Skip to main content

PINDAH KE ARAB

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Pemerintah Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menerapkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) besarnya 5% dari harga barang yang dijual. Di Uni Emirat Arab sendiri, ditargetkan pendapatan dari penarikan pajak ini bisa mencapai $ 3.3 Miliar setahun (http://www.bbc.com/news/business-42508883) .

Ini adalah salah satu bentuk reformasi keuangan terbesar yang terjadi di Arab Saudi, karena sebelumnya negera ini tidak mengenakan pajak bahkan memberi aneka rupa subsidi untuk warganya.

Mengapa Arab Saudi dan UAE menarik pajak? Karena minyak bumi yang menyumbang 89-90 % pendapatan mereka, mulai tidak seksi lagi. Perlu ada sumber pendapatan lain untuk memutar roda perekonomian dan pembangunan mereka. Walaupun sampai saat ini mereka belum ada wacana untuk memungut Pajak Penghasilan (PPh).

Lalu bagaimana kita? Mengapa pajak akan selalu menjadi ‘Isu Penting’ buat kita siapapun nanti gubernur dan presidennya?

Untuk yang sudah mengulik APBN 2018, Target Penerimaan kita adalah Rp 1.800 Triliunan, dan untuk “Belanja” kita butuh Rp 2.200 Triliunan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, porsi pemasukan dari pajak masih mendominasi, 80% an. Lho katanya Indonesia kaya akan Sumber Daya Alam?

Maaf, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) kita “hanya” Rp 247 Triliun dan baru kurang dari separuhnya (Rp 103 Trilun) yang disumbang dari Pemasukan atas pemanfaatan SDA. Mungkin karena kita sibuk berpolitik di medsos dan grup watsap... sampai lupa kalau SDA yang berlimpah tak termanfaatkan dengan baik.

Dan siapa yang akan membayar pajak lebih banyak? Ya pasti orang-orang kaya.

Misalnya, orang-orang kaya yang tak tahu bahwa rajin mengumpulkan tanah dan bangunan sebagai INVESTASI mengandung beban pajak yang besar, di semua lininya.

Mau jual, beli, ngebangun, menyewakan, terima warisan rumah/bangunan ada pajaknya.

Makanya masih heran saja kalau masih ada yang masih bangga menumpuk tanah, rumah dan apartemen di mana-mana.

Itulah pentingnya Ilmu Perencanaan Pajak. Dan Saya kasih tahu -salah satu - rahasianya : memiliki Paper Asset dalam bentuk Asuransi adalah langkah bijak untuk menghemat Pajak.

Jadi asuransi adalah solusi penghemat pajak, bukan pindah ke Arab.

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…

WARISAN ITU BERKAH ATAU MASALAH ?

Sebut saja namanya Fulan. Orangtua Fulan kaya raya, pengusaha suplai besi untuk beton dan pekerjaan sejenisnya. Jelas, hartanya banyak termasuk sebuah rumah megah dua lantai di sebuah Perumahan elit di Semarang. Nilai taksirannya -kata Fulan- sekitar Rp 1.5 miliar. Rumah senilai segitu di Semarang, jelas lumayan elit.

Hingga cerita ini dimulai. Alkisah orang tua Fulan meninggal dunia, meninggalkan usaha (yang belakangan Fulan tak bisa mengelola dan meneruskannya, karena tak pernah terlibat di dalamnya), dan rumah mewah itu. Karena tak lagi meneruskan usaha, membiayai rumah sebesar itu tentu menjadi beban berat bagi Fulan. Tagihan listrik bengkak luar biasa (hampir diputus) dan Fulan memutuskan untuk menjual rumah, dengan putus asa.

Persoalan timbul saat akan menjual rumah "mahal" itu adalah adanya biaya-biaya yang timbul, proses notaris, pajak jual beli, balik nama sertifikat, dan biaya lain Rumah senilai Rp 1.5 miliar butuh biaya untuk proses jual bel…