Skip to main content

The Founder

"...hari masih Rabu, saat dia berusaha menemui serta berbicara dengan orang ke seribu yang diharapkannya menerima serta menjadi investor atas idenya. Tom Seay,orang ke seribu itu, sudah tiga kali membaca proposal "gila" itu dan mencoba menghindar dengan berkata,"Aku tak bisa menjanjikanmu apa-apa, tapi datanglah hari Senin pekan depan karena aku akan memikirkannya sepanjang akhir pekan".

Di hari Senin yang dingin, dia sudah berdiri di pintu depan pintur kantor Tom Seay. Tom mengajaknya masuk dan berkata," Ray, saya sudah membaca rencana ini berkali-kali; bahkan berdiskusi dengan seorang teman. Dan kami berdua memutuskan bahwa sangat tidak mungkin kau bisa kaya dengan menjual hamburger,".

Dia, Ray Kroc, keluar dari kantor Tom pada usianya yang 50 tahun. Dengan tangan hampa
Dia hanyalah seorang sales alat pembuat es krim yang biasa-biasa. Bukan master atau genius bisnis. Dia temui Ronald dan MauriceMcDonald pemilik "warung" burger, menawarkan konsep baru penjualan, meyakinkan keduanya -walau Ray tak punya modal- serta berhasil membuka outlet pertamanya di tahun 1954. Tepat saat Ray berusia 52 tahun, usia saat orang lain memilih lelah dan leyeh-leyeh.

Pada tahun 1961, saat outlet McDonald mencapai 228 buah, Ray membeli "warung" itu dari McDonald bersaudara. Kini, "warung" burger itu sudah ada di 65 negara di dunia.
Tom Seay dan seribu orang yang ditemui Ray Kroc bilang "kamu tak akan berhasil", dan bila Ray Kroc memilih mendengar "kata orang" itu, maka mungkin sampai kini kita tak mengenal McDonald.

Karena, kata Ray Kroc yang saya ingat, BERHASIL itu berawal dari CARAMU BERFIKIR, sebelum sampai pada CARAMU BERTINDAK. BERHASIL sama sekali tak terkait dengan APAPUN yang KAMU MILIKI.
----------------------------------------
Disarikan dan Diolah kembali dari Buku : The Power of Attitude, Mac Anderson, Hal. 19

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

KAN SAYA MASIH HIDUP ...

“Harta, sebenarnya belum bisa dikatakan pembagian harta karena saya masih hidup. Tetapi saya tetap akan membagikan hak mereka masing-masing sesuai dengan peraturan agama,” ujar ibu Fariani. Ibu Fariani adalah seorang ibu dengan empat orang anak yang baru saja ditinggalkan suaminya Ipda Purnawirawan Matta. Almarhum meninggalkan harta waris berupa tanah, rumah dan mobil senilai Rp 15 Miliar. Pada bulan Maret 2017, ketiga anak ibu Fariani mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama Kota Baubau, Sulawesi Tenggara dengan nomor 163/ptg/ 2013/PA/2017, yang inti gugatannya : Meminta bagian mereka selaku ahli waris yang sah atas harta waris almarhum ayah mereka. Dunia makin aneh? Anak kurang ajar? Tidak. Banyak orang yang memiliki pendapat seperti ibu Fariani, sebagaimana yang saya kutip di paragraf pertama di atas. Pendapat yang KELIRU. Begitu seorang suami meninggal dunia, maka hartanya tidak serta merta menjadi miliki istri atau anak-anaknya. Harta itu berubah menjadi h

TUHAN TAHU, TAPI MENUNGGU

Pernah ketemu orang yang "terjebak" di masa lalu?.  Kemarin saya ketemu orang model seperti itu. Menemani salah satu anggota team saya melakukan "Joint Field Work" (JFW),  kemarin kami ketemu dengan calon nasabahnya, seorang pria usia 42 tahun di sebuah warung kopi di daerah Cibubur. Team saya bilang, dia sudah tiga keli ketemu calon nasabahnya ini, namun belum berhasil meyakinkannya juga. "Masih mbulet, banyak pertanyaan, mas", Ujarnya. Maka saya putuskan melakukan JFW. Kami sudah tiba di lokasi setengah jam sebelum pertemuan, dan dia hadir 25 menit dari waktu yang dijanjikan. Kalau itu calon nasabah saya, sudah saya tinggal dari tadi. "sori, macet", katanya berbasa-basi. Seperti biasa, setelah diperkenalkan, saya mengeluarkan dua kartu nama. Kartu nama pertama ada logo MDRT (Million Dollar Round Table), sambil menyampaikan bahwa saya adalah agen yang menjadi anggota MDRT Internasional, organisasi elit pelaku industri asuransi. K