untuk membeli polis Asuransi jiwa murni, nilai "jaring pengamannya" bisa mencapai 1,5 - 2 M.  Catat, asuransi jiwa murni; tdk ada unsur investasi.
Menyisihkan Uang Kecil utk Amankan Uang Besar
-- Sisanya   Rp 14 juta setahun belikan polis Asuransi Unit Link, yang bisa dikombinasi dengan Proteksi Kesehatan atau dana Pensiun.  selain tabungan yang tumbuh 10-15% setahun, juga ada "jaring pengaman" hingga Rp 400 juta.
Maka ditotal, dengan uang kecil Rp 50ribu/hari (atau 18 juta setahun), beliau bisa mendapatkan "jaring pengaman" yang -InsyaAllah- akan jadi warisan untuk keluarga senilai -minimal- Rp 2 Milyar.

UANG KECIL, MENGAMANKAN UANG BESAR.  Kalau kita tak DIPAKSA menyisihkan uang kecil, maka kita akan TERPAKSA mengeluarkan uang besar.

Maka, sebelum berpisah saya berpesan pada beliau, kuncinya hanya satu : disiplin.  Jangan silap dengan keinginan menghabiskan semua uang.  Karena ketika semua habis, maka riwayat kita juga habis.  Semoga terinspirasi.

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…

WARISAN ITU BERKAH ATAU MASALAH ?

Sebut saja namanya Fulan. Orangtua Fulan kaya raya, pengusaha suplai besi untuk beton dan pekerjaan sejenisnya. Jelas, hartanya banyak termasuk sebuah rumah megah dua lantai di sebuah Perumahan elit di Semarang. Nilai taksirannya -kata Fulan- sekitar Rp 1.5 miliar. Rumah senilai segitu di Semarang, jelas lumayan elit.

Hingga cerita ini dimulai. Alkisah orang tua Fulan meninggal dunia, meninggalkan usaha (yang belakangan Fulan tak bisa mengelola dan meneruskannya, karena tak pernah terlibat di dalamnya), dan rumah mewah itu. Karena tak lagi meneruskan usaha, membiayai rumah sebesar itu tentu menjadi beban berat bagi Fulan. Tagihan listrik bengkak luar biasa (hampir diputus) dan Fulan memutuskan untuk menjual rumah, dengan putus asa.

Persoalan timbul saat akan menjual rumah "mahal" itu adalah adanya biaya-biaya yang timbul, proses notaris, pajak jual beli, balik nama sertifikat, dan biaya lain Rumah senilai Rp 1.5 miliar butuh biaya untuk proses jual bel…