Skip to main content

WHAT IF... WHAT IF

Setiap hari kita "minta" -dalam bentuk doa- diberikan : Panjang Umur, Sehat selalu, kerja lancar, pensiun banyak duit, anak-anak tidak punya masalah keuangan. Lalu kita bekerja, berusaha.
Intinya, kita SIAP SUKSES.
Permintaan itu harapan yang dipanjatkan dalam doa. Tapi urusan mengabulkan doa, menentukan hasil usaha adalah "Hak Prerogatif" Tuhan.
Bagaimana kalau harapan yang kita panjatkan, usaha yang kita lakukan belum memenuhi "rencana dan kualifikasi" Tuhan? Maka sebaiknya kita memiliki RENCANA cadangan.
Repotnya, banyak orang tidak siap dengan rencana cadangan itu. Siap SUKSES, namun tidak siap GAGAL. Biasanya orang model begini akan mencari kambing yang warnanya hitam. Menyalahkan lurah, camat, menteri, presiden sampai... Tuhan !
Maka, ada beberapa orang yang memiliki profesi sebagai PEMBANTU : membantu orang lain membuat perencanaan. Membantu melihat alternatif-alternatif, Bicara "What If...What If".
Walau memang buat sebagian orang, merencanakan itu seperti menakut-nakuti ...Tapi hidup kan memang tidak bisa seperti penjual es krim yang bisa menyenangkan semua orang.
Dan hari ini saya sampaikan, saya adalah salah satu dari 2.000-an orang se Indonesia PEMBANTU urusan PERENCANAAN KEUANGAN yang bersertifikat. Bersertifikat dari Negara (BNSP= Badan Nasional Sertifikasi Profesi) dan Sertifikasi Profesional (dari FPSB = Financial Planning Standard Board)
Sertifikat ini memaksa kami yang memilikinya untuk : Mengetahui apa yang kami Bicarakan, Membicarakan apa yang Kami Ketahui. Melakukan apa yang kami Bicarakan, Membicarakan apa yang kami Lakukan.


Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut. Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda. Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kredi

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam. Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal. Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara".  Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa?  Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubun