Skip to main content

BUKAN SEKEDAR SOAL SAKIT DAN MATI

"Untung aku beli mobil ini Maret kemarin, bro. kalau aku telat transfer, belinya sekarang. Aku rugi 1 Milyar",kata mas Fulan, nasabah salah satu team saya ini di restoran kemarin sore, saat kami singgung soal mobilnya.

Kebetulan dia meletakkan kunci mobil mewahnya di atas meja, sepertinya sengaja.

Mas Fulan ini salah satu contoh "Silent Rich" yang hidup di negeri kita. Maksudnya, orang kaya tapi nggak kelihatan kaya. Bukan tipe BPJS : Bujet Pas-pasan Jiwa Sosialita .

Usahanya cuma "makelaran" tapi omzetnya puluhan hingga nyaris ratusan milyar per tahun.
Bulan Maret lalu, dia transfer pelunasan pembayaran mobil mewah sebesar US$ 700.000. Jadi, memang kalau dihitung, dari selisih dengan nilai kurs hari ini, dia nyaris "berhemat" Rp 1 Miliar.
Kemarin Mas Fulan bertemu kami bertiga (saya, team saya dan seorang konsultan pajak) untuk berdiskusi soal Strategi Pajak Penghasilannya. Oya, saya ketemu dia dalam kapasitas sebagai CFP (Certified Financial Planner), bukan agen asuransi.

"Aku sebenernya udah males urusan sama orang asuransi, bro. Polis asuransiku udah bejibun tuh di rumah, nggak ngerti mau diapain", katanya. Pembukaan yang mematikan.

"Oke. Mas Fulan. kita hari ini mau ngomongi soal pajak kan? Lupakan dulu asuransi. Kita fokus pada strategi mas Fulan mau nambah asset, tapi nggak perlu nambah Pajak Penghasilan, kan?", jawab saya tak kalah mematikan.

Dia manggut-manggut. "Oke caranya gimana, kita to the point aja",pungkasnya.
Seperti biasa, saya keluarkan kertas HVS dan spidol. Senjata rahasia saya.

"Oke mas Fulan, kita fokus pada target penambahan asset tahun depan yang hemat pajak",kata saya sambil mulai menggambar.

Asumsi penambahan assetnya Rp 5 Miliar, konversi dari uang tunai "nganggur" yang dimiliki saat ini.

Ada beberapa instrumen yang bisa kita pakai. Mulai dari Buka deposito baru, Beli Obligasi (yang lagi hits sekarang SBR 004), dibeliin apartemen, tetap sebagai uang tunai dan ...dibeliin polis asuransi.
Saya lihat sorot mata mas Fulan sudah mulai curiga, pasti dalam pikirannya dia berkata "What? Asuransi lagi?".

Setelah gambar selesai dibuat, saya sodorkan padanya. "Ini yang terjadi", jelas saya.

Kalau konversi ke apartemen, selain ketika beli kena PPN 10% dan BPHTB 5% dari harga, nanti kalau apartemen itu dijual, dia musti bayar lagi PPh sebesar 2,6%. Sedangkan apartemen dia sudah banyak.

Kalau konversi ke Deposito. Dana sebesar Rp 5 Milyar melebihi batas dana yang dijamin oleh LPS. Selain itu UU Pajak penghasilan menggariskan bahwa pajak atas bunga deposito adalah bersifat final, 20% dari bunga. Itu nilai kewajiban pajaknya sekitar Rp 50 jutaan per tahun selama saldonya tetap dan bunganya tidak di ARO (Automatic Roll Over). Ini kurang cocok, karena saldo deposito mas Fulan sudah terlalu besar.

Kalau Konversi ke Obligasi, katakan dibelikan SBR 004 yang sekarang lagi hits bagus juga, kupon/returnya 8% per tahun. Tapi jangan lupa, pajak atas hasil obligasi juga bersifat Final : 15% dari hasil, atau sekitar Rp 60 jutaan. Ini bisa sebagai alternatif, tapi belum bisa menghemat pajak.
Tetap sebagai uang tunai? tinggalkan alternatif ini. Ribet, bikin tidur nggak nyenyak. Repot.
"Jadi tinggal asuransi dong",sergah mas Fulan.

Iya, Asuransi adalah alternatif diversifikasi asset. Repotnya, ini adalah ALTERNATIF TERBAIK untuk kondisi mas Fulan saat ini.

"Maksudnya, alternatif Terbaik?",tanyanya penasaran.

Begini. Pada saat mas Fulan menandatangani persetujuan penutupan polis asuransi, pada dasarnya dia sedang menyiapkan skenario investasi untuk dua skenario hidup : Skenario Pendek Umur dan Skenario Panjang Umur.

Mengapa Terbaik? Karena Pencairan manfaat (klaim) tidak dikenakan PPh. Ini asset likuid yang "tak laku digadai" jadi aman aja disimpan di rumah...plus menurut UU no 19 Tahun 2000 (Penagihan Pajak dengan Surat Paksa), polis asuransi bukanlah termasuk asset yang bisa menjadi obyek sita pajak.

"Mosok sih?",tanyanya.

Saya sodorkan salinan UU no 36 tahun 2008, pasal 4 ayat 3. Mas Fulan membaca, dan kelihatan sumringah.

"Aku udah ngerti, bro. Oke kita makan dulu, kita ngomong yang enak-enak. Udah faham aku sekarang", katanya sambil menyendok nasi dari wadahnya.

Biasanya kalau sudah calon nasabah ngomong begini, saya sudah minta team saya nyiapin ipad buat ditandatangani.

Sekali lagi, asuransi bukan sekedar soal sakit dan mati.

Comments

Popular posts from this blog

MAU JUAL GINJAL? BACA SAMPAI SELESAI !

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam. Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal. Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara".  Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa?  Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubun

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut. Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda. Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kredi