Skip to main content

CONTOH HITUNGAN HUKUM WARIS

Terimakasih pada banyak sekali teman yang sudah bertanya melalui Japri minta agar Tulisan saya kemarin soal strategi waris (ada di sini : http://www.basriadhi.com/…/karena-hartaku-bukan-harta-merek…) diberikan CONTOH HITUNGAN.
Oke, saya akan berikan contoh hitungan. Kebetulan, kasusnya memakai keluarga saya yang memiliki dua anak perempuan semua, dan saya serta istri saya memiliki saudara laki-laki plus... ayah kami sudah tiada. Sehingga Ahli Waris yang menghabiskan (ashabah) adalah saudara laki-laki kami masing-masing.
ASUMSIKAN Harta Waris yang sudah siap dibagi (Al Irts) adalah Rp 1.000.000.000,- . Cara mendapatkan Al Irts adalah dengan Mengurangi Total Harta yang ditinggalkan dengan Hutang, Kewajiban, Biaya dan Wasiat (bila ada).
Contoh 1. Bila Suami yang Meninggal, Bagian masing-masing Ahli waris :
1 Ibu (1/6) : Rp 166.666.667
1 Istri (1/8) : Rp 125.000.000
2 Anak Perempuan (2/3) = masing-masing Rp 333.333.333
3 Saudara Laki-laki Sekandung = masing-masing Rp 13.888.889
Contoh 2. Bila Istri yang meninggal, Bagian masing-masing Ahli Waris
1 Ibu (1/6) : 153.846.154
1 Suami (1/4) : Rp 230.769.231
2 Anak Perempuan (2/3) : masing-masing Rp 307.692.308
1 Saudara Laki-laki Sekandung = Rp 0
Lho kok beda, di Contoh 1 Saudara laki-laki sekandung dapat bagian, di Contoh 2 kok enggak?
Perhatikan : Pada Contoh 1 Bilangan terkecil yang bisa dibagi semua penyebut (8,6,3) adalah 24. Jadi porsi ibu, istri, anak = 4/24, 3/24, 16/24. Jumlah pembilangnya : 4+3+16 = 23, maka masih ada sisa 24-23 = 1. Maka sisa 1/24 inilah yang dihabiskan oleh saudara laki-laki.
Pada Contoh 2, Bilangan terkecil yang bisa dibagi semua penyebut (6,4,3) adalah 12. Jadi porsi Ibu, Suami, Anak = 2/12, 3/12, 8/12. Namun, masalahnya adalah bila dijumlahkan, jumlah pembilangnya : 2+3+8 = 13, sementara penyebutnya hanya 12.. Pembilang lebih besar dari penyebut, maka berlaku aturan 'Aul,
Karena aturan 'Aul ini Penyebut yang seharusnya 12 bisa naik menjadi 13. Sehingga hitungannya porsi ibu, suami dan anak menjadi = 2/13, 3/13, 8/13. Dan saat dihitung ulang, sebelum sampai ke bagian Ashabah (ahli waris yang menghabiskan, dalam kasus ini saudara laki-laki) Harta Waris sudah habis. Sehingga di contoh 2, sudara laki-laki sekandung tidak mendapatkan bagian.
Demikian perhitungannya. Kami tunduk pada hitungan ini, karena rumusnya datang langsung dari langit.
Itu mengapa kami berikhtiar menambah Bagian yang kami tinggalkan dengan uang Pertanggungan Asuransi, selain karena Kontrak Pertanggungan Asuransi bukanlah termasuk harta Bersama yanag akan terkonversi menjadi Harta Waris, di dalam kontrak pertanggungan asuransi Jiwa penerima manfaat sudah kami tunjuk. Yaitu anak-anak.
Tentu beda kasus, akan beda hitungannya. Tapi rumusnya sudah pasti, baku karena datang langsung dari Langit dimuat di Kitab Suci Al Quran.
Penting untuk mempersiapkan Perencanaan Waris justru sebelum kita meninggal dun ia, karena minimnya pengetahuan tentang Hukum waris adalah akar utama sengketa antar saudara.
Selamat mempersiapkan "Perencanaan Waris"

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…

WARISAN ITU BERKAH ATAU MASALAH ?

Sebut saja namanya Fulan. Orangtua Fulan kaya raya, pengusaha suplai besi untuk beton dan pekerjaan sejenisnya. Jelas, hartanya banyak termasuk sebuah rumah megah dua lantai di sebuah Perumahan elit di Semarang. Nilai taksirannya -kata Fulan- sekitar Rp 1.5 miliar. Rumah senilai segitu di Semarang, jelas lumayan elit.

Hingga cerita ini dimulai. Alkisah orang tua Fulan meninggal dunia, meninggalkan usaha (yang belakangan Fulan tak bisa mengelola dan meneruskannya, karena tak pernah terlibat di dalamnya), dan rumah mewah itu. Karena tak lagi meneruskan usaha, membiayai rumah sebesar itu tentu menjadi beban berat bagi Fulan. Tagihan listrik bengkak luar biasa (hampir diputus) dan Fulan memutuskan untuk menjual rumah, dengan putus asa.

Persoalan timbul saat akan menjual rumah "mahal" itu adalah adanya biaya-biaya yang timbul, proses notaris, pajak jual beli, balik nama sertifikat, dan biaya lain Rumah senilai Rp 1.5 miliar butuh biaya untuk proses jual bel…