Skip to main content

PEDULI bukan TIBA-TIBA PEDULI

Tadi pagi, seperti biasa, sambil menyeduh kopi saya sempatkan membaca beberapa kabar dari teman di situs jejaring sosial. Sebuah kisah tentang seorang tua penjual amplop di depan msjid Salman ITB menyeruak. Di zaman amplop menjadi komoditi yang terpinggirkan, beliau tetap setia menjualnya. Di zaman yang yang makin serakah dan tak punya hati nurani, beliau hanya setia pada keuntungan Rp 25,- per lembar amplop yang dijualnya. yang bahkan, bila amplopnya laku 100 lembar, keuntungannya tak cukup untuk membeli sebungkus nasi dari warteg.

Tapi kisah itu jauh, saya tak mengenal si Pak Tua, saya jarang lewat Masjid Salman, karena saya tinggal di Bogor. Dan, di dekat saya ada kisah serupa, saya temukan di kantor tempat saya "bantu-bantu" bikin kopi dan teh.

Ada pak Saman-sebut saja begitu. sudah 18 tahun bekerja di kantor ini. Sejak kantor ini belum ada kursi katanya. Tugasnya dulu membagi-bagikan koran promosi, hingga kini setelah 18 tahun posisinya tetap -kurang lebih- sama. Di antara pasang surut kantor ini, ketika tiba saat tak bergaji, dia berkeliling sepanjang kebayoran lama : menjajakan bubur ayam. Sang istri, tak jauh beda : hingga kini tekun menjual gorengan dan makanan kecil di sebuah SMP di kebayoran lama. Perjuangan yang luar biasa. Pak Saman tak mengeluh, dan bercerita bangga tentang anak-anaknya yang telah "mentas" dan bekerja semua. Sang anak pertama, kebanggan keluarga, kini sudah enam tahun ada di Papua, bekerja dan beranak pinak di sana. Cita-cita pak Saman dan sang istri : ingin segera bertemu sang anak dan menantu di Papua.

Lalu ada mas Basuki. Saya sebenarnya mengenalnya sudah lama, dari tahun 1995 kami sudah pernah bekerja bersama-sama. Penguasaannya di lapangan, membuatnya koran yang saya bantu ini masuk dengan mulus di lapangan. Tapi, mas Basuki masih belum bisa menikmati hasilnya. Setiap hari, dia bergantian dengan istrinya "mengojek". pagi dan Sore hari, saat anak-anak tetangga memerlukan ojek untuk berangkat dan pulang sekolah, sang istrilah yang bekerja. Sang istri membawa motor, mengantar jemput anak-anak tersebut. Tunggu dulu, sebelum itu, sejak lepas subuh, mereka berdua bahu-membahu membuat susu kedelai yang dijual pada tetangga dan kantin skolah anak mereka. Malam hari, selepas kerja di kantor, mas Basuki yang turun "beroperasi". Di daerah bekasi timur dia mangkal di pangkalan ojek, kadang hingga dini hari menunggu penumpang. Jangan bayangkan sabtu dan minggu mereka bisa piknik atau berbelanja. Itu semua mereka lakukan demi dua nak mereka yang mulai beranjak remaja. Tahun ini, si sulung akan masuk sebuah sekolah dengan sistem ikatan dinas di kota Bogor. Cita-cita harus setinggi langit.

pak Saman dan mas basuki adalah para pejuang sejati. Di saat tekanan hidup semakin keras, mereka tak memilih menyerah, mereka "melawan" dengan kerja ekstra keras dan usaha yang pantang berhenti. Mereka tak mau korupsi, atau manipulasi. Cita-cita mereka besar untuk anak-anak mereka.

Maka, sebagaimana pak Tua penjual amplop di depan masjid Salman ITB, patutlah saya salut pada mereka, perjuangan mereka mengisnpirasi saya.

Comments

Popular posts from this blog

Anda Mau Menjual Ginjal ?

Sudah dua tahun tak bertemu, seorang teman mengirimkan  "broadcast message" (BM) di perangkat Blackberry saya.  BM-nya agak mengerikan : dia mencari donor ginjal untuk saudaranya yang membutuhkan.  Soal harga -bila pendonor bermaksud "menjual" ginjalnya bisa dibicarakan dengannya.   

Mambaca BM itu, saya teringat kisah pak Dahlan Iskan dalam bukunya GANTI HATI.  Dengan jenaka beliau bercanda, bahwa kini dia memiliki 2 bintang seharga masing-masing 1 milyar, satu bintang yang biasa dia kendarai kemana-mana (logo mobil Mercedez) dan satu bintang jahitan di perutnya hasil operasi transplatasi hati.  Ya, hati pak Dahlan "diganti" dengan hati seorang anak muda dari Cina, kabarnya harganya 1 miliar.

Lalu, iseng-iseng saya browsing, dan ketemulah data ini, Data Harga organ tubuh manusia di pasar gelap  (kondisi sudah meninggal dibawah 10 jam, sumber :http://namakuddn.wordpress.com/2012/04/27/inilah-daftar-harga-organ-tubuh-manusia-di-pasar-gelap/)

1. Sepasang bo…

"TERTIPU" UNIT LINK? KOK BISA.

Terimakasih pada klien sekaligus sahabat saya Iqbal Mukmin yang mau berbagi cerita ini di wall-nya. Sekali lagi, ini kisah pahit seorang nasabah asuransi (maaf, sangaja saya blur nama pemilik cerita serta perusahaan asuransinya).

Saya pernah menulis tentang hal serupa yang pernah terjadi dalam artikel saya :
http://www.basriadhi.com/2016/05/asuransi-bukan-tabungan.htmlNamun, kisah ibu nasabah (yang saya capture ini) agak berbeda. Dan saya ingin mengupas, agar anda semua tak "kejeblos" di lubang yang sama. Sekaligus menjawab pertanyaan beberapa teman.

Patut diduga produk yang dibeli oleh ibu Nasabah ini adalah produk UNIT LINK, yaitu produk asuransi yang "menggabungkan" fitur asuransi/proteksi dengan investasi. Dan pada kasus di bawah, oknum agen memanfaatkan ketidaktahuan nasabah -terutama- soal fitur investasi dan biaya-biaya asuransi.

Sebagaimana yang saya tulis di artikel dalam link di atas, Asuransi bukanlah tabungan, walaupun itu produk Unit Link. Dari c…

WARISAN ITU BERKAH ATAU MASALAH ?

Sebut saja namanya Fulan. Orangtua Fulan kaya raya, pengusaha suplai besi untuk beton dan pekerjaan sejenisnya. Jelas, hartanya banyak termasuk sebuah rumah megah dua lantai di sebuah Perumahan elit di Semarang. Nilai taksirannya -kata Fulan- sekitar Rp 1.5 miliar. Rumah senilai segitu di Semarang, jelas lumayan elit.

Hingga cerita ini dimulai. Alkisah orang tua Fulan meninggal dunia, meninggalkan usaha (yang belakangan Fulan tak bisa mengelola dan meneruskannya, karena tak pernah terlibat di dalamnya), dan rumah mewah itu. Karena tak lagi meneruskan usaha, membiayai rumah sebesar itu tentu menjadi beban berat bagi Fulan. Tagihan listrik bengkak luar biasa (hampir diputus) dan Fulan memutuskan untuk menjual rumah, dengan putus asa.

Persoalan timbul saat akan menjual rumah "mahal" itu adalah adanya biaya-biaya yang timbul, proses notaris, pajak jual beli, balik nama sertifikat, dan biaya lain Rumah senilai Rp 1.5 miliar butuh biaya untuk proses jual bel…