Skip to main content

Raja Saudi Datang

Masih soal kedatangan Raja Saudi, masih belum bosen. Gambar di bawah (atau samping) adalah gambar uang Rp 5.000,- terbitan tahun 1958. Konon, uang segitu pada jaman itu bisa buat beli mobil.
Lalu apa hubungannya sama Raja Saudi?

Orang bilang Raja Saudi datang membawa uang US$ 25 Miliar. Benarkah begitu? Ternyata tak persis seperti itu. Persisnya adalah dia membawa KOMITMEN INVESTASI nyaris senilai US$ 25 Miliar. Baru komitmen, lha MoU-nya saja baru ditandatangani.

Datang dari mana uang yang dikomitmenkan itu? Datangnya dari (rencana) jual saham Saudi Aramco yang 5% itu. Konon nilainya US$ 100 Miliar, masih "konon" karena kejadian IPO baru akan ada di suatu waktu nanti di tahun 2018. Belum kejadian.

Nah, kenapa kok Raja Saudi repot-repot keliling Dari Malaysia, Indonesia, Jepang sampai China-nya sekarang? Ya, karena buat orang punya duit, duit didiamkan saja itu RUGI. Duit harus diputar, di-INVESTASIKAN. Supaya nanti hidup orang Arab Saudi tak hanya mengandalkan dari minyak yang makin lama makin habis, dan terus merosot harga (dan keuntungan)nya.

Pepatah kita dulu bilang : Sedikit sedikit, lama-lama menjadi bukit tidak relevan buat orang berduit. Yang benar : Sedikit-sedikit lama-lama habis. Kenapa habis? Fisik duitnya sih enggak habis, tapi NILAInya habis... digerus tuyul bernama INFLASI.

Itu kenapa, keliling dunia bikin MoU nya sekarang ? Supaya nanti pas ada duitnya bener, langsung nyemplung jadi usaha, bisa muter, menghasilkan keuntungan berupa RETURN investasi. Duitnya nggak sempat mandeg dimakan inflasi, atau habis dipakai piknik dan konsumsi.

Jadi ya bener kalau Raja Arab Saudi datang membawa (komitmen) uang tanpa bunga...lha iya, kan dia nggak bermaksud menyimpan atau meminjamkan uangnya di Indonesia seperti IMF atau Bank Dunia misalnya, ya nggak pake minta atau ngasih bunga lah ...

Kembali ke uang Rp 5000 perak itu, nilainya sekarang terdegradasi oleh inflasi. Dulu bisa buat beli mobil, sekarang hanya cukup buat parkir mobil di depan ruko (selama satu jam).
Kalau Raja Arab Saudi saja yang duitnya banyak masih mau melakukan kegiatan investasi, kenapa kita hanya kebagian ributnya saja. Dikomporin sama postingan cyber army yang punya "udang dibalik terigu" dengan jargon khas : Like, Ketik Amin, Share dan Viralkan !

Investasi bukan hanya melestarikan nilai "asset" kita, bila dilakukan dengan baik dan benar investasi juga bisa mengembangkan Asset. Dan Raja Arab Saudi tahu betul itu...

Maka, ayo berinvestasi di tempat yang bener, jangan ke model Koperasi Panda... ah sudahlah. Jangan terjerumus jadi BPJS (Bujet Pas-Pasan, Jiwa Sosialita)
** Endingnya tetep jualan

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…

WARISAN ITU BERKAH ATAU MASALAH ?

Sebut saja namanya Fulan. Orangtua Fulan kaya raya, pengusaha suplai besi untuk beton dan pekerjaan sejenisnya. Jelas, hartanya banyak termasuk sebuah rumah megah dua lantai di sebuah Perumahan elit di Semarang. Nilai taksirannya -kata Fulan- sekitar Rp 1.5 miliar. Rumah senilai segitu di Semarang, jelas lumayan elit.

Hingga cerita ini dimulai. Alkisah orang tua Fulan meninggal dunia, meninggalkan usaha (yang belakangan Fulan tak bisa mengelola dan meneruskannya, karena tak pernah terlibat di dalamnya), dan rumah mewah itu. Karena tak lagi meneruskan usaha, membiayai rumah sebesar itu tentu menjadi beban berat bagi Fulan. Tagihan listrik bengkak luar biasa (hampir diputus) dan Fulan memutuskan untuk menjual rumah, dengan putus asa.

Persoalan timbul saat akan menjual rumah "mahal" itu adalah adanya biaya-biaya yang timbul, proses notaris, pajak jual beli, balik nama sertifikat, dan biaya lain Rumah senilai Rp 1.5 miliar butuh biaya untuk proses jual bel…