Skip to main content

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam.

Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal.

Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara". 

Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa? 

Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubungan "Insurable Interest" atau hubungan Dampak Finansial. Artinya, Penerima manfaat uang Pertanggungan TIDAK HARUS Ahli Waris sebagaimana yang diatur dalam hukum waris. 

Sepanjang Calon Penerima Manfaat memiliki hubungan "Dampak Finansial" walaupun bukan ahli waris, dia bisa ditunjuk.

Kemudian bagaimana halnya bila kejadiannya seperti di atas (ambil contoh, misalnya dalam kecelakaan pesawat yang menewaskan satu keluarga)?

Sebenarnya jawabannya tak perlu disusun berdasar karangan bebas, karena dalam Ketentuan Umum Polis (biasanya dalam Pasal Permintaan Pembayaran Manfaat Asuransi), sudah diatur bila terjadi hal tersebut. Dari beberapa polis Perusahaan Asuransi yang sudah saya baca, rata-rata memiliki aturan yang -kurang lebih - sama. 

Bila terjadi kejadian di atas, maka Polis Asuransi Bilang Manfaat uang Pertanggungan akan diberikan pada AHLI WARIS Penerima Manfaat sesuai hukum yang berlaku. Ahli waris yang dimaksud tentu mengacu pada Hukum Waris yang dipakai oleh keluarga saat membagikan warisan (Bisa Perdata, Bisa Islam, Bisa Adat).

Contoh : bila istri (muslimah) yang menjadi penerima manfaat (dan ternyata istri ikut meninggal pada kejadian yang sama), maka manfaat Uang Pertanggungan akan jatuh pada Orang Tua istri (bila masih ada), anak, dan ahli waris lain yang masuk golongan ashabah bila almarhumah tak memiliki anak lelaki. Siapa para Ashabah? Bisa jadi saudara laki-laki almarhum, keponakan lelaki atau paman atau sepupu lelaki almarhum (sesuai hierarki kewarisan Islam). 

Jadi memiliki Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa adalah salah satu cara membuat "keberlangsungan hidup" orang yang ditinggal tetap terjaga.

Itu mengapa namanya bukan LIVE insurance, namun LIFE insurance. Karena Live adalah hidup atau nyawa., sedangkan LIFE adalah keberlangsungan kehidupan.


**) Turut berduka cita untuk korban kecelakaan pesawat Sriwijaya Air. Semoga yang ditinggalkan ikhlas.

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut. Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda. Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kredi