Skip to main content

APAKAH UNITLINK TERMASUK PAPER ASSET?

Tulisan ini sebenarnya hanya merespon postingan seorang perencana keuangan tentang kisah nasabahnya.


Alkisah, nasabahnya seorang lelaki yang penghasilannya (katakan) Rp 10 Miliar per tahun. Dengan gaya hidup yang konservatif, si nasabah baru sadar bahwa di akhir tahun tabungan dia hanya Rp 3 Miliar. Sisa uangnya kemana, padahal dia dugem enggak, travelling pribadi dalam batas wajar, makan mewah jarang banget ...

Lalu, perencana keuangan tersebut melakukan bedah perkara.  Dari hasil bedah perkara, ditemukan beberapa sebab. Seperti dia terlalu mudah percaya pada orang, sehingga dengan mudah meminjamkan uangnya pada saudara atau teman dengan dalih modal usaha (yang akhirnya nggak balik lagi).


Namun, ada satu hal dari nasehat perencana keuangan itu yang menurut saya tidak pas. Yaitu : Menurut perencana keuangan itu, adalah keliru nasabah memiliki banyak unit link karena “investasi” di unit link itu justru menggerus uangnya.

Saya kira pendapat ini tidak pas, terutama soal pendapat “investasi di unitlink”. Dan saya merasa perlu mendudukkan masalah pada tempatnya.

Produk jasa keuangan itu secara garis besar ada tiga macamnya : Saving, Investment dan Protection (Disingkat S-I-P).  Produk Unit Link secara kodrat berada di sisi Proteksi (P), bukan Investasi (I). Ya, karena ini produknya perusahaan Asuransi.

Karena salah kaprah istilah “Paper Asset”, maka banyak pelaku industri jasa keuangan secara membabi buta mengkategorikan Unit Link dalam produk I (bahkan S !).

Apakah Unit Link bisa disebut sebagai Paper Asset?

Bisa ya, bisa tidak. Lho kok?

Kita kembalikan masalah soal kategorisasi Asset terlebih dahulu. Asset terdiri dari "Asset Tangible" dan "Intangible". Asset tangible kelihatan wujudnya, intangible tidak (misalnya seperti bakat, skilll dan semacamnya).  Menurut saya pribadi (sekali lagi, menurut saya pribadi) Produk Unit Link belum bisa dikategorikan Paper Asset sepanjang nilai tunai yang dikumpulkan murni hanya dari Premi dasar, tanpa Top Up.

Ya, karena dia sulit masuk kategori asset tangible (kan belum ada duitnya), atau intangible (ada bentuknya kan, walau hanya selembar kertas kontrak).

Mengapa begitu ?

Ini diagram sederhana cara kerja produk unitlink. Pada dasarnya, janji yang diberikan oleh produk unitlink adalah memberikan kepastian PREMI (dasar) TETAP sepanjang masa asuransi, walaupun si tertanggung makin tua (yang artinya RISIKO, yang direpresentasikan dalam illustrasi dalam bentuk Biaya Asuransi/Cost of Insurance Makin Besar).

Risiko makin besar, biaya menanggung risiko makin besar, tapi Iuran yang dibayar tetap. Kok bisa?

Karena ada porsi bernama “unapplied premium” alias premi tak terpakai yang diinvestasikan. Nah porsi yang diinvestasikan inilah yang dipakai untuk meneruskan program asuransinya.

Lihat gambar, ada Masa Surplus, Mas Impas dan Masa Defisit. Hasil Investasi saat masa surplus dipakai untuk “nombokin” saat masuk masa defisit.

Sehingga, hasil investasi dalam illustrasi belum layak diambil kalau akumulasi sisa Premi Dasarnya (setelah dipotong aneka biaya) pas-pasan saja. Pada kondisi ini, produk unitlink anda belum layak disebut sebagai (paper) asset. Dia hanyalah kontrak pertanggungan asuransi biasa.

Dia akan layak menjadi asset apabila ada nilai tunai yang bisa ditarik kapan saja. Ekstrimnya, hari ini masuk, besok ditarik. Caranya bagaimana? Umumnya dengan menambahkan unsur Top Up.

Jadi bagaimana dong, bagus nggak memiliki banyak produk Unit Link.

Bagus banget, bila ...

Pertama, memang dipakai untuk mengakumulasi Dana Warisan atau Dana Pembebasan Harta dalam bentuk Uang Pertanggungan yang sesuai Nilai Ekonomis Asset Intangible-nya.

Kedua, bila dilebihkan pembayarannya dalam bentuk Top Up, karena ini semacam investasi di Reksadana tapi disiplin (karena kalau bayar bulanan pembayaran melalui autodebet rekening). Lebihnya lagi, ada unsur proteksinya juga.

Jadi, itulah “The Beauty of Unitlink” yang tak banyak awam mengetahui. Kalau bener dia bisa memberi Proteksi dan juga bisa jadi tambahan investasi.

Sekali lagi kalau bener. Dan untuk bisa bener, anda harus ketemu Perencana Keuangan yang bener juga... jangan yang abal-abal.

Begitu ...

** Tulisan lain soal penjelasan Unit link ada di sini : https://goo.gl/r9p77p dan https://goo.gl/CKgLnr

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…

KAN SAYA MASIH HIDUP ...

“Harta, sebenarnya belum bisa dikatakan pembagian harta karena saya masih hidup. Tetapi saya tetap akan membagikan hak mereka masing-masing sesuai dengan peraturan agama,” ujar ibu Fariani. Ibu Fariani adalah seorang ibu dengan empat orang anak yang baru saja ditinggalkan suaminya Ipda Purnawirawan Matta. Almarhum meninggalkan harta waris berupa tanah, rumah dan mobil senilai Rp 15 Miliar. Pada bulan Maret 2017, ketiga anak ibu Fariani mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama Kota Baubau, Sulawesi Tenggara dengan nomor 163/ptg/ 2013/PA/2017, yang inti gugatannya : Meminta bagian mereka selaku ahli waris yang sah atas harta waris almarhum ayah mereka. Dunia makin aneh? Anak kurang ajar? Tidak. Banyak orang yang memiliki pendapat seperti ibu Fariani, sebagaimana yang saya kutip di paragraf pertama di atas. Pendapat yang KELIRU. Begitu seorang suami meninggal dunia, maka hartanya tidak serta merta menjadi miliki istri atau anak-anaknya. Harta itu berubah menjadi harta tak be…