Skip to main content

Hanya 12% yang Seberuntung Ibu Saya


"Alhamdulillah Dik, Ibu kemarin sudah salurkan santunan untuk anak yatim dari titipan kalian dan hasil bikin pesanan kue", kata Ibu saya dalam pesan pendek via whatsapp kemarin sore.

Ibu saya (sebelah kiri) biasa memanggil saya Didik. Sepeninggal almarhum Bapak tahun 2006, beliau memilih tinggal sendiri di Semarang bersama Ma'e. Ma'e adalah orang yang ikut mengasuh kami (saya dan 3 adik, lelaki semua) sejak kecil. Dalam foto ini, Ma'e ada di sebelah kanan. Ibu kini berusia 67 tahun dan hidup sebagai pensiunan yang bahagia.

Sudah menunaikan ibadah haji, mandiri secara ekonomi. Bapak meninggalkan pada kami sebuah rumah sederhana di Semarang, sebuah motor (yang belakangan dijual karena menuh-menuhin ruang tamu dan tak ada diantara kami yang mau membawa motor itu) dan sejumlah tabungan. Semua untuk Ibu, karena -alhamdulillah- kami semua sudah cukup mandiri secara ekonomi, cukupan, tak mau mengutak-utik tabungan Bapak. Almarhum Bapak tak meninggalkan hutang atau cicilan, sama sekali.

Ibu sejak muda bekerja, pegawai biasa di Pemkot Semarang dan ketika pensiun menikmati "passion" nya membuat kue-kue "kampung" bersama Ma'e, dan tentu travelling. Bersama teman pengajian, sesama anggota senam jantung sehat atau kawan arisan.

Sejak adik saya membelikan beliau smartphone android yang dipasang aplikasi whatsapp, beliau jadi makin rajin bertukar kabar. Bahkan ikut grup whatsapp kami -anak dan menantunya- namanya "Happy Family".

Dalam tiga bulan terakhir, setidaknya sudah empat teman akrab saya ketika kuliah meninggal dunia. Ada yang terkena kanker, ada yang stroke. Ajal memang tak kenal umur. Dari foto keluarga mereka yang dikirim teman lain di grup whatsap, kelihatan anak-anak yang ditinggalkan masih kecil dengan istri yang tak bekerja.

Lalu beberapa teman mulai sigap menggalang dana simpati, yang besarnya "tak seberapa" serta pasti tak cukup untuk menggantikan penghasilan suami yang meninggal. Belum lagi bila ada hutang.

Hal tersedih yang saya pikirkan adalah, saya tak berhasil membantu dan meyakinkan mereka saar hidupnya untuk menyiapkan warisan yang cukup bagi anak istrinya, padahal justru pada orang lain saya bisa melakukannya. Ini jadi curhat, kadang-kadang mereka mentertawakan ketika saya mulai bercerita soal persiapan dana warisan. "Asuransi? Warisan? Lo mau doain gue mati",kata mereka (mungkin bercanda). Padahal tanpa dido'ain juga pasti mati.

Tak jarang justru istri-istri mereka yang menghalangi. Buat apa nyiapin warisan, ngurangin duit belanja aja. Itu yang sering saya dengar.

Saya sedih, tapi tak bisa memaksa. Tak bisa bilang apa-apa (lagi).

Inilah yang menjadi pelipur lara, foto Ibu dan Ma'e di satu kedai kopi di Terminal 3 Bandara Soetta beberapa waktu lalu ketika akan pulang ke Semarang lepas sebulan berkeliling menengok cucunya di Bogor, Serpong dan Jakarta.

"Tehnya enak, beda sama teh di rumah", kata Ibu saya menyeruput teh chamomile yang dipesannya. Senang saya melihat senyumnya. Senyum seorang Ibu, wanita yang sejahtera, bahagia dan mandiri di hari tuanya.

Dan kata statistik, di Indonesia, hanya 12% orang tua yang seberuntung ibu saya.

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam. Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal. Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara".  Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa?  Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubun

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut. Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda. Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kredi