Skip to main content

TIPS Jeli Memilih Produk Asuransi



“... Asuransi XXXX, bekerjasama dengan Bank YYY, dalam program Tabungan AAAAA, ternyata penipu. Dalam kontrak dinyatakan bahwa Dana Investasi diatas 5 tahun akan tumbuh diatas 105 % lebih.  Saya sudah menjalani kontrak 7 tahun lebih dengan pembayaran premi 300 ribu per bulan yang didebet secara langsung dari rekening saya di Bank YYY.
Anehnya bulan kemaren ketika saya mau mengakhiri kontrak, pihak XXXX mengatakan bahwa dana investasi saya selama 7 tahun 4 bulan hanya berjumlah 12 juta rupiah. Padahal saya sudah membayar 88 x 300.000 = 26.400.000.  Karena kesal akhirnya saya putuskan utk mengakhiri kontrak baik melalui pembicaraan telefon yang direkam dan juga dengan menandatangani sejumlah dokumen di Bank YYY tempat saya membuka rekening, dimana kemudian dokumen tersebut dikirimkan ke kantor XXXX di Jakarta.  Hari ini, 20 hari setelah saya mengakhiri kontrak dengan XXXX Dana Investasi yang sudah didebet selama 88 bulan belum juga masuk ke rekening saya. Yang ada malah saldo di rekening saya masih terus "dicuri" oleh XXXX senilai 300.000 ribu rupiah.
Dengan ini, saya infokan kepada teman yang jadi nasabah XXXX Indonesia, agar lebih waspada dan berhati-hati. Jangan sampai tertipu perusahaan asuransi berkedok investasi...”


Itu adalah kutipan sebuah keluhan yang ditujukan seorang nasabah pada sebuan perusahaan asuransi yang bekerjasama dengan bank dalam memasarkan produknya (bancassurance).  Dan kutipan seperti ini, saya juga temui di beberapa media.

Membaca keluhan di atas, sebagai praktisi di industri Asuransi Jiwa, saya menduga ada informasi yang tak disampaikan dengan jelas pada calon nasabah dan –atau- nasabah tak memahami produk asuransi yang ditawarkan.

Lalu langkah apa yang harus dilakukan ketika memilih sebuah produk Asuransi Jiwa ?

Pertama, ketahui dengan persis TUJUAN MEMILIKI Asuransi jiwa.  Bila tujuannya adalah memberikan proteksi atas DANA WARISAN yang bisa menutup NILAI EKONOMIS pencari nafkah, maka milikilah produk asuransi jiwa yang memberikan uang Pertanggungan tinggi (sesuai nilai ekonomis) dengan premi yang kompetitif (atau bisa dibilang rendah).  Untuk itu, milikilah Asuransi Term Life atau asuransi jiwa tradisional.  Asuransi ini memberikan Nilai Uang Pertanggungan Besar dengan Premi yang relatif rendah, serta perlu diperbaharui tiap tahun

Kedua, Bila Tujuan memiliki asuransi adalah memiliki tabungan/investasi yang bisa memberikan BONUS uang pertanggungan, maka milikilah produk UNIT LINK.  Saya menduga produk yang ditawarkan oleh Asuransi XXXX kepada nasabah di atas adalah produk Unit Link.  Salah satu karakter produk ini adalah sulit memberikan Dana Warisan/Uang Pertanggungan (UP) Besar, karena UP besar otomatis membutuhkan Cost of Insurance yang besar, dan ini berarti membebani alokasi premi untuk investasi.

Satu hal penting yang harus diketahui, bahwa Premi yang disetorkan oleh nasabah untuk produk Unit Link, sebagian akan dipotong untuk BIAYA AKUISISI.  Biaya Akuisisi ini adalah biaya yang dibebankan pada Premi yang dibayarkan nasabah untuk membayar berbagai biaya administrasi, pencetakan polis dll.  Pada beberapa perusahaan biaya akuisisi pemotongannya bisa berlangsung hingga tahun ke 6, dengan nilai bergradasi dari 100% di tahun pertama, hingga 0 % pada tahun ke 6.   dan seterusnya. Artinya, pada tahun pertama 100% premi yang disetor nasabah akan habis dipotong biaya akuisisi, hasilnya porsi investasi = 0% .  Ini jawaban mengapa keluhan di atas bisa terjadi.  Nasabah tidak mendapat informasi yang cukup detil tentang biaya akuisisi ini.  Maka PILIHLAH produk UNIT LINK dengan pemotongan biaya akuisisi terpendek secara waktu dan terkecil secara presentase jumlah.

Bila memilih memiliki produk UNIT LINK untuk tujuan investasi yang terproteksi, jangan bebani dengan berbagai macam asuransi tambahan (seperti asuransi kesehatan, misalnya).  Karena Asuransi Kesehatan akan membebankan “Cost of Insurance” juga pada premi (yang artinya mengurangi lagi porsi investasi).  Milikilah Asuransi Kesehatan memang dengan tujuan memiliki Proteksi saat sakit, jangan dicampur aduk dengan investasi.

Jadi, perlu juga sangat jeli saat memiliki produk Asuransi, jangan sampai mempermalukan diri sendiri : mengeluh atau marah di media massa karena kelalain sendiri atau kurang pengetahuan saat membeli (**)

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

KAN SAYA MASIH HIDUP ...

“Harta, sebenarnya belum bisa dikatakan pembagian harta karena saya masih hidup. Tetapi saya tetap akan membagikan hak mereka masing-masing sesuai dengan peraturan agama,” ujar ibu Fariani. Ibu Fariani adalah seorang ibu dengan empat orang anak yang baru saja ditinggalkan suaminya Ipda Purnawirawan Matta. Almarhum meninggalkan harta waris berupa tanah, rumah dan mobil senilai Rp 15 Miliar. Pada bulan Maret 2017, ketiga anak ibu Fariani mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama Kota Baubau, Sulawesi Tenggara dengan nomor 163/ptg/ 2013/PA/2017, yang inti gugatannya : Meminta bagian mereka selaku ahli waris yang sah atas harta waris almarhum ayah mereka. Dunia makin aneh? Anak kurang ajar? Tidak. Banyak orang yang memiliki pendapat seperti ibu Fariani, sebagaimana yang saya kutip di paragraf pertama di atas. Pendapat yang KELIRU. Begitu seorang suami meninggal dunia, maka hartanya tidak serta merta menjadi miliki istri atau anak-anaknya. Harta itu berubah menjadi harta tak be…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…