Skip to main content

HOSPITAL INCOME, apa lagi itu ?

Salah satu topik yang sedang hangat dibicarakan adalah "kondisi" BPJS Kesehatan.  Ini adalah lembaga bentukan pemerintah yang mengelola layanan -semacam- asuransi kesehatan bagi masyarakat umum.  Ini sebenarnya adalah bagian dari cita-cita sebuah negara (yang baik) dalam memberikan pelayanan kesehatan yang baik untuk rakyatnya.  Namun, kondisi negeri belum memungkinkan semua peserta dibebaskan dari biaya (baca : premi), sehingga ada 3 jenjang kepesertaan : bersubsidi penuh, disubsidi sebagian dan mandiri.

Data yang saya kutip dari detik.com (http://finance.detik.com/read/2015/02/17/130544/2835393/5/klaim-melonjak-iuran-bpjs-diusulkan-naik-43-jadi-rp-27500-bulan ) mencatat pada tahun 2014 rasio klaim BPJS Kesehatan mencapai 103,88 %.  Artinya jumlah klaim lebih besar daripada jumlah premi yang diterima dari peserta.  Tahun 2015 kinerjanya masih belum berubah, artinya BPJS masih menanggung beban yang cukp berat.

Hal ini -salah satunya - mengakibatkan pasien yang menggunakan BPJS Kesehatan di beberapa Faskes merasa kurang mendapatkan pelayanan yang "baik".  Hal ini sering kita baca di media, sehingga "beberapa" peserta BPJS Kesehatan yang tetap saja mengeluarkan uang tunai untuk membayar pelayanan kesehatan yang diterimanya.

Lalu, bagaimana bila itu terjadi pada kita?  Sudah memiliki BPJS Kesehatan, ternyata saat (harus) masuk Rumah Sakit, kamar untuk kelas kita tak tersedia yang membuat kita harus mengambil kelas yang lebih tinggi (artinya harus membayar biaya tambahan ?).  Artinya pelu dana tunai tambahan untuk membayar kelebihan biaya itu.

Atau bagaimana juga halnya bila salah satu anggota keluarga kita sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit.  Biaya perawatan di Rumah Sakit sudah ditanggung oleh asuransi, tapi bagaimana dengan anggota keluarga yang menunggu?  Tentu perlu biaya untuk mondar-mandir ke RS, bahkan kadang ada yang sampai harus menyewa Apartemen yang dekat RS agar mudah kalau terjadi apa-apa.  Semua perlu dana tunai tambahan.

Nah, solusi atas itu semua adalah produk Asuransi Hospital Income.  Produk ini pada dasarnya adalah produk Santunan Tunai, yang diberikan dengan sistem "reimbursement" dan bisa "double claim" baik dengan produk sejenis maupun asuransi kesehatan umumnya dari produk asuransi (perusahaan) lain.

Jadi katakan saat ini anda menjadi peserta BPJS kesehatan, terpaksa harus dirawat di RS selama 5 hari dan semua biaya sudah di-cover BPJS, anda tetap bisa klaim 5 x jumlah nilai tunai Hospital Income yang anda pilih (mulai Rp 300ribu hingga 1 juta per hari).

Preminya mahal atau murah?  Premi dari produk Asuransi ini sangat terjangkau, berkisar mulai Rp 7.500,- per hari.  pembayaran bisa dilakukan mulai dengan bulanan, triwulanan, semester hingga tahunan.  Sangat terjangkau dengan manfaat yang sangat besar.

Ingin tahu lebih banyak soal manfaat Program Hospital Income ini?  Bisa kontak saya di 081286835759.
 

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya. BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan. Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya. Membaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI. Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati. Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar. Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/) 1. Sepasang bola mata: U

TIDAK AKAN HANGUS

"Mas, kalau misalnya suami istri berada dalam satu pesawat yang jatuh; dimana Suami memiliki asuransi jiwa, dengan dia sebagai Pemegang Polis dan Tertanggung serta Istri sebagai (Yang Ditunjuk sebagai) Penerima Manfaat : apakah manfaat asuransinya hangus?", Demikian DM pertama yang masuk melalui messenger saya semalam. Disusul DM kedua dan puluhan DM lainnya, yang menanyakan apakah dalam kondisi seperti di atas, Perusahaan Asuransi akan tetap membayarkan manfaat Uang Pertanggungan, mengingat yang -tadinya- ditunjuk sebagai Penerima Manfaat juga ikut meninggal. Saya jawab ",Manfaat Uang Pertanggungan TIDAK akan hangus, tidak akan dikuasai perusahaan asuransi, dan tidak akan dikuasai oleh negara".  Lalu uang pertanggungan akan "jatuh" pada siapa?  Untuk mengingatkan kembali -pada saat pembuatan Kontrak Pertanggungan Asuransi Jiwa - penunjukkan Penerima Manfaat Uang Pertanggungan Asuransi Jiwa tidak diatur berdasarkan Hubungan Waris. Dia diatur berdasar Hubun

PAILIT dan BANGKRUT

Saya tulis artikel ini, karena banyaknya pertanyaan dari nasabah saya terkait RENCANA dua orang mantan agen perusahaan asuransi tempat saya bekerjasama untuk mengajukan gugatan pailit melalui mekanisme PKPU sesuai UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Banyak nasabah bingung dan takut ini berpengaruh pada uang program asuransi (terutama yang terkait produk unit link, karena ada investasinya) yang dipercayakan pada perusahaan tersebut. Secara keuangan -sejauh ini - perusahaan tersebut tak ada masalah. Kinerja masih baik-baik saja, jauh dari kata bangkrut. Karena BANGKRUT dan PAILIT adalah dua hal yang berbeda. Begini kira-kira ceritanya : Pailit diatur dalam UU Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang ( PKPU). Menurut UU tersebut, sebuah perusahaan dinyatakan pailit ketika ada debitur (pihak yang perusahaan yang memiliki hutang), dinyatakan tidak membayar hutang yang jatuh tempo dari dua atau lebih kredi