Skip to main content

HEBAT ITU SEDERHANA : JADI DIRI SENDIRI

Saya pikir rekan satu tim yang pernah ada dalam koordinasi saya di koran, masih bekerja di koran itu.
"Sudah enam bulan saya nggak (kerja) disitu bos, ada perampingan",katanya kemarin. Dia selalu memanggil saya Bos, padahal nama saya Bas.

Rekan saya ini laki-laki, jadi tak bisa disebut sebagai Mawar, sebut saja Kumbang. Umur kami sebaya. Oya, bagi yang belum tahu, umur saya 45 dengan semangat 25. Kumbang dulu Sales manager jagoan, tidak pernah tak mencapai target penjualan.
Tapi sejak dulu dia memang paling sebal kalau diajak meeting, merancang paket-paket jualan. "Males mikir bikin-bikin gitu bos, pokoknya apa produknya saya jualin deh",itu kata-katanya dulu tiap diajak meeting.

"Saya sudah dua bulan ini jualan bakso bos, tapi susah ya. Kemarin abis sakit seminggu, mungkin kecapekan. Tiap hari udah bangun jam 3, belanja, ngolah daging, bikin bakso dan dagang sampai jam 9 malam. Jualan juga masih sepi, sering banyak sisa",keluhnya.

"Lho memangnya nggak ada yang bantu ? Tanyaku.

"Enggak lah bos, semua aku kerjain sendiri, dari mulai belanja, bikin bakso sampai dagang. Modalku belum cukup buat ngegaji orang", Jawabnya.

Lalu dia bercerita, mirip curhat sebenarnya : bahwa tak mudah dapat daging yang bagus, bikin bakso yang enak, sampai bosen saat jagain warung yang sepi.

"Kamu dulu jago jualan, kenapa sekarang kayaknya susah banget jualan",tanyaku keheranan.
Kumbang mengaku sudah tak bisa mikir. Kelelahan. Jadi dia kehilangan "ketajaman" kemampuan hebatnya : berjualan.

Saran saya (biasa dengan sok pintar)",Kumbang, kembalilah pada keahliannya. Bukan mau ngecilin, tapi "memproduksi" bukanlah core of competency-mu. Serahkan ke ahlinya, pesen atau makloon misalnya. Kamu konsentrasi jualan, bikin jaringan. Itu keahlianmu".

Di luar sana banyak banyak orang seperti Kumbang. Merasa bisa melakukan segalanya, padahal sebenarnya enggak. Mereka punya kehebatan, tapi tak sadar atas kehebatannya. Jadinya malah capek tak kemana-mana.

Penting untuk memiliki positioning diri yang kuat. Penting untuk memiliki Personal brand yang kuat. Mau jadi pengusaha, mau jadi politisi, politisi yang pengusaha atau pengusaha yang politisi...musti jelas.

Nggak perlu kelihatan keren dengan "seolah-olah" hebat, lalu terjerumus menjadi orang lain.

Hebat itu sederhana : cukup jadi diri sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam. Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal. Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara".  Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa?  Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubun

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut. Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda. Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kredi