Skip to main content

MEMBAYAR AIR SUSU?

Ningsih adalah nama ibunya. Rully adalah nama anaknya. Ibu dan anak ini sedang berserteru di Pengadilan Agama Praya. Asal muasal seterunya karena perkara warisan. Dan karena berseteru di Pengadilan Agama, maka bisa dipastikan keduanya muslim, dan membagi warisan dalam Hukum waris Islam.

Pangkal persoalannya adalah suami Ningsih (atau ibunya Rully) meninggal dunia meninggalkan warisan berupa tanah seluas 4,2 are (sekitar 420 meter ersegi) yang berdiri di atasnya sebuah rumah.

Konon, sebelum meninggal, almarhum pernah memberikan "wasiat" bahwa kalau dia meninggal, rumah tersebut jangan dijual. "Dia (Rully) tetap ngotot agar tanah itu tetap dibagi, padahal wasiat bapaknya tidak boleh untuk dibagi. Jadi dia tidak ingin berdamai, saya pun tidak ingin berdamai, biar deh lanjut perkaranya," kata Ningsih sebagaimana dikutip Kompas.com

Melihat kelakuan anaknya itu, Ningsih sampai mengancam akan menuntut air susu yang sudah diberikan kepada Rully. "Pokoknya saya tidak maafkan dia (Rully), pokoknya dia harus bayar air susu saya, saya sudah capek jadi ibu, saya sudah bosan," kata Ningsih dengan nada tinggi, demikian juga yang dikutip oleh Kompas.com

Oke, kita kupas satu-satu, kita pandang secara obyektif dari kacamata Hukum waris islam.

PERTAMA. Bolehkan seseorang -menurut Hukum waris Islam- melarang ahli warisnya membagi harta warisnya? Dalam hukum Waris Islam berlaku prinsip IJBARI. Yang dimaksud Ijbari adalah bahwa dalam kewarisan Islam secara otomatis peralihan harta dari seseorang yang telah meninggal dunia (pewaris) kepada ahli warisnya sesuai dengan ketetapan Allah SWT tanpa digantungkan kepada kehendak seseorang baik pewaris maupun ahli waris

Seseorang tidak boleh berkehendak diluar ketentuan Hukum Waris, terkait harta yang kelak ditinggalkannya, karena dalam Islam tidak dikenal kepemilikan harta secara pribadi. Harta ini milik Allah SWT, dan kita hanya mendapat titipan (lihat -salah satunya- dalam surat Al Maidah :120).

Jadi tindakan membuat "wasiat" yang isinya melarang harta waris dibagi adalah melanggar prinsip Ijbari ini.

KEDUA. Pembagian warisan adalah pembagian NILAI (VALUE), bukan pembagian fisik. Misal yang dibagi adalah rumah, maka yang dibagi adalah nilai rumahnya; bukan jumlah kamarnya. Itu mengapa kewarisan Islam berlaku prinsip AKURAT. Tinggal di salah satu kamar dalam rumah itu, bukan berarti pembagiannya sudah sah, karena nilainya belum tentu sepadan dengan porsi pembagian yang digariskan dalam Surat An Nisa': 11-12.

KETIGA. Banyak pihak menilai pembagian (porsi waris) dalam Hukum Waris Islam (Surat An Nisa : 11-12) tidak adil karena semata hanya melihat angka porsinya, seperti misalnya istri memiliki anak yang hanya menerima 1/8 bagian. Itu terjadi karena mempelajari Hukum Waris Islam hanya berfokus pada dua ayat tersebut.

Padahal, tuntunan soal Hukum Waris Islam dimulai dari surat An Nisa' ayat 2 hingga ayat 10, yang intinya Melindungi Hak Anak Yatim. Jadi ada latar belakang yang cukup kuat sampai muncul porsi tersebut.

Memahami Hukum Waris Islam hanya sepotong-sepotong (atau bahkan tak mengetahuinya sama sekali) berakibat munculnya asumsi tidak adil tadi.

Maka sebenarnya, betul apa yang dikatakan Rully (si anak) dalam persidangan mediasi tersebut. "Nanti kalau sudah putusan kita akan tahu hak-hak kita, hak adik saya, hak mama saya, dan ini juga untuk jaga-jaga kalau nanti ada yang mengklaim harta warisan almarhum bapak," kata Rully, sebagaimana dikutip oleh Tribunkaltim.com

KEEMPAT. Karena minimnya literasi soal Hukum waris, maka minim pula tindakan Perencanaan waris. Kasus ini tentu bukan kasus yang pertama, tapi kita seolah tutup mata, dan berusaha bilang dalam hati "Ah, semua baik-baik aja).

Pertanyaannya selanjutnya : Jadi apa peranan Produk Asuransi Jiwa dalam hal mencegah Pertikaian ini terjadi?

Untuk diketahui Akad Asuransi Jiwa adalah Akad yang mengatur kesepakatan antara "Penanggung" (cq. Perusahaan Asuransi) dengan "Tertanggung" (yang berkepentingan) untuk memberikan manfaat pada "Yang Ditunjuk". Berbeda dengan Hukum waris yang mengatur antara Pewaris, Ahli waris dan Harta waris.

Bagian istri dalam kasus seperti di atas -menurut Hukum waris islam- adalah 1/8 bagian dari NILAI RUMAH tersebut, sisanya adalah hak Ahli waris lain (termasuk anak-anak yang notabene menjadi anak Yatim yang hanya dijamin oleh surat An Nisa' : 2 -10). Katakan istri menjadi pihak "Yang Ditunjuk" dalam Akad Asuransi Jiwa, maka dia bisa membayar/mengkompensasi 7/8 hak ahli waris lain dengan Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tersebut.

Dengan dibayarkan/dikompensasikannya hak para ahli waris lain, maka Hukum waris tersebut bisa ditunaikan dengan baik. InsyaAllah, tidak akan ada sengketa di kemudian hari. Seolah rumah tersebut "dibeli" oleh si istri/ibu dari anak-anak.

Lalu, apakah harus menggunakan uang dari Manfaat Asuransi Jiwa untuk mengkompensasi hak ahli waris lain? tentu saja tidak. Karena dalam Islam bisa saja kalau istri memiliki uang tunai senilai 7/8 harta waris, dia bisa saja membayarkannya dengan uang tunai yang dimilikinya sendiri.

Masalahnya, tidak semua istri memiliki kemampuan mengumpulkan, hingga memiliki uang sebesar itu (bayangkan kalau nilai rumah warisan itu Rp 1 Miliar, artinya istri harus siap Rp 875 juta).

Maka, di sinilah peran asuransi jiwa sebagai Solusi Perencanaan Waris. Artikel ini tentu belum mewakili keseluruhan konsep Kewarisan Islam, detilnya anda bisa Ikut kelas saya. batch 8 akan diselenggarakan tanggal 27 Agustus 2020. Info dan pendaftaran, silakan kontak mbak Ade di BHR Academy melalui watsap 0819 9643 8678.

Semoga kita nanti tak perlu menuntut apa yang sudah kita berikan pada anak-anak kita (karena itu kewajiban orang tua) gara-gara berebut warisan. Termasuk meminta anak membayar air susu yang sudah dicurahkan ...

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.

Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bola mata: US…

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang.

Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut.

Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda.

Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kreditu…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…