Skip to main content

Istri yang Tak Beruntung

Begini ceritanya.  Sore itu, dua tahun lalu,  saya ketemu calon klien.  Katakan namanya pak Rama, dan istrinya bu Sinta.  Pak Rama adalah seorang pengusaha, bisnisnya berdagang alat-alat kesehatan sudah lumayan moncer. Ibu Sinta seorang Ibu Rumah Tangga.   Dari beberapa kali pembicaraan, beliau tertarik dengan program Value Protector, dimana dia pengen, saat dia sakit/meninggal nanti, semua kebutuhan keluarga yang selama ini ditopang dari hasil kerja dia tetap dapat terpenuhi, tak berkurang satu peser pun. 

Pak Rama ingin, saat dia meninggal, standar kehidupan keluarganya minimal tetap seperti sekarang ini; tetap bisa sekolah di sekolah terbaik, berekreasi dan menikmati hidup di kalangan menengah atas.

Datanglah hari itu.  Pak Rama sudah paham 180% penjelasan saya, dan sudah confirm untuk mengambil program Value Protector dengan uang pertanggungan 3 Milyar rupiah.  Kami ngobrol sambil ngopi di teras belakang rumah, sambil menikmati semilir angin dari kolam renang.  Segepok uang tunai sudah siap beliau setorkan ke Bank untuk pembayaran Premi... hingga datanglah Ibu Sinta.

Dengan bersungut, ibu Sinta mengambil gepokan uang yang sedianya akan disetor, dan berkata ketus ", buat apa uang banyak-banyak dibayarkan ke asuransi, tidak ada gunanya".  Dibawanya gepokan uang itu pergi ke kamar.  Pak Rama terbengong, saya apalagi.  Singkat cerita, batallah transaksi hari itu.

 Hingga datang hari itu.  Pak Rama mengalami kecelakaan lalu lintas, dan meninggal di tempat.  Berselang seminggu setelah itu, saya mendengar kabar dan bergegas menyambangi rumah alm. Pak Rama. Ditemui Ibu Sinta, yang masih merah matanya (karena terlalu banyak menangis), saya hampir tak bisa berkata apa-apa.  Ibu Rama hanya tersedu, berkata singkat ", Saya adalah istri yang tak beruntung". 

Rupanya, Tak banyak yang bisa ditinggalkan pak Rama untuk keluarga saat "kepergiannya" yang mendadak.  Asuransi tak ada, tabungan tak seberapa. 

Ibu Sinta tak seberuntung Istri-istri lain di luar sana yang bersuka cita melihat suaminya membeli polis asuransi untuk melindungi income-nya.  Penyesalan akhir memang tak ada guna.

Maka, berkaca pada kisah ibu Sinta, adakah anda istri yang beruntung ?  tanyakan pada
suami anda.

*Kisah ini Fiktif, tapi banyak terjadi di luar sana*

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

APAKAH UNITLINK TERMASUK PAPER ASSET?

Tulisan ini sebenarnya hanya merespon postingan seorang perencana keuangan tentang kisah nasabahnya.

Alkisah, nasabahnya seorang lelaki yang penghasilannya (katakan) Rp 10 Miliar per tahun. Dengan gaya hidup yang konservatif, si nasabah baru sadar bahwa di akhir tahun tabungan dia hanya Rp 3 Miliar. Sisa uangnya kemana, padahal dia dugem enggak, travelling pribadi dalam batas wajar, makan mewah jarang banget ...

Lalu, perencana keuangan tersebut melakukan bedah perkara. Dari hasil bedah perkara, ditemukan beberapa sebab. Seperti dia terlalu mudah percaya pada orang, sehingga dengan mudah meminjamkan uangnya pada saudara atau teman dengan dalih modal usaha (yang akhirnya nggak balik lagi).

Namun, ada satu hal dari nasehat perencana keuangan itu yang menurut saya tidak pas. Yaitu : Menurut perencana keuangan itu, adalah keliru nasabah memiliki banyak unit link karena “investasi” di unit link itu justru menggerus uangnya.

Saya kira pendapat ini tidak pas, terutama soal pendapat “investa…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…