Skip to main content

BPJS BUKAN ASURANSI ?

Sudah baca harian Kompas Hari ini? Di halaman 13 ada berita yang ditulis dengan judul yang sangat besar. Ada di foto.

Lalu mengapa BPJS bisa tekor seperti ini? Ada "hoax" yang bilang bahwa karena gaji pengelolanya terlalu tinggi, sehingga membebani Layanan yang harusnya diberikan oleh BPJS. Saya bukan direksi atau karyawan BPJS, tapi saya berani bilang itu hoax. Mengarang bebas.
Begini ...

Salah satu pekerjaan penting dalam organisasi Asuransi adalah pekerjaan Aktuaria.
Ini adalah bagian yang mematahkan pendapat bahwa ikut Asuransi itu berjudi. Setor kecil dan pengen dapat besar. Bayar sekarang, tak tahu dapatnya kapan. Bila yang berpendapat seperti itu, saya yakin karena belum baca buku atau -minimal- belajar soal Asuransi. Hanya nggak suka : nggak suka bayar premi atau nggak suka sama agen asuransi.

Aktuaria dalam pekerjaan Asuransi berdiri di garda paling depan. Aktuaria yang menentukan seorang nasabah BISA DITERIMA atau TIDAK, kalau DITERIMA dia harus bayar IURANnya berapa dengan persyaratan tambahan apa (misal : medical check up, extra premi dan pengecualian coverage).
Bekerja atas dasar apakah para Aktuaris ini? Apakah para Aktuaris ini terdiri dari "God of Gambler" semacam Chow Yun Fat dan Andy Lau?

Ilmu aktuaris ini adalah cabang ilmu yang merupakan penggabungan antara ilmu Matematika, Statistika, Ekonomi dan Keuangan.

Mereka menghitung Potensi Resiko seseorang atau sebuah asset berdasar : Data "Past Performance"kejadian atas objek dengan kriteria yang sama, Menghitung Probabilitas kejadian yang sama terulang di masa depan dengan Rumus Matematika dan Statistika yang rumit, serta memegang pedoman Hukum Bilangan Besar.

Sekolahnya susah. Dulu profesi Aktuaris ini harus melalui proses pelatihan yang panjang dan melelahkan, namun kini sudah ada sekolah yang mencetak Sarjana Aktuaria. Salah satunya adalah IPB... ya Institut Pertanian Bogor. Dimana Jurusan ini adalah pengembangan dari Jurusan Matematika.

Dan saya tahu persis, Chow Yun Fat tidak mengajar di IPB.

Lalu apa hubungannya dengan BPJS ? BPJS adalah Jaminan Sosial atas (Pembayaran) Biaya Kesehatan Rakyat Indonesia. Ini hanya ada di Indonesia? Enggak. Di hampir semua negara maju ada model BPJS ini.

Di luar Indonesia, biasanya model BPJS ini dibiayai oleh negara dari Pajak. Kok Indonesia tak bisa? Ya karena jangankan untuk membayar iuran total peserta BPJS yang jumlahnya 180 jutaan, buat bikin jalan dan kereta api saja masih tekor.

Makanya, tidak semua peserta digratisin oleh pemerintah. Yang digratisin BPJS masuk dalam program Kartu Indonesia Sehat (KIS). Sisanya ya harus bayar iuran yang "murah", lha paling mahal cuma Rp 80ribu. Setara tiga kali bensin motor Mio yang dipakai dari Rumah ke Minimarket, atau secangkir Caramel Macchiato di Kedai kopi.

Peserta dapat bergabung sebagai peserta BPJS dan memanfaatkan fasilitasnya TANPA melalui proses seleksi Aktuaria. Perlakuan untuk yang korengan sampai jantungan sama : daftar, sanggup bayar iuran ...jadilah peserta.

Apa bedanya dengan Asuransi Kesehatan kalau begitu?

Kalau untuk menjadi peserta Asuransi Kesehatan, seseorang harus menjalani serangkaian proses Aktuaria. Dicek umurnya (makin tua, makin mahal karena resikonya makin besar), dan tentu dicek riwayat kesehatannya. Aktuaris berhak menerima dan menolak calon peserta. BPJS tak begitu...
Setelah itu, di Asuransi, bila diterima ada masa tunggu, ada "survival period". Di BPJS, misal sudah jantungan, praktis begitu sudah menjadi peserta, bisa langsung dipakai kartu itu untuk "berobat".
Maka, tak heran bila banyak terjadi keterlambatan klaim RS oleh BPJS (baca Kompas), karena antara IURAN yang masuk, dengan KLAIMnya tak seimbang. Terlalu banyak Klaim daripada uang iuran, karena uang iuran sama rata-sama rasa : tidak dibedakan berdasar tingkat resiko. Dan cenderung terlalu murah akhirnya.

Itu mengapa saya bilang, BPJS bukanlah Asuransi Kesehatan. BPJS adalah Jaminan Sosial berbasis Iuran. Namanya Jaminan Sosial seharusnya "penikmatnya" adalah pihak yang kurang mampu.
Buat yang mampu -terutama secara ekonomi- pilihannya bayar biaya perawatan RS pakai uang tabungan atau milikilah Asuransi Kesehatan yang disiapkan perusahaan Asuransi. Jangan kayak orang susah. Karena ada Harga, ada Rupa.

Jadi soal BPJS, Asuransi : Benci boleh, bodoh jangan

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

KAN SAYA MASIH HIDUP ...

“Harta, sebenarnya belum bisa dikatakan pembagian harta karena saya masih hidup. Tetapi saya tetap akan membagikan hak mereka masing-masing sesuai dengan peraturan agama,” ujar ibu Fariani. Ibu Fariani adalah seorang ibu dengan empat orang anak yang baru saja ditinggalkan suaminya Ipda Purnawirawan Matta. Almarhum meninggalkan harta waris berupa tanah, rumah dan mobil senilai Rp 15 Miliar. Pada bulan Maret 2017, ketiga anak ibu Fariani mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama Kota Baubau, Sulawesi Tenggara dengan nomor 163/ptg/ 2013/PA/2017, yang inti gugatannya : Meminta bagian mereka selaku ahli waris yang sah atas harta waris almarhum ayah mereka. Dunia makin aneh? Anak kurang ajar? Tidak. Banyak orang yang memiliki pendapat seperti ibu Fariani, sebagaimana yang saya kutip di paragraf pertama di atas. Pendapat yang KELIRU. Begitu seorang suami meninggal dunia, maka hartanya tidak serta merta menjadi miliki istri atau anak-anaknya. Harta itu berubah menjadi harta tak be…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…