Skip to main content

Hidup ini Seperti Perang Krimea (Kisah Nyata ibu Melani)

Pernah mendengar soal Perang Krimea ? Perang ini terjadi tahun 1853-1856 antara Kekaisaran Rusia melawan sekutu antara Britania Raya, Perancis, Kerajaan sardinia dan Kekaisaran Utsmaniyah.  Perang yang terjadi di semenanjung Krimean (sebagian lagi di Turki Barat dan Baltik); adalah perang yang menjadi inspirasi perang modern masa depan; karena kemenangan Perang bukan cuma ditentukan oleh kekuatan pasukan, tapi juga kekuatan perencanaan dan taktik Logistik.  Logistik tak cuma soal barang, namun pengaturan uang dan pembelanjaan keperluan pasukan.

Surat Tanda Bukti Dan Pendidikan Terjadwal Ibu Melan
Hari kemarin saya mendengar kisah Ibu Melan.  Beliau menyampaikan ini, saat 145 hari sejak ditinggalkan sang suami tercinta Alm. H Edis.

Almarhum semasa hidupnya terkenal ulet dan rajin.  Usaha outlet telepon selulernya sempat meraja di kota Bogor, sebelum akhirnya tutup karena ditipu oleh rekan bisnisnya.  Tak cuma ulet, beliau ternyata memberi perhatian lebih pada Strategi Perencanaan Keuangan, terutama untuk "pasukan garis depannya kelak" yaitu anak-anaknya.

Almarhum H Edis barangkali tak pernah belajar soal Perang Krimea.  Tapi Perang Krimea memang karena ditentukan dengan perencanaan taktis garis belakang yang kuat.  Begitu juga yang dilakukan beliau semasa hidupnya.

Saat bercerita, bu Melan dengan bangga menunjukkan dana pendidikan  (Study Link Manulife) yang sudah disiapkan untuk putri meraka sampai wisuda nanti. Program ini dibeli 4 tahun yang lalu dengan premi yang minimal yaitu sebesar Rp. 3 juta setahun. Suami Bu melan,baru 2 kali membayar premi, dan tiba-tiba suaminya bu Melan kena musibah stroke. Akhirnya preminya dibebaskan oleh Manulife vdan sampai tahun ke 4 akhirnya suami bu melan dipanggil Allah. Subhanallah.  Betapa beruntung bu Melan dan putri-putrinya, di saat banyak "orang kaya" kebingungan saat mau membayar uang sekolah anaknya. Bu Melan justru sdudah tidak perlu memikirkan dana pendidikan anaknya sampai kuliah selesai.  Mengapa Manulife yang dipilih? karena ibarat Sekutu, Manulife memiliki pasukan yang hebat dan strategi perang yang jitu.  banyak napoleon disana, hingga kaisar Ottoman mengaku kalah.  Dia tak cuma besar, namun juga kuat dan terpercaya.

Maka, belajar dari Perang Krimean dan kisah bu Melan, sudah seharusnya kita merenungkan, apakah sudah siap kita menyimpan "logistik" dalam "gudang" yang "baik, aman dan terpercaya"; agar tak cuma logistik kita terjamin sampai pada waktunya, juga berkembang dengan baik.  Berlebih selalu lebih enak daripada berkekurangan.

Anda ingin jadi Ottoman yang menyerah atau Napoleon yang menang gilang gemilang?  Pendidikan anak anda taruhannya.  Putra-Putri anda harus menang di "perang masa depan". Sekali lagi, hidup itu soal pilihan.

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam. Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal. Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara".  Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa?  Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubun

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya). Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :   http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.html Namun, kisah ibu nasabah (y ang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman. Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi. Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit L