Skip to main content

Hong Kong : Perjalanan Apa Adanya

Tenang, saya tahu anda bosan melihat seminggu ini saya upload foto jalan-jalan saya ke Hong Kong. Nggak usah panas hati, saya mau bagi kiatnya bisa sampai ke Hong Kong dengan Langsung, Umum, Bebas dan dan Rahasia. Kok seperti slogan Pemilu ya...
 
Perjalanan ini adalah perjalanan yang memang sudah kami rencanakan sebelumnya. Seperti tahun lalu, kami berempat “ngubek” Thailand; sepulang dari Thailand kami ingin sebuah perjalanan yang lebih “adventurous”...entah apa itu artinya. Tadinya tujuan kami Korea Selatan. Tapi karena satu dan lain hal, terpaksa kami “detour”, Insya Allah tahun depan semoga kami semua panjang umur. Setelah melakukan riset (taela...) akhirnya kami berempat (saya, Ocha , Alifa dan Diva) memutuskan mau “ngoprek” Hong Kong dan Macau. 
 
Terus terang, ini adalah kali kedua saya ke Hong Kong (pertama tahun 2013), dan juga buat Ocha dan Alifa (2012). Tapi karena dulu kami ikut tour (acara kantor), boleh dibilang kami nggak dapat apa-apa dan nggak ngerti apa-apa. Maka bulat seperti telor tekad kami mengulang petualangan ke Hong Kong dan Macau.
 
Hal pertama yang kami lakukan adalah “searching” tiket. Tiket pesawat tentu saja. Setelah lumayan kekumpul uang, tiga bulan sebelum berangkat kami mulai rajin ngintip traveloka. Sengaja kami nggak memilih bujet airlines, karena ini perjalanan lumayan panjang, Naik bujet airlines, biasanya transit dan itu cukup menguras stamina. Tiket normal (kelas Garuda atau Cathay Pasific-CX direct flight) sekitar Rp 8 jutaan per orang, pulang-pergi, mahal banget untuk ukuran kami. Tapi itulah benar kata pepatah, rajin pangkal kaya, kami akhirnya nemu tiket promo CX dengan harga tak sampai separo harga normal. Serius, dibawah Rp 4 juta/orang-pulang pergi, lebih murah dari tiket Lion Air ke Padang saat musim Lebaran. Malam itu, setelah tujuh hari-tujuh malam mantengin traveloka, kami sabet itu tiket. Beres. Diantara dua pilihan jadwal terbang (berangkat pkl 00.00 atau 05.00), kami pilih yang berangkat pukul 05.00
 
Mungkin karena penerbangan promo, kami mendapat jadwal penerbangan non mainstream banget. Bahkan toko-toko di Terminal 2 masih pada tutup saat kami mulai check ini. Mata juga masih kriyep kurang tidur. Tapi semangat sudah membara. Singkat cerita penerbangan 5 jam ke Hong Kong pakai CX mulus adanya. Kami mendarat di Hong Kong International Airport (HKIA) pukul 11.00 waktu setempat (atau pkl 10.00 WIB). 
 
Sekeluar dari imigrasi dan mengambil bagasi, kami bergegas menuju konter penjualan kartu Octopus. Ini adalah kartu yang bisa dipakai untuk melakukan pembayaran semua moda transportasi di Hong Kong (kereta/MTR, bus, Ferry) dan bisa juga dipakai jajan di Sevel atau Circle K. Masing-masing kami isi kartu 500 HKD (50 HKD deposit kartu, 450 HKD yang bisa dipakai). Oya kurs 1 HKD setara Rp 1.700-an. 
 
Tadinya kami mau cari SIMCard di Sevel Terminal 1 Kedatangan HKIA, tapi eh tiba-tiba ada dua orang ibu-ibu (mungkin melihat “wajah TKI” kami) menghampiri dan menawarkan -dalam bahasa Indonesia- kartu TELKOMSEL Hongkong. Serius, di kemasannya tertulis TELIN-TELKOMSEL. Harganya cuma 50 HKD sudah diaktivasi, sudah ada pulsa yang bisa dipakai telponan dan internetan. Beneran, selama 5 hari komunikasi dan upload lancar karena SIMcard ini. Rejeki anak pak Suwito (karena nama ayah saya Suwito, bukan Sholeh).
 
Setelah menerima kartu Octopus, kami bergegas ke HKIA Bus Terminus alias terminal bis yang ada di kompleks bandara, cuma paling jalan 50 meteran lah. Nggak jauh. Kami mau naik bis nomor A21 jurusan HKIA - Stasiun Hung Hom menuju hotel eh...kekerenan, penginapan tempat kami melepas lelah dan dahaga. Fiuuuhh... Bis ini melewati daerah Tsim Sha Shui tempat penginapan kami berada, pokoknya turun di halte ke 14 setelah 45 menit perjalanan. Dan edan bener, perjalanan pas 45 menit saat kami turun di halte ke 14 (halte Middle Nathan Road).
 
Oya, penginapan juga sudah kami pesan jauh-jauh hari. Setelah pasti dapat tiket, kami langsung pesan penginapan untuk 4 malam. Setelah riset (wuidih, riseeet...) kami memilih tinggal di Canada Hotel, Chung King Mansion di Nathan Road. Ini sebenarnya guest house, tapi tersertifikasi bintang dua dari pemerintah Hong Kong. Ada sertifikat tertempel di setiap pintu kamar, keren ya... Kami memutuskan Canada Hotel setelah googling, ngubek traveloka dan liat rekomendasi di Trip Advisor. Harga kamar per malamnya di bawah harga kamar standar di Amaris Jabodetabek. Serius. Walaupun kamar sempit, tapi bersih terus dan kamar mandinyapun sudah ada air panasnya. Cukup lah, toh kami sewa kamar bukan buat tidur seharian, cuma buat titip baju dan raga saat lelah malam hari ....lebay.
HARI PERTAMA. Kami sampai di hotel, hari pertama itu, pukul 14.00 langsung check in. Pukul 15.00 kami keluar kamar dan mulai menuju Mesjid Kowloon untuk sholat Lohor dan Ashar. 
 
Lokasinya di Kowloon Park, kurang lebih 150 meter dari Penginapan. Setelah shalat, kami ngubek Kowloon Park dan Avenue of the Comics Star. Di daerah Kowloon banyak restoran yang menyajikan masakan halal, karena banyak ditemui komunitas muslim di sini. Saat kami sholat malah lagi ada pengajian. Seru juga. Jauh dari apa yang dikatakan orang-orang (yang belum pernah ke Hong Kong) bahwa kami akan kesulitan sholat dan mencari makanan halal. 
 
Dari Kowloon Park kami naik bis nomor 1 menuju Star Ferry Pier menuju Central. Kami ingin lihat kantor AIA di Central. Dari Kowloon Park sampai Star Ferry Pier cuma 3 halte, dan kami langsung menuju pelabuhan...bayar pakai Octopus cuma 2.5 HKD, naik Ferry sekitar 15 menit, sampailah kami di Central Ferry Pier. Oya, kalau malas naik Ferry, ke Central bisa juga dicapai pakai bis kota atau MTR. Manasuka siaran niaga...eh, mana suka anda saja.
 
Sampai maghrib kami ngubek kawasan Central, yang ada pusat perbelanjaan, stasiun MTR, terminal bus dan...ada keramaian semacam pasar malam yang diadakan oleh AIA Financial : namanya AIA European Carnival. Gratis pula. Nggak tahan sampai malam karena angin kencang dan dingin (sekitar 12-13 derajat celcius).
 
HARI KEDUA. Hari kedua waktunya eksplorasi Macau. Dari hotel, eh penginapan, kami sudah kabur pukul 07.00 waktu setempat, kami cukup jalan kaki ke Kowloon Ferry Terminal, naik kapal “Turbojet” di sebelah mall Harbour Bay. Kira-kira satu kilometeran lah dari penginapan. Setelah beli tiket (164 HKD sekali jalan), kami langsung masuk proses imigrasi. Oya, masuk dan keluar Hongkong tidak model pakai paspor di cap, tapi pakai print out, kertas kecil. Kapal Turbojetnya keren, bersih, nyaman serasa di pesawat. Nggak usah takut mabok laut, karena serasa kita lagi duduk di kasur air kok. Perjalanan ke Macau perlu waktu sekitar 55 menit. Sampai di terminal Ferry Macau, sesuai petunjuk para suhu di google, kami langsung menuju Terminal bis di seberang (lewat bawah tanah) dan cari shuttle bis gratisan.
 
Bermodal peta, tujuan kami pertama adalah The Venetian Hotel dan Casino. Bukan buat ke Casino pasti, mau pake apa judinya, lha keliling aja pakai shuttle gratisan. Di Venetian ini ada mall indoor yang suasanya dan kondisinya dibuat seperti outdoor seolah kita berasa di Venesia-Italia. Termasuk atapnya dilukis sedemikian rupa mirip banget sama langit. Dari Terminal Ferry ke Venetian Hotel tinggal naik shuttle bis Venetian (warna biru, ada tulisannya gede : Venetia) gratis. Puas foto-foto (doang), kami naik shuttle lagi ke Terminal Ferry dan menuju Hotel Wynn di pusat kota Macau. Pindah bis, pakai bis shuttle warna Merah, shuttle-nya hotel Wynn. Gratis lagi. Di depan hotel Wynn ada air mancur menari, seru. Lalu kami menyeberang melewati Jarden de Artes (Taman Umum) menuju Largo de Senado (alun-alun) melewati hotel Lisboa dan Grand Lisboa (yang bentuknya kayak trophy raksasa). 
 
Largo do Senado adalah semacam alun-alun. Dari hotel Lisboa jalan kaki cukup lumayan (buktinya, sepatu saya sampai mangap bagian depannya), tapi tak terasa jauh karena kita berbondong bersama ratusan turis lainnya. You Are not Walking Alone ... dari Largo de Senado biasanya orang-orang meneruskan jalan ke Ruin of St Paul. Reruntuhan gereja st Paul. Namun itu bukan tujuan saya. Saya sengaja ngiterin reruntuhan gereja itu, ke arah belakang yang tidak ada turis foto-foto, di situ ada kuil tua -namanya kuil Na Tcha- dan pagar tembok raksasa yang di belakang tembok itu adalah perkampungan orang Cina asli Macau. Rumah-rumahnya masih jadul banget...vintage ding. Jarang turis eksplor kesini karena mereka umumnya lebih seneng foto di Ruin of St Paul. Buat saya itu terlalu mainstream.
 
Dari situ kami lapar, dan tak jauh dari Ruin of St Paul 9di bawah dikit) ada orang Indonesia jual makanan kayak steamboat gitu, celup-celupan. Kami makan cemilan dan snack seadanya disitu, karena takut tidak halal. Lumayan buat ganjal perut saat suhu 12 derajat celcius gini.
Puas eksplorasi daerah itu, yang banyak “World Heritage Site”, kami balik lagi ke hotel Wynn, cari tumpangan gratis ke Terminal Ferry. Modalnya cuma Peta, sama bahasa Inggris seadanya, pukul 17.00 waktu Macau kami sudah ada di Ferry balik ke Hong Kong. Praktis kami tak mengeluarkan ongkos lokal di Macau, satu peserpun. Modal otot kaki aja.
 
HARI KETIGA. Waktunya untuk anak-anak. Seperti kemarin, pukul 07 kami sudah nongkrong di stasiun MTR. Jadwal ke Ngong Ping Village (naik cable car) dan Disneyland Hong Kong. Untuk mencapai dua tempat itu (kebetulan berdekatan, di sekitar pulau Lantau), kita musti naik MTR jalur Kuning menuju stasiun MTR Tung Chung. Artinya kami harus ganti MTR, karena MTR yang melewati statsiun Tsim Sha Shui adalah jalur merah. Pilihan kami adalah naik MTR ke Central dan pindah di Statsiun Hong Kong, atau naik ke statsiun Lai King dan pindah MTR kuning disitu. Karena waktu itu adalah hari kerja, dimana jam segitu orang bergegas menuju kantor -yang kebanyakan- ada di wilayah Central, MTR ke Central penuh banget. Kami putuskan naik jalur merah, melawan arus, menuju Lai King dan pindah jalur kuning di Lai King. Sampai ke statsiun terakhir : Tung Chung.
Keluar di statsiun Tung Chung kami disambut mall yang gede banget : Citygate Outlet, tapi kami bablas menuju stasiun Cable car, naik kereta kabel yang “thrilling” banget selama 40 menitan dalam cuaca dingin dan kabut menuju Ngong Ping Village. Naik cable car harga tiketnya 130 HKD sekali jalan. Lumayan. Sampailah kami di Ngong Ping Village, foto-foto, ngeliat patung Budha dan turun lagi ke Tung Chung. Untuk menghemat, turun dari Ngong Ping kami nggak naik cable car lagi tapi naik bis kota, cuma 23 HKD per orang sampai ke Tung Chung. Terminalnya dekat dari area wisatanya, nggak sampai 50 meter.
 
Tujuan selanjutnya : Disneyland. Ini aspirasi anak-anak. Tiketnya mahal booo... 515 HKD per orang (itu juga nyari diskonan di penginapan, aslinya 550 HKD). Dari Tung Chung kami transit di stasiun Sunny Bay dan naik kereta Disney, warnanya pink dan jendelanya bentuk kepala Mickey Mouse. sampai di Disneyland pukul 2 siang. Ya, kalau saya sih bilang Disney Land mirip Dufan tapi jauh lebih gede, anak-anak sih seneng...saya senep. Tapi, buat apa sih kita capek-capek cari duit kalau nggak buat nyenening anak....jleb banget.
 
Keluar dari Disneyland sudah jam 7 malam, kami langsung pulang. Turun dari MTR di Tshim Sha Shui, keluar pintu A1 samping Kowloon Park langsung melahap Nasi Briyani di Warung Pakistani dekat situ. Murah, merah, halal....Assalamu’alaikum, Ahlan Wa Sahlan.
HARI KEEMPAT. Hari ini eksplorasi Hong Kong, sambil memenuhi aspirasi Menteri Keuangan untuk belanja, sepukul dua pukul. Pagi pukul 8, kita sudah naik MTR lagi dari seberang penginapan menuju Central. Dan kami naik bis tingkat no 15 menuju The Peak. Puncak tertinggi Hong Kong (katanya ...). Naik bis dari seberang gedung IFC One, itu terminal pemberangkatan, jadi sebagai orang kampung yang norak, kami pilih duduk di atas paling depan ! Bis ini melawati banyak sekali perhentian, nyaris keliling Hong Kong hingga sampai di perhentian terakhir : The Peak Galleria. Pilihan ke The Peak bisa naik Trem, tapi muaahhhhal mas... naik bis lebih enak. Karena murah. Di sini ada Madame Tussaud, toko souvenir-souvenir murah dan tentu saja : Hard Rock merchandise outlet. Di sini kami nggak lama, cuma foto, beli suvenir, beli kaos Hard Rock, numpang ngopi di Pacific Coffee (supaya boleh duduk, sebenernya ....) dan balik lagi ke “bawah”.
 
Sesampai di Central, kami jalan kaki lewat jalan bawah tanah (yang mirip mall ketimbang underpass) menuju Statsiun Hong Kong, naik MTR jalur kuning balik lagi ke Tung Chung. Menteri Keuangan mau ngabisin duit di Citygate Outlet yang lagi “sale” gede-gedean. Ya, di Hong Kong semua toko lagi “mbuang” stok barang musim dingin (karena musim dingin udah mau selesai). Diskonnya gila-gilaan, tinggal iman dan dompetnya kuat apa enggak. tapi Alhamdulillah, kami diberi kekuatan iman ... tapi dompetnya yang enggak kuat. Oya, dari stasiun MTR Tung Chung ke Citygate cuma sepelemparan upil kok...deket banget. Satu kompleks.
 
Di Citygate, semua adalah outlet branded, tapi lagi “sale” gede-gedean. Surga lah pokoknya (buat istri saya, buat saya sih ...neraka). Di situ kami kelaparan, dan untungnya ada Food Court yang gedenya setara Kokas ...lebay dikit), namanya Food Republic. Kalau di Jakarta harga makanan di FoodCourt mall -biasanya- lebih mahal dari food stall pinggir jalan, di sini sebaliknya. Kami sengaja cari menu yang “aman” macam mie seafood atau nasi goreng seafood, porsinya buseeeet...gede banget, dan harganya 75% lebih murah ketimbang di warung Pakistani di Kowloon tempat kami biasa makan. Recommended lah buat backpacker, sekali makan dua hari kenyang !
 
Belanja sudah selesai? belum. Dari Tung Chung kami menuju Lai King dan pindah MTR merah menuju Mong Kok. Kabarnya, di situ ada “Sneaker Street”, jalan yang di pinggirnya berderet toko jualan “sneaker” alias sepatu sport dan casual. Harganya... miring abis, dibanding kita beli di Sport Station lah. Walhasil, anak-anak beli sepatu branded, murah abis...karena semua toko mau ngabisin stok model lama. Saran saya, mampirlah ke Sneaker Street kalau nggak punya sepatu. Malu-maluin, itu jempol aib banget kalau pakai sandal jepit melulu. Dari situ, lewat Ladies Market, nggak banyak yang dibeli, karena kebanyakan barangnya imitasi. Murah sih, tapi nggak level....taela (padahal duit udah habis). Dan pulang ke Penginapan. Mereka Puas, saya Lemas !
 
HARI KELIMA. Ini adalah hari terakhir, penerbangan kami pukul 00.00 tengah malam, sedangkan pukul 11 siang kami harus sudah check out. Mosok mau keliling kota nunggu penerbangan bawa-bawa koper. Dititip di hotel agak repot, karena kami musti balik lagi. Akhirnya setelah tanya kiri kanan via mbah Gugel, pagi-pagi pukul 08.00 kami sudah check out dari hotel dan menuju in-town check ini di Statsiun MTR Hong Kong. Ini adalah miniatur bandara, dimana kita bisa early check ini (artinya langsung dapat boarding pass) plus masukin bagasi...yeeeyyyy, bagasi sudah masuk langsung ke airport.
 
Maka, kami lanjutkan eksplorasi naik MTR biru kami ke Causeway bay. Turun di stasiun MTR Causeway bay, kami nyoba naik trem...kereta listrik jadul dan turun pas di sebelah Victoria Park. Itu hari minggu, katanya Victoria Park ramai sama TKW. dalam bayangan saya, TKW itu kumuh, lusuh...ternyata saya kecele. Sejak dari Causeway Bay, sudah berbondong wanita-wanita modis, rata-rata berjilbab keren, wangi dan berbahasa....JAWA ! saya serasa sedang berada di Wonogiri atau Sragen. Mereka janjian, berkumpul, ada yang sekedar makan-makang bareng, ada yang pengajian dan ada pula yang jualan makanan khas Indonesia. Di Dekat Victoria Park ada warung yang menjual aneka keperluan khas Indonesia, termasuk makanan. Namanya Indo Market. Recomended buat yang kangen makan nasi rendang atau baso urat... komplit.
 
Di Victoria Park, kami ngobrol dengan beberapa TKI yang ada di sana. Seru mendengar cerita mereka, sekaligus terharu. Perjuangan kami di Bogor yang kayaknya sudah mengharu biru, ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan perjuangan mereka.
 
Dari Victoria Park, kami jalan kaki lagi ke Stasiun MTR Causeway Bay dan nyebrang di depan Hysan Place. Kami naik bus tingkat no 65 menuju Stanley (Weekend) Market. Stanley Market ini terletak di kawasan hunian para ekspatriat, bule-bule, jadilah kami ketemu teman-teman kami di sana. Di bawah Stanley Plaza ada pantai yang keren, namanya Stanley Promenade mirip kayak Jl Legian di Kuta atau Boulevard Pattaya di Thailand. Dan dekat situ ada Weekend Market alias Pasar kaget. Aneka rupa barang dijual, ada suvenir sampai pakaian “Layak Pakai”. Dan toko yang paling ramai didatangi adalah toko pakaian “Layak Pakai” (baca : bekas), karena disini dijual aneka rupa jas, jaket, coat (bekas) BRANDED, masih bagus dengan harga cuma 10% dari harga di toko. Silakan kalap di sini. Sayang karena koper sudah masuk ke bandara, kami tak bisa beli lagi, maklum coat atau jaketnya tebal-tebal. Setelah puas foto-foto, beli suvenir secukupnya, kami balik lagi naik bis 65 dari depan Stanley Plaza, jalan sekitar 25 meter, tujuannya Stasiun MTR Hong Kong.
 
Sesampai ke Stasiun MTR Hong Kong, kami naik Airport Link Express (kereta cepat ke Airport) yang rada mahal: 90 HKD per orang. Tadinya kami mau naik bis A21 lagi, cuma 33 HKD, tapi rupanya saat kami masuk in-town check ini, saat nge-tap, kartu Octopus kami langsung terdebet 90 HKD untuk naik Airport Link Express. Jadi mau nggak mau kami pakai Airport Link Express, langsung menuju jalur keberangkatan Terminal 1 HKIA yang ditempuh hanya dalam 30 menit saja. Begitu keluar dari kereta, kami langsung disambut konter “refund” Octopus. Lumayan, masih ada sisa karena 50HKD jaminan kartu dikembalikan (setelah dipotong biaya 9 HKD). Masih bisa makan di bandara, nggak jadi puasa.
 
Kami masuk ruang tunggu pukul 7 malam, dan menunggu penerbangan pukul 00.00. Bisa tiduran di ruang tunggu bandara yang perjalanan dari pemeriksaan imigrasi ke gate 63 (tempat kami naik) perlu waktu sekitar 30 menit...saking luasnya. Jadi pas pukul 00.00 pesawat take off, pukul 4 pagi WIB, CX752 yang membawa kami mulus (banget) mendarat di Soetta. Pukul 06.30 kami sudah meneruskan tidur di kamar rumah kami di Bogor.
 
Serasa mimpi.

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…

WARISAN ITU BERKAH ATAU MASALAH ?

Sebut saja namanya Fulan. Orangtua Fulan kaya raya, pengusaha suplai besi untuk beton dan pekerjaan sejenisnya. Jelas, hartanya banyak termasuk sebuah rumah megah dua lantai di sebuah Perumahan elit di Semarang. Nilai taksirannya -kata Fulan- sekitar Rp 1.5 miliar. Rumah senilai segitu di Semarang, jelas lumayan elit.

Hingga cerita ini dimulai. Alkisah orang tua Fulan meninggal dunia, meninggalkan usaha (yang belakangan Fulan tak bisa mengelola dan meneruskannya, karena tak pernah terlibat di dalamnya), dan rumah mewah itu. Karena tak lagi meneruskan usaha, membiayai rumah sebesar itu tentu menjadi beban berat bagi Fulan. Tagihan listrik bengkak luar biasa (hampir diputus) dan Fulan memutuskan untuk menjual rumah, dengan putus asa.

Persoalan timbul saat akan menjual rumah "mahal" itu adalah adanya biaya-biaya yang timbul, proses notaris, pajak jual beli, balik nama sertifikat, dan biaya lain Rumah senilai Rp 1.5 miliar butuh biaya untuk proses jual bel…