Skip to main content

WALK THE TALK

Setiap pagi, lepas subuh, kami membiasakan saling menyapa melalui grup Line. Apalagi sekarang, dua anak ini sedang ada di luar rumah. Kakaknya kost di Jatinangor dan adiknya lagi ikut "Youth Camp" di Dieng selama seminggu.
Mengapa subuh? Karena kalau siangan sedikit, pasti "late respon" karena kesibukan masing-masing. Ngobrolnya jadi nggak asyik.
Barusan kam
i ngobrolin perkembangan portfolio investasi Kakak karena mau dia ambil sebagian untuk membiayai "Asian Trip", tugas dari Kampusnya untuk berkunjung ke Universitas di Malaysia dan Thailand.
Kakak sejak awal kami ajari (dan beri contoh) berinvestasi dengan Reksadana. Simpel, aman dan bebas pajak.
Setiap bulan, setiap kali menerima "gaji" dari kami, dia berkewajiban menyisihkan sebagian gajinya untuk dimasukkan ke Reksadana, sebelum sisanya dia konsumsi.
Kami sepakat mengistilahkan kiriman sebagai gaji karena dia sedang bekerja, yaitu kuliah. Kalau dia kuliah rajin, nilai bagus ada bonus. Kalau performa jelek, gaji nggak naik. Supaya ada tanggungjawab di sana.
" Ini Equity yang di Shinhan belum growth, pak. Masih negatif", Lapornya tadi pagi.
"Nggak apa-apa", Kata saya meyakinkan. Sepanjang nggak ditarik duitnya, tidak ada kerugian yang terealisasi. "Justru top up saja, mumpung harganya murah. Risiko investasi itu hanya akan kalah sama waktu",saran saya.
Dia biasanya nurut. Dia keluarkan uang extra dari gaji dia untuk top up.
Empat tahun lalu, ketika diajak menjadi "Financial Consultant" oleh istri saya, kesulitan terbesar saya bukanlah "sekedar menjadi konsultan".
Saya sudah biasa jualan, presentasi, menulis. Soal itu tak jadi masalah besar. Soal pengetahuan "Perencanaan Keuangan" juga bisa dipelajari, no big deal.
Kesulitan terbesar ketika kita mulai memposisikan diri menjadi "konsultan" atau mengajari orang lain adalah : Walk the Talk.
Sungguh tak lucu ketika kita bisa mengajari orang lain untuk menyiapkan Saving, Investment dan Protection; tapi kita sendiri tak punya. Semua hanya berhenti di materi presentasi yang indah desainnya.
Nanti, agak janggal ketika ada yang tanya ",Bas, elo ngajari gue konsep SIP. Elo sendiri sudah ngejalanin belum?". Betapa "awkward" -nya kalau jawabannya belum.
Oh ya, Walk The Talk itu artinya : Membicarakan apa yang kita Kerjakan, dan Mengerjakan apa yang kita Bicarakan.
Hal yang sulit dijalani hari-hari ini...

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam. Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal. Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara".  Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa?  Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubun

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut. Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda. Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kredi