Skip to main content

Mau Berkah Barokah, ya Syariah

Sepulang Umroh beberapa hari lalu, entah kesambet malaikat apa, teman saya- sebut saja namanya- Hadi tergopoh-gopoh menelpon saya.  Nadanya bersemangat, mengajak saya makan siang.  Rezeki nomplok pikir saya.

Hadi, beberapa minggu sebelum umroh berdiskusi dengan saya soal rencananya menginvestasikan dananya ke Manulife, supaya juga ada proteksinya.  Mungkin, pikir dia, kali aja dapat berkah bisa meninggal di Mekkah maka ada yang dia bisa wariskan buat keluarga-tentunya selain tabungan yang dia investasikan.  Tapi diskusi itu belum berlanjut, karena konsentrasi mempersiapkan umroh rupanya mengalahkan segalanya.

Dan hari ini, raut mukanya nampak bersinar dan berbeda.  Pertanyaan pertama yang dia ajukan," Bro, bisa nggak aku berinvestasi di Produk Syariah? .  Maka pertanyaan ini saya sambut dengan antusias. "Begini, bagus kalo Hadi sudah ada kesadaran berinvestasi dan mendapatkan proteksi secara syariah, karena itu akan membawa berkah", kata saya. 
Dia penasaran,"Maksudnya gimana bro ?

"Ya, karena konsep asuransi+proteksi syariah berbeda dengan konsep konvensional", Jelas saya.  Wajahnya makin nampak bingung, maka saya teruskan," Dalam konsep asuransi+investasi syariah, kita tidak membayar premi ke perusahaan asuransi, tetapi mengumpulkan secara sukarela (hibah) bersama sekumpulan atau sekelompok orang dengan keinginan yang sama dan uang kumpulan itu (dinamakan: Tabbarrru) akan dikelola oleh Perusahaan Asuransi (dengan pengawasan Dewan Syariah) untuk membayar klaim".  Perusahaan Asuransi hanya mengelola.

"Oya?", matanya terbelalak.  "Artinya Premi yang kita bayarkan bukan sebagai pendapatan perusahaan asuransi, dan klaim yang kita ajukan bukan sebagai biaya perusahaan suransi dong", tanyanya menyelidik, sambil tetap terbelalak.  "Betul", jawab saya tak kalah galak.  Sehingga prinsip berbaginya kental banget.  Hebatnya lagi, nanti ada semacam "bonus" kalau tabarru yang terkumpul itu tak habis untuk membayar klaim.  " Jadi prinsipnya kalah menang ditanggung bersama", kata saya.

Dia mengeluarkan secarik kertas, rupanya memori otaknya mulai berontak, susah menampung penjelasan saya.  "Lalu gimana bro, itu baru dari sisi proteksinya, kalau dari sisi investasinya bagaimana, apakah se prospektif produk investasi konvesional", berondongnya.

Saya tak mau kalah, saya keluarkan juga contekan dari dalam tas saya.  " Lihat", kata saya sambil mengansurkan kertas berisi data-data ke Hadi.  "Kinerja pasar modal di BEI (Bursa Efek Indonesia) itu saat ini ditopang oleh 70% saham syariah, bayangkan transaksi di BEI itu senilai Rp 5.1 Trilyun/hari."  Puyeng juga rupanya dia mendengar kata 5 trilyun rupiah per hari.

Saya tunjuk data lain,"Lihat, Ditinjau dari pertumbuhan harga saham syariah, kapitalisasi saham syariah dan pertumbuhan kapitalisasi sahamnya jelas di atas saham konvesional; artinya sudah berkah (InsyaAllah bebas Riba), juga berkembang baik". 

Entah ngerti atau bingung, sambil mengetuk-ngetuk tuts kalkulator dismartphone nya, dia berhitung.  Saya lihat dia mulai menyerah dengan kebingungannya", Lalu gimana bro, saya harus menempatkan danaku dimana, supaya nilai ekonomisku terlindungi (dari asuransi) dan duit tabunganku berkembang tetapi tetap terjamin ke-halal-an hartaku?"
Saya sambar pertanyaan dia dengan senjata pamungkas."Pilih perusahaan yang kredibel.  jangan berurusan dengan brosur atau iklan, Pilih perusahaan dengan RAR (Risk Adjustment Return) tertinggi, artinya dari resiko 1% bakal dikompensasi keuntungan/return berapa %.  Kayaknya Manulife paling oke, dia RAR paling tinggi (kalau tak kliru 1,02%); dibandingkan IHSG yang 0.86%.  Juga lihat nilai Surplus Underwritingnya; semacam "bonus" yang diberikan karena pada periode tertentu  karena tabbarrru yang dikumpulkan tak banyak terpakai buat bayar klaim".

Walaupun mukanya bingung, saya lihat dia mulai sedikit-sedikit sadar," Jadi uang kita tetap berkah, warisan buat keluarga terjamin, dan yang paling penting investasi berkembang sesuai prinsip syariah ya Bro", pungkasnya.  Kali ini, singkat dan padat, saya jawab", Betul !

Lalu, karena nasi bakar dan soto ayam yang kami pesan sudah datang, sambil sesekali menyendok nasi ke mulut, Hadi menyampaikan keputusan baik, dia mau bergabung dalam "kelompok syariah' Manulife.  Demi keluarganya dan keberkembangan hartanya.  Perjalanan Umroh, benar-benar perjalanan rohani buatnya.  Selamat ya Di... keluargamu pasti bangga banget.

Anda mau dapat pencerahan seperti mas Hadi, bisa kontak saya atau Financial Advisor terdekat anda.  Jangan sampai salah langkah gara-gara iklan atau brosur.

--- Cerita fiktif, disarikan dari berbagai kejadian yang saya alami di dunia nyata ---

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam. Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal. Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara".  Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa?  Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubun

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut. Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda. Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kredi