Skip to main content

MARI BERHITUNG (Sequel 2)

Tadi siang, saya makan siang dengan seorang klien usaha.  Sambil berbincang santai, saya tanyakan apakah dia memiliki asuransi?

Dengan sedikit tertawa - mengira pertanyaan saya hanya bercanda - dia menjawab : "asuransi, buat apa? ngabis-ngabisin duit aja".

Terus terang saya terperanjat, tapi dengan berseloroh saya bilang. apakah anda tidak belajar ilmu perencanaan keuangan, hingga berpendapat bahwa asuransi hanya menghabiskan uang belaka.

Lalu, kami mulai berdebat dan berhitung.

Saya tanyakan pertama adalah, berapa NILAI EKONOMIS dia?  Dengan terperanjat, dia bilang tak tahu apa maksud saya.  Sayapun nyerocos.  Katakan pendapatan dia per bulan yang dipakai untuk memenuhi standar hidup keluarganya adalah Rp 20 juta/bulan, maka NILAI EKONOMIS dia adalah Rp 20 juta x 12 = Rp 240 juta/tahun.

Lalu pertanyaan saya kedua, kapankah anda akan mati ?  Dia lebih kaget dan wajahnya tersirat agak marah mendengar pertanyaan saya.  Saya bilang, "Bung, setiap orang akan mati, tinggal masalah kapan kan? lalu kenapa musti marah ? Persoalannya siapkah kita mati besok, lusa atau  dua tahun lagi.  Tak hanya siap amalan buat bekal di akhirat, tapi juga materi buat keluarga yang ditinggalkan.  Raut mukanya langsung mengendur, dan balik bertanya, "lalu bagaimana maksudnya?".

"Begini", sambung saya.  Hitung kebutuhan keluarga anda -supaya tak turun standarnya- adalah Rp 240 juta/tahun.  Itu mandatory alias harus ada, supaya hidup keluarga yang ditinggal tak sengsara.  Kalau anda sudah tak bisa cari nafkah -katakan karena meninggal - artinya dengan tingkat suku bunga bank -katakan- 5 % pertahun, anda harus sediakan deposito Rp 4,8 milyar di rekening.  Supaya, ketika jatuh tempo, bunga "yang bisa dikirim" ke keluarga sejumlah minimal Rp 20 juta/bulan.

Dia makin berkerut, dan saya melanjutkan.

Pertanyaannya, apakah hari ini anda punya dan siapkan Rp 4,8 milyar di rekening?  Dia tercenung, diam.  Saya lanjutkan lagi.

Maka, produk keuangan mana di dunia ini yang bisa menyediakan "warisan" sebesar itu saat anda meninggal, dengan hanya anda rajin menyisihkan Rp 1-2 juta/bulan, dengan jaminan penuh, kapan saja anda meninggal Rp 4,8 milyar itu akan sampai ke keluarga anda ?
Bayangkan menabung -katakan- Rp 2 juta/bulan, tapi bisa mewariskan Rp 4,8 milyar?  Jadi, beli asuransi bukanlah seperti beli barang, yang uang hilang serta fitur atau kegunaa barang tsb habis lalu dibuang.  Asuransi justru akan sangat bernilai buat keluarga yang kelak akan ditinggalkan.

Saya melihat secercah cahaya dari raut mukanya.  Saya tak kalah semangat melanjutkan.  "Jaman ini, produk asuransi tak melulu asuransi jiwa -yang konon- preminya bakal hangus kalau tidak terjadi resiko.  Jaman sudah maju", kata saya.  Lanjut saya," kini sudah ada asuransi yang dilengkapi produk investasi/tabungan untuk pemenuhan niat berhaji, sekolah anak atau kesehatan".  Apalagi hari -hari ini hidup makin beresiko.

Maka ambillah asuransi, sisihkan Rp 1-2 juta/bulan sebagai wujud cinta kepada keluarga yang ditinggalkan.  Pilih perusahaan asuransi yang terpercaya, jangan yang abal-abal atau hebat di promosi iklan saja.  Untuk itu, saya siap membantu anda.

Coba renungkan, benar kan apa yang saya sampaikan ke klien saya itu?  kalau benar, kenapa anda masih belum juga punya asuransi?


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

KAN SAYA MASIH HIDUP ...

“Harta, sebenarnya belum bisa dikatakan pembagian harta karena saya masih hidup. Tetapi saya tetap akan membagikan hak mereka masing-masing sesuai dengan peraturan agama,” ujar ibu Fariani. Ibu Fariani adalah seorang ibu dengan empat orang anak yang baru saja ditinggalkan suaminya Ipda Purnawirawan Matta. Almarhum meninggalkan harta waris berupa tanah, rumah dan mobil senilai Rp 15 Miliar. Pada bulan Maret 2017, ketiga anak ibu Fariani mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama Kota Baubau, Sulawesi Tenggara dengan nomor 163/ptg/ 2013/PA/2017, yang inti gugatannya : Meminta bagian mereka selaku ahli waris yang sah atas harta waris almarhum ayah mereka. Dunia makin aneh? Anak kurang ajar? Tidak. Banyak orang yang memiliki pendapat seperti ibu Fariani, sebagaimana yang saya kutip di paragraf pertama di atas. Pendapat yang KELIRU. Begitu seorang suami meninggal dunia, maka hartanya tidak serta merta menjadi miliki istri atau anak-anaknya. Harta itu berubah menjadi harta tak be…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…