Skip to main content

MITIGASI

Selesai menjenguk teman saya yang sudah dua minggu terbaring sakit karena kanker hati, kami mengajak anak-anak berdiskusi.
"Apa yang terjadi pada Om ABCDE bisa juga terjadi pada Bapak",kata saya pada anak-anak. Mereka kelihatan kaget.
"Tapi tak usah takut, Bapak sudah siapkan Strategi Mitigasi untuk kalian berdua", lanjut saya.
"Apa itu Strategi Mitigasi, pak",Tanya si Sulung.
Strategi Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
Bencana terbesar yang terjadi pada sebuah keluarga adalah ketika pencari nafkah utamanya meninggal dunia.
"Bapak pasti meninggal dunia, cepat atau lambat, sekarang atau besok-besok. Maka Bapak sudah siapkan segala sesuatunya supaya kalian tetap bisa sekolah dan hidup layak seperti sekarang", Terang saya.
Bagaimana strateginya? Sederhana. Bapak tidak siapkan untuk kalian Warisan dalam bentuk asset yang sulit dicairkan, berpotensi susah dan susut nilainya ketika diwariskan.
Bentuknya apa? Istri saya merekamnya untuk anda semua. Maka, mau hari ini atau besok saya "dipanggil", saya mencoba memastikan istri dan anak-anak hidupnya akan tetap baik-baik saja : tanpa minta belas kasihan orang lain.
Dengan Strategi Mitigasi ini pula, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan dengan uang warisan yang telah kami siapkan. Karena kegagalan mengelola uang adalah bencana yang lebih besar dampaknya.
Bilapun mereka sedih karena kematian saya, cukuplah kesedihan mereka dua-tiga hari saja. Setelah itu, mereka tetap bisa melanjutkan kehidupan mereka tanpa kesedihan dan kecemasan.
Peace of Mind.

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam. Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal. Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara".  Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa?  Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubun

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut. Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda. Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kredi