Skip to main content

PINDAH KEWARGANEGARAAN, WARISANNYA HILANG?

Seorang peserta mengacungkan tangan bertanya", Pak, saya mau tanya kasus yang dihadapi nasabah saya". lalu Ibu berbaju putih itu bercerita.

Nasabah saya tiga bulan lalu meninggal dunia, dia meninggalkan dua orang anak yang sudah pindah dan menjadi warga negara Singapura. Nasabah saya ini meninggalkan banyak sekali asset, selain Uang klaim dari Asuransinya : ada kendaraan, apartemen dan beberapa bidang tanah.

Pertanyaannya, apakah anaknya yang sudah bukan WNI itu berhak atas warisannya ?

Semua peserta terdiam, beberapa kasak-kusuk. Mungkin ada yang mengalami kejadian yang sama.
"Begini, bu",Jawab saya. Mengapa setiap kali saya menyampaikan materi "Asuransi sebagai Solusi Masalah Waris dan Pajak" selalu saya mulai dari pemaparan soal UU Perkawinan?

Karena, Proses Waris itu selalu dikaitkan dengan Pertalian Darah (Keturunan) dan Pertalian Perkawinan. Pertalian Darah menyangkut hubungan ayah-anak, ayah-orangtua, perkerabatan. Pertalian Perkawinan terkait hubungan suami-istri. Ini semua jelas disebutkan dalam Pasal 832 KUHPerdata.

Seorang anak, walaupun sudah pindah kewarganegaraan akan tetap memiliki Pertalian Darah dengan orang tuanya : artinya dia tak akan kehilangan haknya atas Harta Waris yang ditinggalkan orang tuanya.

Namun, satu hal yang harus dicermati adalah adanya Aturan dalam pasal 21 UU Pokok Agraria yang bilang bahwa WNA tidak diperbolehkan memiliki asset properti (tanah dan bangunan) di Indonesia.
Maka, apabila asset yang diwariskan adalah berupa properti, maka itu harus "diuangkan" terlebih dahulu.

Ibu berbaju putih itu mengangguk-angguk mengerti.

"Saran saya, untuk istri almarhum segeralah membuat Program Asuransi sebagai warisan tambahan untuk anaknya yang WNA itu. Karena itu salah satu cara meninggalkan warisan yang bisa mereka rasakan, nikmati : bebas ribet, bebas biaya, bebas pajak",Tutup saya.

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut. Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda. Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kredi

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam. Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal. Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara".  Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa?  Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubun