Skip to main content

HIDUP SUSAH, WOLES AJA ...

Saya pernah, dan lama. Meninggalkan kerja kantoran dan jadi penjual makanan memang konyol. Dan kekonyolan itu berbuah estafet kekurangan hidup satu, ke kekurangan hidup yang lain.

Bayaran anak sekolah telat, didatangi orang bank karena cicilan KPR dan KTA nunggak jadi menu setiap awal bulan. Menu tetap, makanan pokok. Kadang penagih utang sengaja teriak di depan pagar untuk mempermalukan.

Untuk memastikan hidup tetap berjalan, ya hanya tetap terus berdagang. Nggak ada teman yang merubung seperti dulu ketika "mampu" menggesek kartu kredit untuk ngopi di cafe. Dunia tiba-tiba sepi.

Untuk memastikan ada uang lebih masuk ke dompet, setiap sabtu dan minggu musti menggotong booth seperti yang ada di foto ini ke sana-kemari. Paling jauh, booth ini pernah digotong sampai pantai Sambolo-Anyer. Tapi, namanya dagang, kadang ada lebih-nggak jarang tekor juga. Mengeluh juga percuma, lha memang begitu kenyataannya. Gotong-gotong booth gini, selain berat juga bikin malu. Ada yang diem-diem ngetawain, ngomongin...biasa. Kalau gengsi segede gunung pasti repot.

Ditipu orang? Bolak-balik. Dari yang memang modusnya ngemplang pembayaran pesanan sampai pinjam uang gak bayar-bayar. Kalau dihitung, mungkin udah bisa buat beli mobil...kali.

Tapi ya itu. Kata Andrea Hirata : Tuhan tau, tapi menunggu. Kalau baru hidup susah dikit cuma ngelah-ngeluh aja, ya Tuhan nunggu sampai ngeluhnya beres. Baru kalau sudah kapok ngeluh, bakal dikasih deh kemudahan. Asal nggak keduluan ajal aja itu ngeluh mulunya.

Trus kok "kuat" aja hidup kekurangan? lha, jaman kuliah dulu lebih susah lagi. Jadi ngapain musti ngeluh. Memang sih buat yang hidupnya nggak pernah susah ya berat... Tapi kok enak bener hidup ada di atas melulu, nggak pernah di bawah.

Kita dikasih susah itu supaya kalau nanti pas lagi seneng inget. Supaya hidup apa adanya, gak kebanyakan tuntutan. Juga gak gampang nyalahin orang lain.

Makanya, buat yang lagi susah hidupnya, biasa wae, woles. Gitu aja.

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

APAKAH UNITLINK TERMASUK PAPER ASSET?

Tulisan ini sebenarnya hanya merespon postingan seorang perencana keuangan tentang kisah nasabahnya.

Alkisah, nasabahnya seorang lelaki yang penghasilannya (katakan) Rp 10 Miliar per tahun. Dengan gaya hidup yang konservatif, si nasabah baru sadar bahwa di akhir tahun tabungan dia hanya Rp 3 Miliar. Sisa uangnya kemana, padahal dia dugem enggak, travelling pribadi dalam batas wajar, makan mewah jarang banget ...

Lalu, perencana keuangan tersebut melakukan bedah perkara. Dari hasil bedah perkara, ditemukan beberapa sebab. Seperti dia terlalu mudah percaya pada orang, sehingga dengan mudah meminjamkan uangnya pada saudara atau teman dengan dalih modal usaha (yang akhirnya nggak balik lagi).

Namun, ada satu hal dari nasehat perencana keuangan itu yang menurut saya tidak pas. Yaitu : Menurut perencana keuangan itu, adalah keliru nasabah memiliki banyak unit link karena “investasi” di unit link itu justru menggerus uangnya.

Saya kira pendapat ini tidak pas, terutama soal pendapat “investa…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…