Skip to main content

MENGHEMAT BOLEH, MENGHINDAR JANGAN

Halaman 1 Harian Kompas hari ini (Selasa, 21 November 2017) memuat berita yang sedang marak jadi perbincangan hari-hari ini antara saya dan beberapa nasabah saya : EKSEKUSI atas SANKSI PAJAK paska Tax Amnesty.

Namun, terus terang di lapangan banyak nasabah saya (mungkin orang lain juga) masih awam, apa dan bagaimana 'impact' paska tax amnesty ini.
Tax amnesty (TA) adalah program yang menjadi titik awal perubahan Sistem Perpajakan kita, dari sejak diberlakukannya UU no 11 tahun 2016 ini, setidaknya ada revisi juga di UU Perbankan dan UU Keterbukaan Informasi Publik, yang intinya mempermudah aparat pajak melakukan akses pada data kekayaan nasabah.

Program TA sendiri kalau dicermati, menguntungkan buat yang ikutan. Bayangkan, harta yang sebelumnya tak pernah dilaporkan, tak pernah dibayar PPh nya : hanya diminta dilaporkan, dengan penentuan harga 'sepantasnya' dan ditebus dengan tebusan 2%, 3% atau 5% saja. Tak perlu harus dibayar (hutang dan denda) PPh nya lagi.

Bagi warga nagara yang tidak mengikuti program TA atau ikut tapi harta yang dideklarasikan kurang akan ada sangsi. Aturan terbaru atas sanksi pajak ini adalah PP no 36 tahun 2017 yang diteken 11 September 2017 lalu oleh Menkehuham.

Lalu langkah apa yang harus dilakukan ke depan paska pemberlakukan aneka rupa peraturan pajak terbaru ini? Lakukan PERENCANAAN PAJAK, bukan Penghindaran Pajak.
Perilaku penghindaran pajak bisa dikategorikan perbuatan kriminal, seperti misalnya membuat pelaporan palsu, transaksi atau 'transfer pricing fiktif' yang intinya menyembunyikani harta/keuntungan yang berpotensi terkena Pajak Penghasilan.

Untuk orang pribadi bagaimana?

Sebagaimana diketahui, seharusnya, setiap penghasilan yang kita hasilkan akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) sesuai Tabel dalam Pasal 17 UU no 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan.
Penghasilan itu tidak akan terkena pajak lagi sepanjang tidak dikonversi ke dalam asset lain. Misalnya, disimpan di bawah kasur dalam bentuk uang tunai.

Begitu penghasilan itu terkonversi menjadi asset (bentuk) lain, maka akan dikenakan PPh sesuai bentuk assetnya. Ini ada di gambar saya.



Seorang yang bijak dan patuh pajak, akan membayar pajak sesuai bentuk assetnya. Dan kita bisa merencanakannya. Itu yang dinamakan STRATEGI DIVERSIFIKASI ASSET INVESTASI. Jadi, bukan sekedar beli atau punya buat gagah-gagahan semata.
Dan ASURANSI adalah salah satu jenis asset yang bisa dimiliki oleh para wajib pajak di antara jenis asset lainnya.

Bedanya, Uang Manfaat dari Asuransi ( Uang Pertanggungan dan Manfaat Tunai) nya tidak dikenakan pajak (sesuai pasal 4 ayat 3 point e UU Pajak Penghasilan).

Jadi bayangkan bila anda memiliki Tabungan si Deposito 1 Miliar (dengan bunga deposito 4% p.a) maka pajak yang harus dibayar adalah 20% x 4% x Rp 1 Miliar = Rp 8 juta. Atau memiliki poperty dengan harga perolehan (NPOP) Rp 1 Miliar, BPHTB-nya Rp 50 juta. Belum lagi kalau diwariskan ke anak (misalnya), untuk proses balik nama anak harus bayar BPHTB warisnya.
Bandingkan dengan memiliki Asuransi dengan UP atau target hasil investasi Rp 5 atau 10 Miliar sekalipun, pajaknya Rp 0,-.

Maka, penting untuk banyak mengetahui soal peraturan perpajakan terkini. Yang BOLEH kita lakukan adalah perencanaan untuk menghemat pajak.

Menghindari pajak? Jangan !

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

APAKAH UNITLINK TERMASUK PAPER ASSET?

Tulisan ini sebenarnya hanya merespon postingan seorang perencana keuangan tentang kisah nasabahnya.

Alkisah, nasabahnya seorang lelaki yang penghasilannya (katakan) Rp 10 Miliar per tahun. Dengan gaya hidup yang konservatif, si nasabah baru sadar bahwa di akhir tahun tabungan dia hanya Rp 3 Miliar. Sisa uangnya kemana, padahal dia dugem enggak, travelling pribadi dalam batas wajar, makan mewah jarang banget ...

Lalu, perencana keuangan tersebut melakukan bedah perkara. Dari hasil bedah perkara, ditemukan beberapa sebab. Seperti dia terlalu mudah percaya pada orang, sehingga dengan mudah meminjamkan uangnya pada saudara atau teman dengan dalih modal usaha (yang akhirnya nggak balik lagi).

Namun, ada satu hal dari nasehat perencana keuangan itu yang menurut saya tidak pas. Yaitu : Menurut perencana keuangan itu, adalah keliru nasabah memiliki banyak unit link karena “investasi” di unit link itu justru menggerus uangnya.

Saya kira pendapat ini tidak pas, terutama soal pendapat “investa…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…