Skip to main content

KICK OFF

Kiri atas tahun 2008, Kanan atas 2016, Bawah Grafik Siklus Hidup
Ini adalah gambar siklus hidup saya, terinspirasi dari apa yang disampaikan Yap Kien Lee, anak "yesterday afternoon" yang menjadi pemilik agency asuransi termuda, paling moncer di Malaysia. Kien Yap, demikian dia disapa, kemarin berbicara, sharing, di depan ribuan Financial Consultant AIA dalam acara Kick Off 2017.

Usianya belum lagi genap 30 tahun, tapi prestasi dan perjalanan hidupnya patur menjadi inspirasi.

Masa kecilnya di Kuala Lumpur cemerlang penuh prestasi. Lahir dari keluarga "blue collar" biasa menjadi murid terpintar, menjuarai aneka rupa Olympiade Matematika dan Fisika hingga memuluskan jalannya masuk National University of Singapore, sekolah elit urutan 12 dunia (menurut pemeringkat QS), Teknik Kimia dan berbeasiswa. Tapi nasib bicara berbeda, dia tiba-tiba jatuh sakit serta didiagnosa menderita Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau awam biasa menyebutnya penyakit LUPUS. Orang tuanya habis-habisan membiayai biaya pengobatan penyakit yang nyaris belum ada obatnya ini.

Tapi dia bukan anak muda "cemen" yang gampang memutuskan : aku berhenti dan menyerah saja.

Sambil terengah-engah sebab penyakitnya, dia selesaikan kuliahnya serta memutuskan "nyambi" bekerja di usianya yang baru beranjak 19 tahun. Dan pilihan profesi yang diam ambil adalah menjadi AGEN ASURANSI. Mengapa? karena dia melihat orang tuanya yang tak memiliki asuransi, habis-habisan hartanya untuk membiayai pengobatannya. Dia merasa, tak seharusnya orang tua-orang tua lain mengalami nasib seperti ayahnya : tak memiliki cukup asuransi untuk kemudian jatuh miskin karena hartanya terkuras untuk berobat.

Lancar? tidak. Awal karirnya sebagai agen asuransi - di usia muda - walau penuh tantangan, tetap saja tak mudah. Prestasi demi prestasi dia raih hingga nasib berpihak padanya, sempat dimilikinya sebuah rumah yang dibeli dari hasil keringatnya sendiri. Hingga suatu siang, dia tersungkur tak sadarkan diri, SLE nya "relapse"...kambuh.

Rumah yang telah dia bangun, habis tergadai. Agency yang dia bangun hancur, saat agen-agen yang berada dalam teamnya memutuskan satu per satu mundur ketika mengetahui dirinya terserang lagi SLE.

Sekali lagi, tersebab dia bukan anak muda "cemen" dia mengambil pilihan bangkit. Walau terkadang tiap malam saat penyakitnya kambuh, saat kaki hilang rasa, dia harus merangkak bertelekan siku saat menuju kamar mandi dari tempat tidurnya yang hanya sepelemparan upil jauhnya. Dia bangkit. Tiga tahun dia bergerak sendiri, menunggu.

Kemarin, dia berbicara di hadapan kami dengan bangga. Dengan penyakit yang masih belum tersembuhkan, dia sudah meraih prestasi tertingginya, berkeliling 39 negara di dunia (sementara yang katanya sehat, boro-boro keliling dunia.. ke Ancol aja belum tentu setahun sekali). Dia pamerkan teamnya yang solid, anak-anak muda "non mainstream"

Dan dia tunjukkan grafik naik turun hidupnya. Seperti foto yang saya upload ini.

Foto atas sebelah kiri adalah foto Kick Off Misterblek tahun 2008. Masa-masa pahit merintis usaha. Foto kanan adalah foto bersama istri saya, Driffaroza Ocha, saat kami belajar memahami ke-Maha Besar- an Tuhan di Cloud Forest, Gardens by The Bay Desember 2016 lalu.

Saya juga tak tahu, apakah grafik hidup saya akan terus menanjak atau suatu saat akan turun lagi. hanya Tuhan yang tahu. Tugas kami hanya berusaha mempersiapkan bila keadaan buruk itu tiba.

Salah satu ikhtiarnya dengan memiliki Tabungan, Investasi dan Asuransi. Katanya, hanya keledai bodoh saja yang mau jatuh ke lobang yang sama dengan kondisi yang sama.

Saya mungkin belum sehebat Kien Yap, tapi saya berusaha. Saya tahu sedikit, serta siap berdiskusi dengan anda, teman-teman semua. Supaya ada di posisi manampun gratfik anda, tak perlu pusing menghadapinya.

Tuhan (selalu) Tahu, namun Dia menunggu

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…

WARISAN ITU BERKAH ATAU MASALAH ?

Sebut saja namanya Fulan. Orangtua Fulan kaya raya, pengusaha suplai besi untuk beton dan pekerjaan sejenisnya. Jelas, hartanya banyak termasuk sebuah rumah megah dua lantai di sebuah Perumahan elit di Semarang. Nilai taksirannya -kata Fulan- sekitar Rp 1.5 miliar. Rumah senilai segitu di Semarang, jelas lumayan elit.

Hingga cerita ini dimulai. Alkisah orang tua Fulan meninggal dunia, meninggalkan usaha (yang belakangan Fulan tak bisa mengelola dan meneruskannya, karena tak pernah terlibat di dalamnya), dan rumah mewah itu. Karena tak lagi meneruskan usaha, membiayai rumah sebesar itu tentu menjadi beban berat bagi Fulan. Tagihan listrik bengkak luar biasa (hampir diputus) dan Fulan memutuskan untuk menjual rumah, dengan putus asa.

Persoalan timbul saat akan menjual rumah "mahal" itu adalah adanya biaya-biaya yang timbul, proses notaris, pajak jual beli, balik nama sertifikat, dan biaya lain Rumah senilai Rp 1.5 miliar butuh biaya untuk proses jual bel…