Skip to main content

BANYAK MEMBERI, BARU MEMINTA

Mas, setahun lalu aku ikut kelas Meningkatkan Penjualan melalui Media Sosial. Sudah aku ikutin, tapi kok omzet penjualanku nggak naik-naik ya”, Kata Fulan, seorang teman.

Saya buka halaman media sosialnya. Betul, dia banyak beriklan. Bahkan kalau saya lihat linimasa media sosialnya lebih mirip katalog belanja, karena isinya iklan semua. Nyaris tak ada informasi lain, selain pamflet, poster, flyer jualan produk.

“Di dunia ini berlaku Hukum Kekekalan Energi. Itu dulu kita pelajari pas sekolah dalam pelajaran Fisika”, jawab saya.

“Maksudnya, mas? Tanyanya bingung, karena jawaban saya nggak nyambung dengan pertanyaannya. Tanya jualan kok dijawab pelajaran fisika.

“Di dunia ini energi tidak hilang, hanya berubah bentuk. Berapapun energi energi yang kita keluarkan, akan kembali pada kita sebesar itu juga, namun mungkin dalam bentuk yang berbeda”, Jawab saya lagi. Sok bijak seperti biasa.

Dia makin bingung, kelihatannya.

“Ada tiga tipe orang beriklan di media (sosial)”, Sambung saya.

Pertama, dia posting untuk sekedar menggugurkan kewajiban saja. Karena mungkin bos, atau peraturan kolektif mewajibkannya beriklan. Karena hanya mengugurkan kewajiban, maka isinya ya seadanya yang penting kewajiban sudah dijalankan. Tak jarang cuma kopas sana-sini, comot materi dari kanan-kiri.

Kedua, dia posting berharap ada orang beli. Atau bahasa langsungnya MEMINTA orang membeli, tanpa memberi pengetahuan (atau minimal alasan) mengapa orang harus membeli barang atau jasa darinya.

Ketiga, dia posting dengan MEMBERI informasi, fakta, data dan pencerahan serta kemudian baru membujuk (cq. MEMINTA secara halus) orang membeli produk atau jasa sebagai solusi atas fakta yang telah diungkapkannya.

“Jadi maksudnya gimana, mas? Tanyanya lagi.

Golongan pertama tidak akan dapat apa-apa karena dia tak memberi dan tak meminta, sekedar menunaikan kewajiban. Golongan kedua, dia juga sedikit menerima karena dia sedikit memberi. Golongan ketiga, semakin banyak dia memberi maka akan semakin banyak dia menerima.

“Iklanmu di sosial media hanya MEMINTA, tak pernah MEMBERI”, Pungkas saja.

Di dunia ini kita sering tidak adil dan menafikan Hukum Kekekalan Energi. Dia mengangguk-angguk.

Bahkan pada Tuhan saja kita sering tidak adil. Tiap hari kita meminta, namun begitu permintaan kita dipenuhi, kita jarang memberi. Begitu kenikmatan yang diberikan “ditarik kembali” oleh Tuhan : kita bilang Tuhan tak Adil, Negaraku Tak Adil, Pemimpinku tidak Adil.

Kita suka terlalu banyak meminta, tapi jarang memberi. Beri, beri dan beri dulu, serta biarkan hukum kekekalan energi bekerja.

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut. Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda. Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kredi

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam. Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal. Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara".  Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa?  Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubun