Skip to main content

MENGAPA HARGA NAIK ?


Iklan ini mungkin berasal dari era tahun 70-an awal. Iklan Honda bebek C70, harganya saat itu Rp 158.000,- perak. Sekarang, jumlah uang yang sama hanya cukup untuk mengudap burger di Restoran Waralaba Amerika sekeluarga. Sekali makan.

Dulu motor bebek baru Rp 158. Ribu, sekarang 100 kali lipatnya. Kenapa ? Karena INFLASI. Lalu kami -para perencana keuangan- datang membawa kesadaran bahwa hidup untuk melawan inflasi caranya sederhana : Kurangi Cicilan, Banyakin Tabungan. Kurangi Bujet Hobby, Banyakin Investasi.

Dan saya pernah menuliskan kenapa sampai ada kejadian namanya inflasi pada 20 Januari 2016 lalu. Ini saya copy-kan :

--------------------------------
MENGAPA INFLASI?

Jadi beginilah duduk persoalannya, bro. Tahun 1990 an bang Rhoma Irama pernah nyanyi, syairnya kira-kira begini "... Seratus limapuluh juta penduduk Indonesia..." . Sekarang, penduduk negerimu (eh, negeriku juga sih) sudah 255 jutaan orang, alias 255 jutaan mulut yang musti disuapin nasi. Nasi datangnya dari beras, beras dari gabah, gabah dari padi, padi dari sawah. Anak SD juga tahu.

Ini berita diambil dari Kompas kemarin. Judulnya : Bogor Terancam Kehabisan Sawah, ada di halaman 1. Cuma di Bogor ? pasti enggak. Cobalah lewat tol Ciampek, sepanjang Karawang Barat-Karawang Timur yang dulu kiri kanan sawah, sekarang kiri-kanan rumah. Kalau sawah habis, sementara beras yang dibutuhin makin banyak bagaimana dong?

FYI ya bro, laju pertumbuhan penduduk Indonesia itu "cuma" 1.49% per tahun (kata website BPS, 2015). Kecil ? tunggu dulu. Angka itu setara dengan 5,5 juta orang per tahun, perbandingannya : 5,5 juta adalah penduduk Singapura. Artinya, selama sepuluh tahun, kita bikin sepuluh Singapura baru.

Masih mikir itu kecil ? Angka 5,5 juta bayi lahir per tahun itu setara 8.6 bayi lahir per MENIT. Setiap menit, brojol owek owek 8 bayi lebih, yang 3-4 tahun lagi bakal perlu nasi liwet. Sementara sawah relatif tak bertambah.

Tenang, masih bisa impor beras. Beli beras dari Thailand, Vietnam, atau mungkin negara lain yang tak muncul di berita. Tapi bro ingat rupiah kita, jangankan buat leyeh-leyeh di Pattaya, atau buat belanja di Chatuchak Weekeend Market, buat beli rujak aja nggak laku. Artinya beli (baca : impor) beras ya musti pakai dollar. Sementara Yang nyetak Dollar kan nggak tiap hari cetak tambahan Dollar. Segitu-gitu aja. Hukum pasar bilang : bila permintaan banyak, suplai seret maka harga naik. Jaman saya kuliah dulu Dollar cuma setara Rp 2500,-, jaman sekarang saat saya mau nguliahin anak... naik hampir enam kali lipat. Atau dibalik faktanya : Nilai duit kita turun 600% selama 25 tahun terakhir, itungan ngawur saya rata-rata NILAI duit kita turun 24% per tahun. Kata para jagoan ilmu ekonomi makro, ini namanya INFLASI.

Itu baru ngomongin beras, belum ngomongin bensin (yang katanya masih banyak impor juga), sambel sampai garam.

Lalu, ngapain kuatir kuatir kan punya tabungan, deposito ? Bro, tabunganmu cuma bisa kasih pertumbuhan nilai paling 2% per tahun, itu juga kalau enggak kartu ATM-nya digesek terus. Deposito ? paling 6-7 % per tahun, gross belum potong pajak (PPN Deposito adalah Final 20% dari Bunga). Pusing kan, Nilai duit kita naik paling pol 6% tapi gara-gara inflasi ternyata nilainya jadi minus 17%-an.

Itu bisnis sekarang, cerita soal beras, sawah, impor, dollar, inflasi, menjaga nilai uang... disamping ngomongin kopi bali Kintamani yang rasa asam, ada aroma jeruk-jeruknya di kedai MISTERBLEK.

Beneran ini serius, udah cari duit susah-susah jangan sampai kalah sama inflasi. Bukannya nambah malah hilang (nilainya). Kalau konsultasi soal jualan kopi atau merencanakan keuangan keluarga, whatsapp saya deh...gratis. Iya gratis, kan nge-whatsapp pakai kuota sendiri. Atau kalau malu, bisa visit blog saya : http://basri-adhi.blogspot.com/ ...juga gratisss

Itu sedikit cerita kenapa bisa terjadi inflasi. Jadi kalau berharap inflasi selesai dengan membuat pak Harto hidup kembali, ya pasti ngimpi.

Kita tak bisa menghindar dari Inflasi, tapi kita bisa mengalahkannya. Tentu dengan perencanaan S(aving), I(nvestment) dan P(rotection) yang bener.

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

APAKAH UNITLINK TERMASUK PAPER ASSET?

Tulisan ini sebenarnya hanya merespon postingan seorang perencana keuangan tentang kisah nasabahnya.

Alkisah, nasabahnya seorang lelaki yang penghasilannya (katakan) Rp 10 Miliar per tahun. Dengan gaya hidup yang konservatif, si nasabah baru sadar bahwa di akhir tahun tabungan dia hanya Rp 3 Miliar. Sisa uangnya kemana, padahal dia dugem enggak, travelling pribadi dalam batas wajar, makan mewah jarang banget ...

Lalu, perencana keuangan tersebut melakukan bedah perkara. Dari hasil bedah perkara, ditemukan beberapa sebab. Seperti dia terlalu mudah percaya pada orang, sehingga dengan mudah meminjamkan uangnya pada saudara atau teman dengan dalih modal usaha (yang akhirnya nggak balik lagi).

Namun, ada satu hal dari nasehat perencana keuangan itu yang menurut saya tidak pas. Yaitu : Menurut perencana keuangan itu, adalah keliru nasabah memiliki banyak unit link karena “investasi” di unit link itu justru menggerus uangnya.

Saya kira pendapat ini tidak pas, terutama soal pendapat “investa…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…