Skip to main content

Bukan Cuma Materi ...

Dia hanya berjualan kerupuk. Apa artinya kerupuk, yang sebungkus isi 5 gelundung harganya hanya 1000 rupiah, dibandingkan bisnis miliaran para pegawai wangi berdasi dan pengusaha besar di republik ini. Tapi, karena hanya berjualan kerupuk, beliau sangat mengisnpirasi saya.

Namanya -sebut saja- Pak Amin. Saya tak berjumpa langsung dengannya, hanya ngobrol dengan Maman, seorang anak buahnya : pengecer kerupuk dengan sepeda, yang kebetulan numpang rehat di gardu siskamling depan rumah saya. Dari Maman-lah saya mendapat banyak cerita, tentang pak Amin dan perjuangannya.

Keluar dari sebuah pabrik kerupuk di Tangerang akhir tahun 2007, pak Amin memutuskan untuk memulai perjuangannya sendiri. Dengan modal dan peralatan seadanya, dia memulai usaha : membuat pabrik kerupuk di pojokan daerah POMAD - Ciluar Bogor. Di bedeng sewaan ukuran 6 x 6 yang disewanya untuk pabrik, tempat tinggal dan "asrama" bagi 4 orang tetangga kampungnya (2 orang membantu produksi, dan 2 orang berkeliling menjajakan kerupuk) : awal 2008 tonggak awal sebuah usaha ditancapkan.

Maman bercerita: ketekunan, kemauan kuat dan tidak mudah menyerah adalah rahasia sukses pak Amir. Pak Amir adalah naungan bagi para anak buahnya, yang notabene adalah teman-teman sekampung yang kurang beruntung nasibnya. Pak Amir tetap pembuat kerupuk, duduk seharian sambil mencetak kerupuk, walau dia seorang pengusaha. Tapi, kadang pak Amir juga berpeluh menggenjot sepeda bila anak buahnya sedang sakit tak bisa menjajakan barang dagangannya.

Tapi, lanjut Maman, kini cerita sudah berbeda. Dengan 11 orang anak buahnya, keuntungan bersih 12 juta setiap bulannya : Pak Amir mulai berdaya. Dibelinya tanah yang dulu disewanya, diperbesarlah kapasitas usaha; dan kini beliau sedang mengajari 5 penjaja kerupuk baru untuk memperluas areal jualannya.

Kerupuk bisa mengubah dunia.

Maka, di tanggal yang masih muda dalam tahun baru ini; agaknya sudah seharusnya kita mulai berfikir. Mencermati dan berefleksi : adakah perubahan besar yang sudah kita buat sepanjang tahun lalu? Tak cuma karena materi kita yang bertambah banyak, dompet kita yang bertambah tebal...namun, berapa orang yang menjadi berdaya karena buah perjuangan kita?

Pak Amir, lewat mulut Maman penjual kerupuk keliling di depan rumah saya, menusuk dalam dengan inspirasinya.

** Bogor, 3 Januari 2010.

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

KAN SAYA MASIH HIDUP ...

“Harta, sebenarnya belum bisa dikatakan pembagian harta karena saya masih hidup. Tetapi saya tetap akan membagikan hak mereka masing-masing sesuai dengan peraturan agama,” ujar ibu Fariani. Ibu Fariani adalah seorang ibu dengan empat orang anak yang baru saja ditinggalkan suaminya Ipda Purnawirawan Matta. Almarhum meninggalkan harta waris berupa tanah, rumah dan mobil senilai Rp 15 Miliar. Pada bulan Maret 2017, ketiga anak ibu Fariani mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama Kota Baubau, Sulawesi Tenggara dengan nomor 163/ptg/ 2013/PA/2017, yang inti gugatannya : Meminta bagian mereka selaku ahli waris yang sah atas harta waris almarhum ayah mereka. Dunia makin aneh? Anak kurang ajar? Tidak. Banyak orang yang memiliki pendapat seperti ibu Fariani, sebagaimana yang saya kutip di paragraf pertama di atas. Pendapat yang KELIRU. Begitu seorang suami meninggal dunia, maka hartanya tidak serta merta menjadi miliki istri atau anak-anaknya. Harta itu berubah menjadi harta tak be…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…