Skip to main content

Tidak tahu Harusnya Tanya, Bukan Protes

Tulisan saya di Blog dan Facebook, tentang 10 Tips Menghindari Agen Asuransi menuai hasil juga. Seorang kenalan -maksud saya saya cuma kenal di FB saja- protes keras dengan isi  tulisan saya.  Katanya ", Anda kok seolah menjustifikasi kalau ada orang tidak membelikan asuransi buat keluarganya, itu nggak sayang sama keluarganya".

Saya tanggapi chat nya di FB dengan senyum-senyum.

Saya : Mas, sebenernya inti protesnya apa? apakah karena soal mas yang belum punya asuransi atau karena saya menuduh mas tidak sayang keluarga?.

Dia : saya protes, anda terlalu menggenalisir, saya sayang keluarga saya tanpa harus membelikan asuransi.

Saya : Oh ya, bagus kalau begitu, anda seorang seuami dan ayah yang hebat lho.  Jarang lho ada yang mau ngaku terus terang gini sayang sama keluarga.... tapi by the way, jadi apa dong wujud sayang keluarganya...saya jadi penasaran nih. hehehehe.... (*saya becandain dia*)

Dia : Owwhh... ya standar mas, saya kerja keras; gaji saya buat keluarga, saya nabung sedikit-sedikit, juga buat keluarga.  Nggak usah asuransi juga nggak apa-apa...

Saya : Kereeennn... mantap mas itu.  Berarti tabungannya udah banyak dong...

Dia : Belum juga sih, saya kan nabung baru 10 tahun.

Saya : Ya, paling nggak cukup lah mungkin ya buat Umroh atau naik haji ya mas...hehehehe

Dia : Nggak juga, kebetulan perlu juga kadang-kadang buat anak sekolah; apalagi kalau kadang ada yang sakit masuk Rumah sakit.  ya pasti kemabil deh tuh tabungan ... (*eh, si mas malah curcol akhirnya)

Saya :  Nah, mas...itulah sebenernya perlunya asuransi.  Kalau misal Mas merokok, bujet rokok itu bisa lho buat beli "proteksi" kesehatan.  Masuk Rumah sakit nggak perlu bayar, atau anak masuk sekolah juga nggak perlu bayar (maksudnya, dibayarin sama uang yang disimpen/diinvestasiin di Asuransi).

Dia : Lho, bukannya kalau Asuransi itu kalau nggak ada klaim duit hangus ya?

Saya : (*dalam hati saya : eh, udah ngotot nggak ada ilmunya si Mas ini...hadeeuuhh.  Tapi dalam hati aja lho).  Begini mas, itu salah satu bentuk asuransi tradisional.  Asuransi udah berkembang lho.  Bayangkan, sekarang mas bisa simpan uang sekaligus keluarga dikasih uang warisan, kalau misalnya mas meninggal...kan meninggal itu pasti, malah lebaran yang nggak pasti lho mas...

Dia : (*diam kira-kira 5 menit, mungkin lagi ke toilet atau lagi mikir keras).  O begitu ya pak.  Kok bisa?

Saya : mas buka lagi blog saya ya... banyak info di sana, kalau nerangin lagi lama mas...hahaha... tapi itu kira-kira.  Jadi kalau nabung di bank kan nggak ada warisan, malah kalau kita "jatuh tempo" uang kita makin habis...

Dia : (*diam lagi kira-kita 10 menit, busyeet saya musti nungguin nih*).  Waduh, sip mas.  saya tadi baca-baca dikit.  kayaknya kapan-kapan kita musti ngobrol nih.  Mas di Jakarta kan?

Saya : Saya di Bogor mas, gampang bisa diatur.  saya juga ada bisnis di jakarta kok...ntar telepon saya aja ya.

Dia : sip pak, saya SMS nanti (*jiiaaahhh, nggak modal bener nih si Mas*).

Chat saya close, lalu saya bergumam dalam hati.  Betapa banyak orang di luar sana yang sebenernya tak tahu konsep Asuransi, tak memiliki cukup pengetahuan pengelolaan keuangan keluarga.  Maka, saya berharap anda yang baca tulisan ini, jangan sampai juga seperti itu.

Mungkin sekarang ini waktu yang tepat buat berdiskusi dengan saya.

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam. Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal. Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara".  Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa?  Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubun

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut. Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda. Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kredi