Skip to main content

BAHAGIA itu SEDERHANA

BAHAGIA ITU SEDERHANA. Saya dan istri bukan orang kaya, bukan juga keturunan orang kaya. Saya hanya berdagang kopi, dan belakangan ikut bersama istri saya menjadi agen asuransi. Ya, Agen Asuransi, profesi yang saat kita membagi kartu nama kepada teman saja, membuat mereka takut dihubungi. Takut ditawari asuransi. Jadi profesi ini semacam zombie atau genderuwo yang patut ditakuti.

Jelas, kami tak berkelebihan harta, tapi kami yakin, kami berkelebihan syukur.

Setiap tahun kami mudik, bergantian ke Barat dan ke Timur. Semacam wajib saja. Sederhana karena kami masih memiliki orang tua. Orang tua yang sudah susah payah menjadikan kami seperti sekarang ini, yang saking jauhnya, sungguh sulit buat kami untuk bertemu. Kami datang, dua tahun sekali, untuk menuntaskan rindu. Sesederhana itu.

Jelas, sebagai agen asuransi kami tak bergaji dan tak ber THR, justru -tanpa beniat sombong atau riya- kami memiliki kewajiban membayar THR orang2 yang sudah ikut kami. Hidup kami selalu berada di ambang ketidakpastian. Tapi kami bersyukur Tuhan memberi lebih dari sekedar uang, tapi juga akal sehat serta waktu yang berlimpah untuk anak-anak kami.

Kalau anda berkunjung ke rumah kami, pasti anda semua akan merasa lega, bukan karena luasnya tapi karena di rumah tak ada perabotannya. Kami berfikir perabotan tak akan menjamin anak-anak kami saat nanti dewasa. Kami hanya melakukan pekerjaan berjualan sekeras dan sebisa kami, dengan ketidakpastian pendapatan namun dengan jaminan Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang.

Karena ketidakpastian itu yang selalu membuat kami yakin Tuhan itu ada.

Tahun ini kami ke Padang, nyetir sendiri pakai Mobil. Itu yang kami miliki dan itu yang kami syukuri. Naik pesawat? Untuk pesawatnya saja barangkali sudah makan biaya hampir 20 juta. Kalau kami fokus harus naik pesawat, bisa batal total mudik kami. Dengan mobil kami habis, benar-benar, kurang dari setengahnya. ALL IN.

Enak dong punya mobil? Helooo, saya sudah puluhan tahun kerja, mosok punya mobil saja masih tak pantas? Biasa saja kaleee.
Enak dong punya duit buat mudik? Heloooo setahun kemarin ngapain. Ya punya duit karena kerja, jualan, bantu orang, nabung. Kalau kerja hasilnya nggak bisa ditabung pasti ada yang keliru.
Enak dong punya waktu? Heloo, itu soal pilihan. Apa enaknya jadi orang yang selalu bergantung pada pengaturan orang lain. Kerja gajinya jumbo, tapi libur saja susah.

Ya kami punya waktu, karena kami bekerja untuk diri kami sendiri.Hidup itu soal pilihan.

Pergi Ke Padang naik mobil sendiri pasti capek, gila aja, sekali jalan 1443 km. Tapi apa artinya capek untuk ketemu orang tua. Kami senang saja melakukannya. Karena kami orang "bebas waktu" maka kami berangkat jauh hari sebelum teman2 kantoran kami berangkat. Zonder macet, irit bensin, irit tenaga.

Perjalanan sejauh itu kami tempuh dengan santai, kami menginap di beberapa kota dan seperti biasa melakukan beberapa eksplorasi di kota asing itu. Begitu saja di sepanjang perjalanan, kami berhenti di sawah, sungai, pasar.

Kami tak ingin, anak-anak kami hanya pintar di nilai sekolah saja : tapi tak tahu apa apa soal dunia. Genius tapi bodoh. Jangankan keluar negeri, keliling negeri sendiri saja tak bisa. Padahal duitnya banyak. Tanpa berniat sombong dan riya lagi, anak-anak kami sudah mengisi paspornya dengan cap imigrasi dari beberapa negara. Walaupun orangtuanya hanya berdagang kopi dan Sales Asuransi

Perjalanan di waktu "non mainstream" selalu menguntungkan. Setiap tahun kami beruntung bisa menikmati menginap di hotel bagus dengan tarif rendah, karena promo. Ya, umumnya hotel bintang tiga hingga lima selalu "banting harga" saat bulan ramadhan. Bahkan tahun lalu kami bisa keliling Yogyakarta menginap di hotel bintang lima : gratis. Ya, gratis. Karena kebetulan beberapa bulan sebelumnya saya mengisi sesi seminar untuk kantor perwakilan sebuah harian ibukota, saya minta tidak dibayar dengan uang. Tapi voucher hotel saja.

Lalu, bagaimana saya bisa ragu kalau Tuhan itu Maha Penyayang?

Jadi, bukan monopoli orang kaya yang uangnya bertimbun di rekening saja untuk bisa bahagia. Bahagia itu sederhana.Sungguh tersiksa bila kita terus disandera oleh apa yang kita bayangkan kita bisa punya, namun sesungguhnya kita belum miliki.

Bahagia itu bisa didapat dengan cara yang sederhana : Fokuslah Pada Apa yang Telah Kita Punya.

Salam dari Nagari Minang, sepotong kecil yang indah dari Indonesia.

Photo: BAHAGIA ITU SEDERHANA.  Saya dan istri bukan orang kaya, bukan juga keturunan orang kaya.  Saya hanya berdagang kopi, dan belakangan ikut bersama istri saya menjadi agen asuransi.  Ya, Agen Asuransi, profesi yang saat kita membagi kartu nama kepada teman saja, membuat mereka takut dihubungi.    Takut ditawari asuransi.  Jadi profesi ini semacam zombie atau genderuwo yang patut ditakuti. 

Jelas, kami tak berkelebihan harta, tapi kami yakin, kami berkelebihan syukur.

Setiap tahun kami mudik, bergantian ke Barat dan ke Timur.  Semacam wajib saja.  Sederhana karena kami masih memiliki orang tua.  Orang tua yang sudah susah payah menjadikan kami seperti sekarang ini, yang saking jauhnya, sungguh sulit buat kami untuk bertemu.  Kami datang, dua tahun sekali, untuk menuntaskan rindu.  Sesederhana itu.

Jelas, sebagai agen asuransi kami tak bergaji dan tak ber THR, justru -tanpa beniat sombong atau riya- kami memiliki kewajiban membayar THR orang2 yang sudah ikut kami.   Hidup kami selalu berada di ambang ketidakpastian.  Tapi kami bersyukur Tuhan memberi lebih dari sekedar uang, tapi juga akal sehat serta waktu yang berlimpah untuk anak-anak kami.  

Kalau anda berkunjung ke rumah kami, pasti anda semua akan merasa lega, bukan karena luasnya tapi karena di rumah tak ada perabotannya.  Kami berfikir perabotan tak akan menjamin anak-anak kami saat nanti dewasa.  Kami hanya melakukan pekerjaan berjualan sekeras dan sebisa kami, dengan ketidakpastian pendapatan namun dengan jaminan Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang.

Karena ketidakpastian itu yang selalu membuat kami yakin Tuhan itu ada.

Tahun ini kami ke Padang, nyetir sendiri pakai Mobil.  Itu yang kami miliki dan itu yang kami syukuri.  Naik pesawat? Untuk pesawatnya saja barangkali sudah makan biaya hampir 20 juta.  Kalau kami fokus harus naik pesawat, bisa batal total mudik kami.    Dengan mobil kami habis, benar-benar, kurang dari setengahnya.  ALL IN. 

Enak dong punya mobil?  Helooo, saya sudah puluhan tahun kerja, mosok punya mobil saja masih tak pantas? Biasa saja kaleee.  
Enak dong punya duit buat mudik? Heloooo setahun kemarin ngapain.  Ya punya duit karena kerja, jualan, bantu orang, nabung.  Kalau kerja hasilnya nggak bisa ditabung pasti ada yang keliru. 
Enak dong punya waktu?  Heloo, itu soal pilihan.  Apa enaknya jadi orang yang selalu bergantung pada pengaturan orang lain. Kerja gajinya jumbo, tapi libur saja susah.  

Ya kami punya waktu, karena kami bekerja untuk diri kami sendiri.Hidup itu soal pilihan.

Pergi Ke Padang naik mobil sendiri pasti capek, gila aja, sekali jalan 1443 km. Tapi apa artinya capek untuk ketemu orang tua.  Kami senang saja melakukannya.  Karena kami orang "bebas waktu" maka kami berangkat jauh hari sebelum teman2 kantoran kami berangkat. Zonder macet, irit bensin, irit tenaga.  

Perjalanan sejauh itu kami tempuh dengan santai, kami menginap di beberapa kota dan seperti biasa melakukan beberapa eksplorasi di kota asing itu.  Begitu saja di sepanjang perjalanan, kami berhenti di sawah, sungai,  pasar.  

Kami tak ingin, anak-anak kami hanya pintar di nilai sekolah saja : tapi tak tahu apa apa soal dunia.   Genius tapi bodoh.  Jangankan keluar negeri, keliling negeri sendiri saja tak bisa.  Padahal duitnya banyak.  Tanpa berniat sombong dan riya lagi, anak-anak kami sudah mengisi paspornya dengan cap imigrasi dari beberapa negara.  Walaupun orangtuanya hanya berdagang kopi dan Sales Asuransi

Perjalanan di waktu "non mainstream" selalu menguntungkan.  Setiap tahun kami beruntung bisa menikmati menginap di hotel bagus dengan tarif rendah, karena promo.  Ya, umumnya hotel bintang tiga hingga lima selalu "banting harga" saat bulan ramadhan.  Bahkan tahun lalu kami bisa keliling Yogyakarta menginap di hotel bintang lima : gratis.  Ya, gratis.  Karena kebetulan beberapa bulan sebelumnya saya mengisi sesi seminar untuk kantor perwakilan sebuah harian ibukota, saya minta tidak dibayar dengan uang.  Tapi voucher hotel saja.  

Lalu, bagaimana saya bisa ragu kalau Tuhan itu Maha Penyayang?

Jadi, bukan monopoli orang kaya yang uangnya bertimbun di rekening saja untuk bisa bahagia.  Bahagia itu sederhana.Sungguh tersiksa bila kita terus disandera oleh apa yang kita bayangkan kita bisa punya, namun sesungguhnya kita belum miliki.   

Bahagia itu bisa didapat dengan cara yang sederhana : Fokuslah Pada Apa yang Telah Kita Punya.

Salam dari Nagari Minang, sepotong kecil yang indah dari Indonesia.

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

KAN SAYA MASIH HIDUP ...

“Harta, sebenarnya belum bisa dikatakan pembagian harta karena saya masih hidup. Tetapi saya tetap akan membagikan hak mereka masing-masing sesuai dengan peraturan agama,” ujar ibu Fariani. Ibu Fariani adalah seorang ibu dengan empat orang anak yang baru saja ditinggalkan suaminya Ipda Purnawirawan Matta. Almarhum meninggalkan harta waris berupa tanah, rumah dan mobil senilai Rp 15 Miliar. Pada bulan Maret 2017, ketiga anak ibu Fariani mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama Kota Baubau, Sulawesi Tenggara dengan nomor 163/ptg/ 2013/PA/2017, yang inti gugatannya : Meminta bagian mereka selaku ahli waris yang sah atas harta waris almarhum ayah mereka. Dunia makin aneh? Anak kurang ajar? Tidak. Banyak orang yang memiliki pendapat seperti ibu Fariani, sebagaimana yang saya kutip di paragraf pertama di atas. Pendapat yang KELIRU. Begitu seorang suami meninggal dunia, maka hartanya tidak serta merta menjadi miliki istri atau anak-anaknya. Harta itu berubah menjadi harta tak be…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…