Skip to main content

SECARA TEKNIS : BANGKRUT

Cerita ini saya unggah atas ijin dari ayah klien saya. Ayah klien saya inilah yang mengenalkan saya pada klien, dan tujuan menceritakan ini semata sebagai bahan pelajaran untuk kita semua.

Klien saya ini adalah laki-laki usia menjelang tengah 30-an, suami dari seorang istri, ayah dari seorang anak berumur tiga tahun. Usia pernikahan mereka baru menginjak tahun ke lima pada 2018 ini.

Suami istri bekerja, dengan total pendapatan sekitar Rp 65 juta per bulan, ini yang membuat mereka masuk golongan menengah menjelang atas.

Klien saya bekerja di sebuah perusahaan jasa yang karena pekerjaannya, mengharuskan banyak melakukan perjalanan dinas dan menjamu rekanan. Tentu saja semua pengeluarannya ditanggung kantor.

Istrinya bekerja untuk sebuah perusahaan energi multinasional, hobinya memelihara kucing. Di rumah, istrinya memelihara lima ekor kucing "mahal".

Karena kantornya terpisah, mereka masing-masing memiliki satu buah mobil. Rumah? Selama limat tahun mereka mengontrak satu unit apartemen kelas menengah di Jakarta.

Cerita berawal ketika mereka memutuskan untuk membeli rumah. Rumah yang mereka incar di sebuah kawasan pinggir Jakarta harganya sekitar Rp 1.5 Miliar, yang diputuskan dibeli dengan memanfaatkan KPR Bank.

Untuk DP, orang tua klien saya membantu sebagian (besar). Masalahnya muncul ketika pengajuan KPR. Dua kali pengajuan KPR, dari dua bank yang berbeda klien saya ini ditolak. Ayah klien saya tak habis pikir, bagaimana dengan profil total penghasilan di atas Rp 60 juta per bulan, bank menolak permohonan KPR mereka ?

Telisik punya telisik, ternyata klien saya dan istrinya memiliki "tunggakan" di beberapa lembaga jasa keuangan.

Dari kartu empat kartu kredit yang mereka miliki, total plafon hampir Rp 300 juta, nyaris semua dalam kategori "bermasalah". Belum lagi cicilan mobil yang seringkali terlambat bayar. Singkat kata hasil "BI Checking" mereka buruk.

Maka kemarin sore kami bertemu untuk mengurai di mana kesalahan klien saya ini. Kemarin, kami hanya fokus pada tagihan kartu kredit.

Dari cetakan tagihan klien saya, didapati dalam tahun 2017 saja ada traksaksi untuk kategori "Luxury Leisure" total nyaris senilai Rp 500 jutaan, yang ketika kami "peretelin" dalam beberapa kategori :

1. Kategori Menjamu Rekanan : Rp 150 jutaan. Lho bukannya menjamu rekanan (kebanyakan di restoran dan cafe "fancy") itu diganti kantor? YA. Tapi ternyata uang penggantian dari kantor tidak dipakai untuk membayar kartu kredit yang dipakai, namun dipakai keperluan lain.

2. Kategori Rekreasi Keluarga : Rp 190 jutaan. Karena tekanan pekerjaan yang tinggi, membuat keluarga ini merasa kesempatan bertemu yang sangat langka harus diisi dengan wisata, travellling (setahun sekali keluar negeri), menginap di hotel (mahal) dan makan di restoran bagus.

3. Kategori Hobi : Rp 150 jutaan. Klien saya memiliki hobi modifikasi mobil, saya temukan satu transaksi untuk beli velg dengan kartu kredit senilai Rp 20 jutaan. Belum lagi untuk audio mobil, puluhan juta juga. Istrinya yang hobi memelihara kucing, menghabiskan kira-kira Rp 60 juta per tahun hanya untuk makanan dan perawatan lima ekor kucing.

Semua transaksi itu dibebankan pada kartu kredit yang tak bisa dibereskan pada bulan berjalan, hanya dibayar tagihan minimal-bahkan kadang kurang dari tagihan minimal - karena mereka juga perlu membayar biaya penampilan, kontrak apartemen dan servisnya, cicilan dua mobil, gaji baby sitter, sekolah Pre School anaknya dan aneka rupa kebutuhan lain.

Klien saya memiliki Asuransi Kesehatan dari kantor yang menurut saya plafonnya sangat minim. Tak punya Asuransi Jiwa, tak punya investasi apapun. Saldo di tabungannya juga tak sampai mencapai angka belasan juta.

Sehingga kemarin kami berdiskusi hangat. Tentu Langkah Pertama, persoalan Hutang Kartu Kredit ini harus dibereskan, karena selain menyangkut jumlah yang besar, bunganya juga sangat besar. Beberapa skema restrukturisasi hutang kami siapkan.

Langkah kedua, adalah menyiapkan asuransi jiwa untuk mengamankan istri klien bila klien mengalami resiko meninggal dunia. Itu Hutang pasti langsung jatuh tempo, dan istri yang harus membereskan. Tadinya istri klien saya ini keberatan dengan solusi "berbau" asuransi ini. Saya coba jelaskan konsep dan cara kerjanya bahwa dalam kondisi tanpa asset yang memadai, apa yang harus diandalkan bila benar hutang yang jatuh tempo itu "dipaksa" harus dilunasi ?

Langkah ketiga, mulai menyusun strategi investasi. Tentu pada kondisi seperti ini, kami sepakat pada beberapa asset investasi yang bisa didapatkan dengan "modal" kecil, bisa dicicil dengan disiplin. Di sinilah peran produk UNIT LINK. Memastikan Target Investasi klien tercapai : mau dia panjang umur, maupun pendek umur.

Diskusi empat jam tak terasa, dari sana saya belajar :
1. Banyak orang pinter cari duit, tapi soal mengelola duit? Kelihatannya WAH di luar, namun secara teknis mereka ini bangkrut. Bangkrut dengan resiko sangat besar...meninggalkan hutang untuk keluarga.
2. Banyak yang merasa "aman" dengan jumlah penghasilannya saat ini, tapi abai terhadap apa yang mungkin terjadi di masa depan. Kurang antisipasi.

Familiar dengan kisah ini?

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…

WARISAN ITU BERKAH ATAU MASALAH ?

Sebut saja namanya Fulan. Orangtua Fulan kaya raya, pengusaha suplai besi untuk beton dan pekerjaan sejenisnya. Jelas, hartanya banyak termasuk sebuah rumah megah dua lantai di sebuah Perumahan elit di Semarang. Nilai taksirannya -kata Fulan- sekitar Rp 1.5 miliar. Rumah senilai segitu di Semarang, jelas lumayan elit.

Hingga cerita ini dimulai. Alkisah orang tua Fulan meninggal dunia, meninggalkan usaha (yang belakangan Fulan tak bisa mengelola dan meneruskannya, karena tak pernah terlibat di dalamnya), dan rumah mewah itu. Karena tak lagi meneruskan usaha, membiayai rumah sebesar itu tentu menjadi beban berat bagi Fulan. Tagihan listrik bengkak luar biasa (hampir diputus) dan Fulan memutuskan untuk menjual rumah, dengan putus asa.

Persoalan timbul saat akan menjual rumah "mahal" itu adalah adanya biaya-biaya yang timbul, proses notaris, pajak jual beli, balik nama sertifikat, dan biaya lain Rumah senilai Rp 1.5 miliar butuh biaya untuk proses jual bel…