Skip to main content

MENGISI TAPI TAK MENGERTI

SPT TAHUNAN FORM 1770

"Jadi apa sebenernya alasan paling pas buat aku beli produk asuransi dari kamu, mas Bas", tanya teman, calon nasabah saya ini.

Dia pengusaha, sub distributor suku cadang motor. Ruko yang dipakai sebagai kantor dan merangkap gudang yang dimilikinya bertimbun aneka rupa suku cadang motor dan hilir mudik sales canvassing yang bertugas mencari order serta mengirim barang ke bengkel-bengkel se Bogor dan Banten.

"Kalau kamu cerita soal Nilai Ekonomi, Dana Abadi buat anak istri nanti... rada basi. Depositoku lebih dari cukup buat dana abadi begitu. Bunganya bisa buat hidup anak istriku 10 tahun, kali ...",Tambahnya.

Dia juga sudah menyiapkan tabungan untuk tiga anaknya yang masih kecil-kecil, masing-masing satu buah rumah di kompleks perumahan deket rumahnya. "Itu warisanku buat mereka, jadi rasanya nggak perlu lagi asuransi",katanya.

"Oke, Itu rumah masih atas namamu kan?",tanyaku.

"Iya, kan anakkku masih SD dan TK", jawabnya.

Itu rumah, sekarang pasarannya sekitar Rp 1 Miliar. Jadi 3 rumah total Rp 3 Miliar. Kalau perkembangan harga rumah dalam 10 tahun (ketika anak-anaknya sudah masuk kategori dewasa, bisa punya KTP) -katakan- optimis naik 100%, maka nilai rumah itu bakal jadi Rp 6 Miliar.

Tapi nyatanya, tidak semua orang tua tidak secara otomatis menghibahkan rumahnya saat dia hidup, dengan berbagai pertimbangan. Kebanyakan terlambat, kalah cepet sama ajal (dimana itu pasti terjadi, walau entah kapan).

Maka mewariskan rumah pada anak bisa jadi bukan sebagai hadiah yang menyenangkan, tapi justru jadi BEBAN yang memberatkan.

Kenapa? Karena rumah waris yang dokumen kepemilikannya masih atas nama (almarhum) ayah, harus dialihkan ke anak sebagai ahli waris. Biaya itu bentuknya berupa BPHTB Waris. Kalau rumah harga Rp 6 Miliar, total beserta biaya legal hampir mencapai Rp 150 juta, mungkin bisa lebih. Ini beban para ahli waris.

"Terus?", tanyanya penasaran.

"Maka, Pertama : kamu perlu siapkan warisan untuk anakmu sejumlah uang tunai untuk beresin biaya di atas biar rumah nggak jadi beban. Kedua, kamu perlu siapkan warisan yang "Tidak ada BIAYA dan Tidak ada PAJAK",jawab saya.

"Maksudnya Uang Pertanggungan Asuransi? Tahunya darimana Pencairan Klaim Asuransi TIDAK KENA PAJAK?",tanyanya nggak yakin.

Oke, ambil File SPT Pajak Penghasilan (PPh) yang kamu isi tahun lalu.

Dia ambil, saya coret-coret di bagian ini ... (lihat foto). Dia. Manggut-manggut, paham

** Postingan ini tidak cocok untuk calon nasabah yang nggak mau bayar pajak. Tidak membayar kewajiban pajak digolongkan perbuatan kriminal, tapi menghemat pajak adalah legal.

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

KAN SAYA MASIH HIDUP ...

“Harta, sebenarnya belum bisa dikatakan pembagian harta karena saya masih hidup. Tetapi saya tetap akan membagikan hak mereka masing-masing sesuai dengan peraturan agama,” ujar ibu Fariani. Ibu Fariani adalah seorang ibu dengan empat orang anak yang baru saja ditinggalkan suaminya Ipda Purnawirawan Matta. Almarhum meninggalkan harta waris berupa tanah, rumah dan mobil senilai Rp 15 Miliar. Pada bulan Maret 2017, ketiga anak ibu Fariani mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama Kota Baubau, Sulawesi Tenggara dengan nomor 163/ptg/ 2013/PA/2017, yang inti gugatannya : Meminta bagian mereka selaku ahli waris yang sah atas harta waris almarhum ayah mereka. Dunia makin aneh? Anak kurang ajar? Tidak. Banyak orang yang memiliki pendapat seperti ibu Fariani, sebagaimana yang saya kutip di paragraf pertama di atas. Pendapat yang KELIRU. Begitu seorang suami meninggal dunia, maka hartanya tidak serta merta menjadi miliki istri atau anak-anaknya. Harta itu berubah menjadi h

CERITA 19 EKOR SAPI

Dul Kemit, Dede dan Khomsul datang ke rumah pak Lurah sambil bersungut-sungut. Mereka mencari orang yang bisa menyelesaikan masalah mereka. Pak Lurah menyambut mereka, dan tiga bersaudara ini menyampaikan masalahnya. Ayah Dul Kemit, Dede dan Khomsul baru saja meninggal seminggu lalu. Ceritanya, almarhum ayah meninggalkan WASIAT bahwa 19 ekor sapi yang ditinggalkan dibagi untuk mereka bertiga dengan porsi : Dul Kemit 1/2 bagian, Dede 1/4 bagian dan Khomsul 1/5 bagian. Pak Lurah pusing menghitung pembagiannya, karena pesan almarhum adalah saat membagi : sapi tidak boleh disembelih, dijual atau dikurangi. Untuk itu dia minta bantuan pak Bhabin dan Babinsa. Lalu pak Bhabin bilang", Sapi ada 19. Mau dibagi untuk Anak pertama 1/2, anak kedua 1/4 dan anak ketiga 1/5 tanpa menyembelih, tanpa mengurangi". Ketiga bersaudara itu menangguk-angguk. "Oke kalau begitu, supaya tidak berantem, saya akan sumbangkan satu ekor sapi milik saya untuk MENGG