Skip to main content

POLIGAMI : JUMLAH ATAU ADIL ?

Ini adalah gambar yang ada di slide keempat materi Hukum Waris yang saya bawa ke mana-mana. Pada pemilik foto ini, saya sekaligus minta izin memakai foto sebagai illustrasi.

Setiap kali sesi "Asuransi sebagai Solusi Perencanaan Waris dan Pajak" saya bawakan, selalu saja ada yang bertanya ",Bagaimana halnya pembagian waris pada istri yang suaminya menjalani poligami?".
Saya tak akan membahas lebih jauh soal poligaminya. Agama Islam mengatur soal Poligami diantaranya di surat An Nisa ayat 3, dan UU Perkawinan kita, pasal 2 hingga 4 juga membuka peluang seorang suamu bisa memiliki lebih dari satu istri.

Penekanan poligami dalam agama Islam adalah di kata ADIL nya, bukan di jumlah istrinya (walau disebut sebanyak-banyaknya empat).

Dalam Hukum Waris Islam, seorang istri yang tidak memiliki anak akan mendapat 1/4 harta waris almarhum suaminya. Namun bila dia memiliki anak, maka bagiannya adalah 1/8 bagian.
Dalam hal misalnya, ayah dan ibu almarhum suaminya masih hidup, bagian ayah dan ibu secara total adalah 1/3 bagian. Lebih besar dari bagian istri.

Adilkah ini? Pasti adil, karena ini dituntunkan langsung oleh Allah SWT secara langsung di QS An Nisaa ayat 11-14.

Lalu bagaimana halnya bila almarhum suami memiliki 3 orang istri misalnya? Maka 1/8 bagian itu harus dibagi rata pada 3 orang istri tersebut.

Maka dalam proses Waris, memiliki polis asuransi adalah cara untuk MENAMBAH bagian istri (-istri).
Mengapa bagian istri perlu ditambah? Karena pada prakteknnya di zaman yang sudah makin maju ini, istri menjadi tumpuan beban keluarga ketika suami sudah tiada. Bahkan dalam banyak sengketa waris, harta waris sudah habis dibagi, ternyata hutang masih ada, dan itu menjadi beban sang janda.
Jadi semestinya seorang istri justru mendukung program suami menambah jumlah warisan untuknya. Bukan justru menghalangi dengan alasan takut uang belanja kurang.

Itu mengapa, konsep ADIL yang dikedepankan dalam konsep Poligami. Bukan berapa jumlah istrinya.

Pertanyaannya, Allah sudah Adil dalam menetapkan Konsep Pembagian Waris... Namun sudah adilkah kita -sebagai suami- pada istri(-istri) kita?

Sudahkah kita siapkan Warisan yang cukup untuk dia (atau mereka)?

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…

WARISAN ITU BERKAH ATAU MASALAH ?

Sebut saja namanya Fulan. Orangtua Fulan kaya raya, pengusaha suplai besi untuk beton dan pekerjaan sejenisnya. Jelas, hartanya banyak termasuk sebuah rumah megah dua lantai di sebuah Perumahan elit di Semarang. Nilai taksirannya -kata Fulan- sekitar Rp 1.5 miliar. Rumah senilai segitu di Semarang, jelas lumayan elit.

Hingga cerita ini dimulai. Alkisah orang tua Fulan meninggal dunia, meninggalkan usaha (yang belakangan Fulan tak bisa mengelola dan meneruskannya, karena tak pernah terlibat di dalamnya), dan rumah mewah itu. Karena tak lagi meneruskan usaha, membiayai rumah sebesar itu tentu menjadi beban berat bagi Fulan. Tagihan listrik bengkak luar biasa (hampir diputus) dan Fulan memutuskan untuk menjual rumah, dengan putus asa.

Persoalan timbul saat akan menjual rumah "mahal" itu adalah adanya biaya-biaya yang timbul, proses notaris, pajak jual beli, balik nama sertifikat, dan biaya lain Rumah senilai Rp 1.5 miliar butuh biaya untuk proses jual bel…