Skip to main content

KARENA HARTAKU BUKAN HARTA MEREKA

Anggap saja tulisan ini sebagai jawaban atas pertanyaan beberapa teman ",Kamu suka menulis dan mengajar soal Perencanaan Waris, tapi Perencanaan Warismu sendiri memangnya sudah ada ?".
Baiklah, karena hidup ini bukan kampanye Caleg dan Capres yang hanya 99% janji dan 1% harapan, maka saya mau buka-bukaan. Apa yang sudah saya siapkan.
 
GAMBAR 1 adalah Silsilah keluarga kami. Saya, istri dan anak-anak yang beragama Islam, dan bertekad membagi Warisan menggunakan Hukum Waris Islam.


Orangtua saya dan istri masing-masing tinggal ibu. Saya memiliki tiga adik laki-laki, istri saya memiliki satu adik laki-laki. Dan kami memiliki dua orang anak, keduanya perempuan.
 
Dalam Tinjauan Hukum Waris, bagaimana alur pembagian warisnya (bila anda ketemu kasus yang sama persis) ?
 
Bila Suami Meninggal Dunia duluan. Maka harta peninggalan suami akan jatuh 1/6 bagian pada ibunya suami, 1/8 bagian pada istri, 2/3 bagian pada anak-anak dan sisanya dibagi rata pada saudara kandung laki-laki.
 
Bila istri Meninggal Dunia duluan. Maka harta peninggalan istri akan jatuh 1/6 pada ibunya istri, 1/4 bagian pada suami, 2/3 pada anak-anak dan sisanya pada saudara laki-lakinya.
Ini menjawab pertanyaan seorang teman, pak A.K. Fajdawani apakah saya banyak memiliki Asset Riil (Rumah, mobil, perhiasan dan asset tangible lain?)
 
Jawabannya tidak banyak. Mengapa? Saya pernah menulis di
sini :http://www.basriadhi.com/…/seberapa-jauh-perjalanan-itu.html

Asset riil yang kami kumpulkan akan berhimpun dalam kelompok "Harta Bersama" yang kelak menjadi Harta Waris setelah dikurangi kewajiban dan wasiat (bila ada).

Kami tahu, bahwa Asset itu kelak bukan lagi menjadi milik kami (dan tentu anak-anak kami) sepenuhnya, karena kami memiliki Ahli waris lain selain mereka.

Maka, kami harus memiliki CUKUP Kontrak Uang Pertanggungan (yang notabene bukan merupakan Harta Bersama), yang memastikan apa yang kami tinggalkan sesuai kebutuhan anak-anak kami kelak ketika kami tiada.
 

GAMBAR 2 adalah Skrinsut Daftar Harta yang kami miliki. Sekitar 50% harta yang kami miliki berkode 039, berupa Kontrak Pertanggungan Asuransi. Mobil, Rumah, Motor kami hanya punya satu... tabungan dan investasi secukupnya asal cukup buat hidup sehari-hari dan sesekali travelling saja.

Dengan Uang Pertanggungan Asuransi yang cukup besar, kami juga ingin memastikan anak-anak kami (sebagai penerima manfaat) bisa mengelolanya dengan baik. Jangan sampai mereka nanti habiskan secara ngawur tanpa pedoman, "dicumi-cumiin" janji-janji investasi bodong atau dengan gampang dihutang oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab.

Sehingga, di gambar 3, kami menyusun Strategi Mitigasi untuk mereka. Jadi, ketika harta ayah/ibunya harus dibagi menurut Hukum Waris Islam... mereka tetap akan bisa hidup sebagaimana layaknya ketika ayah ibunya masih hidup. Dengan skenario yang jelas.

Karena Harta Kami bukanlah (sepenuhnya) Harta Mereka, anak-anak kami.

** Lanjutan tulisan ini : http://www.basriadhi.com/2019/02/contoh-hitungan-hukum-waris.html dan http://www.basriadhi.com/2019/02/soal-tanah-220-meter-bukan-juta-hektar.html

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam. Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal. Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara".  Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa?  Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubun

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut. Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda. Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kredi