Skip to main content

SEPULUH TAHUN ATAU SEUMUR HIDUP?



Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya). 

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya : http://investorpintar.com/artikel/asuransi-bukan-tabungan
Namun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari cerita tersebut, harus diketahui bahwa Fitur produk Unit Link yang ditawarkan adalah Unit Link biasa dengan manfaat proteksi hingga usia nasabah 99 tahun dan masa pembayaranpun juga hingga nasabah 99 tahun. Singkatnya fitur produknya memang "mengharuskan" nasabah membayar seumur hidup.

Kenapa? Kok kejam amat harus bayar seumur hidup. Analoginya sederhana, sebagaimana kita datang ke Bank, mau membuka rekening tabungan, tak ada satupun Customer Service di Bank yang menanyakan : Bapak/Ibu mau nabung berapa tahun? Kita tak pernah ditanya, karena jelas, makin lama menabung hasilnya makin banyak. Itu saja, sederhana. Demikian juga dengan produk Unit Link yang ditawarkan oleh agen asuransi pada ibu nasabah ini.
Pertanyaan berikutnya : memangnya ada produk Unit Link yang dirancang pembayarannya tidak seumur hidup. Jawabnya ADA, hanya biasanya justru agennya yang tidak tahu. Ada produk unit link yang sekali bayar, 3 kali bayar, 7 kali bayar...dengan masa proteksi tetap hingga usia 99 tahun.
Nah bedanya dengan produk yang ditawarkan oleh oknum agen di atas adalah : produk unit link dengan masa pembayaran pendek memang sudah dirancang serta dihitung sedemikian rupa, tidak akan lapse/berhenti dalam kondisi (market) investasi buruk. Ingat, cara kerja investasi di Unit Link 99,9% mirip reksadana.
Menjanjikan pada nasabah produk Unit Link yang seharusnya masa pembayarannya seumur hidup dengan hanya membayar 10 tahun jelas fatal. Kenapa? Karena artinya pembayaran setelah tahun ke 10 akan diambil dari nilai investasi yang terbentuk. Mudahnya : menggerus saldo. Tergerus oleh apa? Tergerus oleh Biaya Asuransi ( CoI = Cost of Insurance). Apalagi sudah preminya kecil, asuransinya campur-campur...asuransi jiwa iya, asuransi kesehatan disitu juga. Jangan-jangan saldonya malah tidak ada, ditambah lagi kalau pas dinamika pasar investasi lagi "jeblok".
Jadi, saat menerima tawaran dari agen asuransi, apalagi dengan embel-embel ada asuransi, ada tabungan(walau istilah ini keliru dan salah kaprah) hal yang harus diperhatikan adalah :
1. Nasabah musti tahu, beli produk asuransi penekanannya ke mana. Kalau mau proteksi jiwa dan kesehatan, fokuskan pada manfaat proteksinya. Jangan mau dicampur-campur dengan investasi. Boleh ada manfaat pengembalian tunai dari investasi, tapi bukan itu fokusnya.
2. Baca dengan cermat proposal/illustrasinya. Dalam membeli produk asuransi yang PASTI adalah manfaat Proteksinya : Uang Pertanggungan, Plan Kesehatan (plafon RS dan pengobatan lain). Itu semua tercantum dalam POLIS Asuransi. Sedangkan Manfaat tunai itu hanya ada dalam proposal/illustrasi karena jumlahnya TIDAK PASTI.
Jangan tergiur "bualan" oknum agen asuransi yang justru menawarkan imbal hasil pengembalian investasi yang pasti (dan tinggi). Hati-hati.
3. Bila manfaat investasi yang diinginkan, pastikan sesuai profil resiko dan jangka waktu berinvestasi. High Return selalu High Risk, begitu sebaliknya. Pastikan agen yang menawarkan tahu dimana uang kita akan diinvestasikan, dalam instrumen investasi apa (Sahamkah? Pasar Uangkah? Obligasikah?).
4. Pastikan membaca illustrasi dengan cermat terutama di bagian Biaya Asuransi dan Biaya Akuisisi. Sudah saya sebut dalam artikel saya di atas, kebanyakan produk Unit Link berbasis proteksi, biaya akusisinya tinggi, bisa mencapai 200% dari premi tahunan yang dibayarkan dan itu di-"spread" selama 5 tahun pertama masa Asuransi.. Berbeda dengan Unit Link yang condong ke manfaat investasi, biaya akusisinya rendah karena perusahaan asuransi juga ingin memastikan dana nasabah optimal di investasinya.
5. Pastikan masa pembayaran preminya. Bila agen asuransi menawarkan masa pembayaran "pendek", pastikan memang produknya memang dirancang untuk masa pembayaran pendek. Merancang sebuah produk asuransi tidak melalui proses yang pendek. Perhitungannya "njelimet" dan hanya bisa dilakukan ahlinya (akturia). Akal-akalan oknum agen asuransi dengan memendekkan masa pembayaran justru akan berakibat fatal pada nasabah, karena hasil investasinya justru akan habis tergerus biaya-biaya.
Saya sering mendapati banyak "oknum" agen asuransi yang hanya main "hit run" mengejar keuntungan sesaat. Mereka tak mau datang training, mendalami produk tapi sangat pede (dan ngawur) saat jualan.
Sebagai nasabah, kita harus jauh lebih cerdas. Asuransi bukan produk tipu-tipu, jauh lebih banyak nasabah yang merasakan manfaat ketimbang yang "tertipu". Jadi semoga kita semua "peace of mind" bukan justru deg-degan Saat memiliki produk Asuransi.
Selamat berasurasi dengan cerdas.
Basri Adhi, no lisensi AAJI : 14037259

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…

KAN SAYA MASIH HIDUP ...

“Harta, sebenarnya belum bisa dikatakan pembagian harta karena saya masih hidup. Tetapi saya tetap akan membagikan hak mereka masing-masing sesuai dengan peraturan agama,” ujar ibu Fariani. Ibu Fariani adalah seorang ibu dengan empat orang anak yang baru saja ditinggalkan suaminya Ipda Purnawirawan Matta. Almarhum meninggalkan harta waris berupa tanah, rumah dan mobil senilai Rp 15 Miliar. Pada bulan Maret 2017, ketiga anak ibu Fariani mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama Kota Baubau, Sulawesi Tenggara dengan nomor 163/ptg/ 2013/PA/2017, yang inti gugatannya : Meminta bagian mereka selaku ahli waris yang sah atas harta waris almarhum ayah mereka. Dunia makin aneh? Anak kurang ajar? Tidak. Banyak orang yang memiliki pendapat seperti ibu Fariani, sebagaimana yang saya kutip di paragraf pertama di atas. Pendapat yang KELIRU. Begitu seorang suami meninggal dunia, maka hartanya tidak serta merta menjadi miliki istri atau anak-anaknya. Harta itu berubah menjadi harta tak be…