Skip to main content

OJEK ONLINE, ANGKOT dan CHATUKOOL

Suatu siang di tahun 2006 yang panas dan kering, sekelompok eksekutif perusahaan Peralatan Rumah Tangga lokal di India berkumpul.

Nama Perusahaan itu Godrej&Boyce. Barangkali kalau di Indonesia mereka sebesar perusahaan yang di iklannya minta kita "mencintai ploduk-ploduk Indonesia". Mungkin lebih besar malah, mengingat jumlah penduduk (baca : pasar) India yan...g jauh lebih banyak.

Mereka yang sedang berkumpul sedang risau, dan berdiskusi hebat bagaimana membuat produk Kulkas...ya Kulkas, lemari es mereka bisa mengalahkan dominasi kulas bikinan Jepang, Amerika dan Korea : Sharp, LG dan GE.

Di India, konon saat itu, Kulkas dimiliki oleh 15% penduduknya. Sisanya, 85% tidak memiliki kulkas, karena alasan daya listrik di rumahnya yang tidak memadai, serta kebanyakan orang India belumlah memiliki kebiasaan seperti orang Barat yang berbelanja bahan makanan seminggu sekali untuk kemudian menyimpannya di dalam kulkas. Apa yang mereka masak dan makan hari ini, adalah apa yang mereka belanja hari itu juga.

Jadi bukannya tak ingin merasakan manfaat sebuah benda bernama kulkas, mereka tak menjangkaunya.

Godrej keluar, menghabiskan waktu dengan para (calon) pembeli kulkas mereka. Dana menemukan bahwa mayoritas di 85% konsumen yang tak memiliki kulkas, sebenarnya -kalau menemukan kesempatan - pengen juga memilikinya. Sekedar untuk menyimpan minuman dingin yang mereka bisa minum selepas hari kerja yang berpeluh, atau menyimpan makanan yang dapat dihangatkan malam hari ketika ayah pulang kerja.

Maka Godrej keluar dengan ide sebuah kulkas yang "sederhana", bertenaga baterai (aki), bisa "disunggi" dibawa di atas kepala ke sawah dan yang penting ...murah. Murah artinya bila dibandingkan LG atau GE dengan ukuran yang sama, harganya hanya separuhnya.

Kulkas itu bernama "Chatukool" yang tak hanya memenangkan nalar para pembelinya yang tadinya tak berfikir soal kulkas, menjadi membelinya (membuatnya memiliki nilai penjualan yang spektakuler); serta memenangkan pula hati pembelinya, dengan memenangkan Award sebagai Produk yang memiliki "Social Impact" tahun 2012 di India.

Lalu apa hubungannya dengan perseteruan Angkot dan Ojek Online?

Khususnya di Bogor, angkot -tadinya- adalah raja jalanan. Baik dari sisi "perilaku" para pengemudinya, maupun jumlahnya. Angkot di Bogor adalah produk birokrasi masa lalu yang "sedikit kerja pengen duit banyak" : permudah perijinan, dealer mobil jual banyak, karoseri mengasilkan omzet (dan setoran) besar, pajak kendaraan dan retribusi yang masuk banyak. Simpel.

Dan belakangan, 5-10 tahun kemudian, angkot itu bobrok karena tak sanggup beroperasi untuk sekedar balik modal. Jumlah penumpang tak sebanding dengan jumlah angkotnya. Boro-boro untuk peremajaan, untuk membuat armadanya beroperasi dalam standar layak saja sudah setengah mati. 

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…

WARISAN ITU BERKAH ATAU MASALAH ?

Sebut saja namanya Fulan. Orangtua Fulan kaya raya, pengusaha suplai besi untuk beton dan pekerjaan sejenisnya. Jelas, hartanya banyak termasuk sebuah rumah megah dua lantai di sebuah Perumahan elit di Semarang. Nilai taksirannya -kata Fulan- sekitar Rp 1.5 miliar. Rumah senilai segitu di Semarang, jelas lumayan elit.

Hingga cerita ini dimulai. Alkisah orang tua Fulan meninggal dunia, meninggalkan usaha (yang belakangan Fulan tak bisa mengelola dan meneruskannya, karena tak pernah terlibat di dalamnya), dan rumah mewah itu. Karena tak lagi meneruskan usaha, membiayai rumah sebesar itu tentu menjadi beban berat bagi Fulan. Tagihan listrik bengkak luar biasa (hampir diputus) dan Fulan memutuskan untuk menjual rumah, dengan putus asa.

Persoalan timbul saat akan menjual rumah "mahal" itu adalah adanya biaya-biaya yang timbul, proses notaris, pajak jual beli, balik nama sertifikat, dan biaya lain Rumah senilai Rp 1.5 miliar butuh biaya untuk proses jual bel…