Skip to main content

HARTA SEPERTI PIRING KOTOR

"Harta yang kita miliki itu bisa seperti piring kotor",kata Pak Ustadz pengisi kajian ba'da subuh ini memulai.

Saya menyukai isi kajiannya, walau tidak disampaikan dalam bahasa yang "ndakik-ndakik" sebagaimana penyampaian ustadz-ustadz sosmed. Wajah beliaupun bersih, walau nggak sekinclong ustadz-ustadz tivi.

"Coba anda perhatikan sekeliling anda, atau minimal lihat wajah anda di cermin",katanya.
Berapa banyak orang yang hartanya sebanyak koleksi piring di tiga lemari yang dimilikinya, tapi hidupnya tak bahagia. "Lho kok tahunya hidupnya tidak bahagia? sambung beliau.
Lihat saja sorot mata dan seberapa "lepas" senyumnya saat difoto. Sorot Mata dan senyum tak bisa berdusta.

Orang seperti ini "piringnya banyak". Tiga, bahkan empat lemari. Tapi tiap kali mau makan, piringnya ternyata (masih) kotor semua, numpuk di tempat cucian piring tak bisa dipakai. Jadi tiap kali mau makan, dia merasa kekurangan piring. Tiap kali itu pula yang dia pikirkan adalah membeli dan memiliki piring baru lagi. Tiada habisnya. Alih-alih mensyukuri enaknya makanan yang dinikmati, dia hanya memikirkan bahwa piringnya selalu kurang.

Piring kurang bukan karena pecah, atau hilang. Namun, kurang karena piring-piringnya kotor tak dicuci.

Coba refleksikan itu dalam hidup kita. Sudah punya rumah, pengen punya apartemen. Sudah ada rumah dan apartemen, pengen punya ruko. Sudah punya sedan, pengen minibus. Sudah punya sedan dan minibus, pengen punya jip. Sudah punya sedan, minibus dan jip, pengen punya truk. Sudah punya scoopy dan Mio, pengen punya Harley.... terus dan terus.

Coba cek, apartemen, ruko (diluar rumah yang sudah kita tempati dan miliki), Jip diluar sedan yang kita naiki, Harley yang mungkin hanya sempat dinikmati enam bulan sekali : apakah jadi beban atau sumber kenikmatan hidup?

Ciri jadi BEBAN adalah : saat kita mau istirahat, leyeh-leyeh, tiba-tiba teringat musti kerja lagi karena listrik apartemen belum dibayar, uang sewa ruko ke penyewa belum ditagih. Saat jenuh bekerja, pengen piknik sejenak : tiba-tiba ingat nanti kalau rumah ditinggal, motornya takut diambil maling...atau paling parah takut duitnya berkurang gara-gara piknik itu. "Nyari duit susah-susah kok dibuang-buang buat piknik",dalihnya.

Akhirnya hartanya buanyaak... tapi nggak cukup-cukup, merasa dikejar pekerjaan yang nggak selesai-selesai, capek berat. Senyum susah, bawaannya curiga melulu sama orang lain. Tidak bahagia.
Maka harta yang menjadi beban itu adalah semisal tumpukan Piring Kotor di tempat cuci piring rumah kita.

Maka kata pak Ustadz, bersihkan harta kita itu. Bukan sekedar dengan mengeluarkan sedekah, namun sedekahnya dibebani pengharapan rezekinya di masa depan diperlancar.

"Beramal baik untuk kemudian kita lupakan, seperti kita membasuh sisa-sisa makanan dengan air, mengeluarkannya melalui lobang pembuangan di tempat cuci piring",kata beliau.

Bersihkan harta dengan membuat orang lain bahagia, tanpa harus menyampaikan di depan umum (sengaja atau tak sengaja) ",Akulah yang membahagiakan dia. Akulah yang membuat lapangan kerja untuknya. Akulah yang membuatnya bisa berangkat umroh atau haji. Akulah yang membuat anaknya bisa jadi sarjana, Akulah yang membuatnya jadi orang sukses".

Mencuci piring kotor itu harus dilakukan segera, tak harus menunggu piring baru datang, kotorannya menumpuk dan akhirnya sisa makanannya berbau. Lakukan diam-diam tak usah banyak mengeluarkan bunyi, takut piringnya pecah.

Akhir nasehatnya",Kalau tangan kananmu memberi, usahakan tangan kirimu tak tahu". Maka lihat fotomu dan senyummu saat tak ada lagi piring kotor dalam hidupmu.
Sorot Mata dan Senyum dalam foto tak bisa menipu.

Comments

  1. Sangat membutuhkan ginjal seharga $ 500.000 USD.Contact via email di davidkary123@gmail.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya bersedia jual ginjal saya no watshap Sya 083876729228

      Delete
    2. Saya ingin menjual ginjal atau organ tubuh lainnya,untuk biaya anak" saya,saya ikhlas demi anak" saya
      Hubungi saya secepatnya jika ada yg berminat di no 081932504337

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…

KAN SAYA MASIH HIDUP ...

“Harta, sebenarnya belum bisa dikatakan pembagian harta karena saya masih hidup. Tetapi saya tetap akan membagikan hak mereka masing-masing sesuai dengan peraturan agama,” ujar ibu Fariani. Ibu Fariani adalah seorang ibu dengan empat orang anak yang baru saja ditinggalkan suaminya Ipda Purnawirawan Matta. Almarhum meninggalkan harta waris berupa tanah, rumah dan mobil senilai Rp 15 Miliar. Pada bulan Maret 2017, ketiga anak ibu Fariani mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama Kota Baubau, Sulawesi Tenggara dengan nomor 163/ptg/ 2013/PA/2017, yang inti gugatannya : Meminta bagian mereka selaku ahli waris yang sah atas harta waris almarhum ayah mereka. Dunia makin aneh? Anak kurang ajar? Tidak. Banyak orang yang memiliki pendapat seperti ibu Fariani, sebagaimana yang saya kutip di paragraf pertama di atas. Pendapat yang KELIRU. Begitu seorang suami meninggal dunia, maka hartanya tidak serta merta menjadi miliki istri atau anak-anaknya. Harta itu berubah menjadi harta tak be…